Tatkala Setiap Bulan Selalu September

Mantan Anggota Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD)
Oleh Ostaf al Mustafa
HANYA di dua pemerintahan, serasa setiap bulan selalu September yakni Orba dan ‘rezim yang engkau pasti tahu’. Di era Soeharto, pernah muncul kredo ‘kiri itu seksi’. Saat itu umumnya sikap kritis akan berkuala menjadi tuduhan komunis atau paling sedikit sebagai Marxis. Untuk menghalau senokta debu pun anasir-anasir komunis, maka penataran P4 hingga menonton sebuah film monumental menjadi kewajiban dalam tuntunan dan tontonan. Sedangkan di ‘rezim yang engkau hidup sekarang’, justru orang di luar pemerintahan yang berada di garda depan kewaspadaan terhadap bahaya komunis yang tak laten lagi.
Meski masih di bulan ketujuh 2006, rasa September mulai terasa aromanya. Ketika itu, sosok-sosok yang berada di balik tabloid DeTIK dan DeTAK menebarkan sinisme terhadap figur ‘The Smiling General’. Gelanggang juang monumental Soeharto melawan kerawanan potensial komunis perlahan dianulir. Salah satunya dilakukan oleh seorang penulis skenario, sutradara, politikus, dan penulis lagu bersama kawan-kawan sejawatnya.
Menurut mereka, “hanya ada satu versi untuk melihat peristiwa itu, yakni film Pengkhianatan G-30-S PKI garapan Arifin C. Noer, sebuah rekonstruksi visual yang agaknya dicomot langsung dari kepala Soeharto, superhero satu-satunya dalam film tersebut.” (Eros Jarot dkk, Siapa Sebenarnya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G-30-S/PKI, mediakita, 2006:4). Sememangnya buku tersebut pada mulanya merupakan edisi 29 September-5 Oktober 1998 tabloid DeTAK mengenang peristiwa G-30-S/PKI.
Kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998, selanjutnya menjadi bulan-bulan kobaran untuk semakin membuat pembenaran pada ulah tokoh-tokoh komunis. Setelah kerobohan Orba, maka bulan 6, 7, 8, 9, 10, 11, dan 12 semua telah menjadi September. Detik-detik untuk membersihkan peran tokoh-tokoh PKI melewati menit, jam, hari, bulan, dan tahun-tahun. Detak-detak untuk menyerang balik semua individu/organisasi yang pernah menjadi musuh partai pemenang keempat pada Pemilu 1957, semakin berkobar dari lentera merah. Arus sejarah diputar balik dari muara ke hulu. Penghulu dari semua kegagalan PKI memang hanya pada superhero tunggal.
Kekuasaan BJ. Habibie terpapar aroma September. Semenjak itu TVRI sejak 1998 tak lagi menayangkan film yang dibintangi aktivis HMI dr. Amoroso Katamsi. Meniada setelah 13 tahun menjadi film unggulan menyongsong Hari Kesaktian Pancasila. Film yang mulai diputar TVRI pada 30 September 1985 itu telah dicabut patok-patok layar tancapnya. Ada Kuasa Septemberian Gelap di lingkar penguasa ketiga itu yang memotong pita historis sekuel rezim sebelumnya. Caranya jangan lagi negara mengurusi PKI, ideologinya, bahkan pita film seluloid itu tak perlu lagi dipeduli Perum Produksi Film Negara (PFN). Sebab TVRI memiliki ruang pemirsa yang besar untuk mengenang Keganasan September Kelabu itu, maka putuskan semuanya dari hulu penyiaran.
Demikian terus berlanjut pada rezim-rezim setelahnya, berlomba-lomba meng-‘Septemberisasi’ PKI bukan lagi sebagai pelaku kejahatan genosida Madiun hingga pembunuhan keji tujuh pahlawan revolusi. Mulai dari Tap MPR hingga diorama patung, harus dihilangkan. Bahkan secara resmi diterbitkan Kamus Sejarah Indonesia Jilid I & II. Rasa Gelora September itu makin bergemuruh hingga di ‘rezim yang engkau serba takut padanya’. Namun tidak semua bergidik lalu takluk menekuk lutut. Pendekar-pendekar supersenior kembali turun gunung yaitu penyair, habaib, sejarawan, asatidzah, budayawan, seniman, purnawirawan, pelaku sejarah, ulama, dan sebagainya. Mereka membuat hulu baru untuk membersihkan muara. Arena Tarung Historis September kembali dimulai, sejak dari bulan 10, 11, 12, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan ….
Jakarta, Jumat Keramat, Hari Kesaktian Pancasila 2021


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini