Thailand

mantan anggota DPR RI
Oleh Mubha Kahar Muang
SEJARAH Thailand, dahulu bernama Siam, bermula dari Kerajaan Sukhothai, berdiri pada tahun 1238. Sukhothai mencapai sukses di bawah kekuasaan raja ketiga Ramkhamhaeng. Raja inilah yang menciptakan alfabet Thai. Ramkhamhaeng juga sukses memperluas wilayah yang diperkirakan sampai ke Myanmar, Laos, Semenanjung Malaya, hingga Tambralinga. Kekuasaan Sukhothai ketika itu lebih luas dari negara Thailand saat ini.

Pada perkembangan selanjutnya, Kerajaan Sukhothai mengalami kemunduran sebab sebagian kerajaan di bawah kekuasaannya melepaskan diri. Namun pada saat yang sama sebuah kerajaan baru bernama Ayutthaya didirikan, 640 km arah selatan Kerajaan Sukhothai. Kerajaan baru itu kemudian menumbangkan Sukhothai.

Kerajaan Ayutthaya menjalin hubungan dagang dengan beberapa negara asing seperti Tiongkok, India, Jepang, Persia dan beberapa negara Eropa. Ayutthaya menjadi kerajaan yang damai dan makmur, tetapi pada 1715 Ayutthaya mulai berperang melawan penguasa Vietnam Selatan untuk memperebutkan Kamboja. Pada tahun 1765 wilayah Thai diserang oleh Burma. Ayutthaya kalah pada 1767 dan mengalami kehancuran.

Setelah ibu kota Kerajaan Ayutthaya dihancurkan oleh Burma, seorang Jenderal bernama Taksin mendirikan Kerajaan Thonburi. Taksin bergelar Taksin Yang Agung dan kemudian menyatukan kembali bekas Kerajaan Ayutthaya. Tahun 1782 Taksin digantikan oleh Jendral Chakri yang bergelar Rama I. Kerajaan Thai kemudian mendirikan ibu kota baru di Bangkok. Dinasti Chakri inilah yang berkuasa di Thailand hingga saat ini.

Tahun 1790 kerajaan Siam ini berhasil mengusir Burma. Penerus Rama I kemudian menghadapi Inggris yang telah menguasai Burma. Siam kemudian menandatangani perjanjian dengan Inggris yang disebut Perjanjian Anglo-Siam. Perjanjian ini menentukan batas wilayah dengan Malaya, dan perjanjian dengan Perancis dalam menentukan batas wilayah dengan Laos dan Kamboja.

Tahun 1932 terjadi kudeta pada pemerintahan Rama VII sekaligus awal perubahan bentuk kerajaan di Thailand, dari monarki absolut menjadi monarki konstitusional seperti saat ini. Nama Siam pun berubah menjadi Thailand.

Thailand kemudian menginvasi Indo China (Kamboja, Laos dan Vietnam) yang dikuasai oleh Perancis pada 1941 dan berhasil merebut Laos, tetapi Perancis menang pada pertempuran laut Koh-Chang. Jepang membantu mediasi dengan Perancis untuk melepas wilayah sengketa kepada Thailand.

Jepang mendapat imbalan dari Thailand pada Perang Dunia II ( 1939-1945), berupa hak untuk menggerakkan pasukannya dari wilayah Thailand menuju Malaya yang dikuasai oleh Inggris. Pada saat itu Thailand dan Jepang membuat persekutuan militer yang intinya Jepang membantu Thailand untuk merebut kembali wilayah yang diduduki oleh Inggris dan Perancis, sebaliknya Thailand membantu Jepang menghadapi sekutu.

Karena Jepang mengalami kekalahan, akhirnya Thailand diperlakukan seperti negara yang kalah perang oleh Inggris dan Perancis. Namun, dukungan dari Amerika Serikat membantu Thailand mengurangi kerugian. Tetapi Thailand tetap harus mengembalikan wilayah yang diperoleh dari Inggris dan Perancis seperti Shan, Malaya, Singapura, sebagian Yunnan, Laos dan Kamboja. Thailand sendiri tidak diduduki, sehingga menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah bangsa Eropa. Thailand kemudian menjadi sekutu Amerika Serikat menghadapi bahaya komunisme dari negara-negara tetangga.

Thailand termasuk salah satu negara di dunia yang tidak memiliki hari kemerdekaan karena tidak pernah diduduki oleh bangsa lain. Thailand menetapkan hari kebangsaan setiap tahun berdasarkan hari lahir raja yang sedang berkuasa, jadi hari kebangsaan Thailand berubah jika ada pergantian raja.

Awalnya, Thailand menjadi salah satu negara yang menarik bagi orang Yahudi. Abraham Navarro penerjemah bahasa Inggris untuk East India Company tercatat sebagai orang Yahudi pertama yang tinggal di Thailand, disusul kemudian dengan pedagang Yahudi lainnya yang melakukan perdagangan di kawasan Asia. Pemerintah Thailand sejak dulu sudah terbuka kepada bangsa Yahudi. Hal ini terbukti bahwa sejak tahun 1601 pedagang Yahudi dilaporkan sudah mendirikan sinagoga, rumah peribadatan Yahudi, di wilayah Kerajaan Ayutthaya.

Pada 1890, keluarga Yahudi Eropa juga telah mulai menetap di Bangkok, antara lain keluarga Rosenberg yang mendirikan hotel modern pertama di Bangkok. Yahudi Rusia dari Harbin yang melarikan diri dari diskriminasi Soviet, tiba di Thailand tahun 1920. Termasuk Haim Gerson pengusaha yang sangat terkenal di Thailand dan memimpin komunitas Yahudi selama beberapa dekade.

Pada 1930, sebanyak 120 orang Yahudi dari Jerman yang melarikan diri dari Nazi dan menetap di Thailand. Selama Perang Dunia II beberapa keluarga Yahudi tiba dari Suriah dan Lebanon. Yahudi dari Amerika, Irak, Afganistan dan Iran tiba di Thailand antara 1950-1960. Tahun 1970-an banyak keluarga Israel bermigrasi ke Thailand, termasuk tentara Yahudi Amerika ketika Perang Vietnam, untuk kemudian menetap dan mencari peluang bisnis. Namun, tahun 2016 populasi Yahudi di Thailand menurut demografer Sergio Della Pergola tinggal 200 orang.

Thailand, pernah membuat panik seluruh Asia Timur. Bahkan seluruh dunia seakan runtuh karena penularan krisis keuangan yang terjadi pada Juli 1997. Krisis di Thailand yang dikenal dengan nama krisis Tom Yum Kung adalah krisis yang bermula dari tertekannya nilai tukar bath terhadap mata uang dollar AS. Pemerintah Thailand mengeluarkan kebijakan mengambangkan bath sehingga Thailand menanggung beban utang luar negeri yang besar sampai-sampai negara ini dapat dinyatakan bangkrut sebelum nilai mata uangnya jatuh.
Ketika krisis ini menyebar, nilai mata uang di sebagian besar Asia Tenggara dan Jepang ikut turun, demikian pula dengan bursa saham. Nilai aset lainnya serta utang luar negeri swasta naik drastis. Indonesia, Korea Selatan dan Thailand adalah negara yang terkena dampak krisis terparah.

Di Thailand, teknokrat dipandang sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dan dipersalahkan atas terjadinya krisis ekonomi, khususnya mereka yang berada di Bank Sentral Thailand. Krisis Ekonomi 1977 menunjukkan lemahnya kemampuan Bank Sentral Thailand mengantisipasi apresiasi nilai tukar bath terhadap dollar AS. Ketidakmampuan pemerintah yang berkuasa ketika itu untuk mengambil langkah mengatasi krisis ekonomi mengakibatkan tuntutan masyarakat agar PM Chavalit Yongchaiyudh mengundurkan diri.

Mahathir Muhammad menuding George Soros adalah biang kerok penyebab krisis tersebut, kebetulan Quantum Fund salah satu perusahaan hedge fund yang dikelola oleh Soros baru saja melakukan operasi dalam jumlah besar di Asia ketika itu.

Soros pun mengakui bahwa dia mengendus devaluasi bath akan terjadi sangat parah. Bermodalkan US $1 miliar ia pun berspekulasi atas bath. Tak lama berselang Thailand mengubah kebijakan nilai tukar dari mengambang tetap menjadi mengambang terbatas. Akibatnya nilai mata uang bath semula masih disenilaikan (peg) dengan dollar AS, terjun bebas menjadi 60 persen melawan dollar AS. Quantum Fund tentu mendapat keuntungan yang fantastis. Arus modal keluar tidak dapat dihindarkan. Tidak berselang lama, kondisi tersebut menular ke beberapa negara Asia lainnya. Namun Soros berkilah bahwa dia tidak harus bertanggung jawab seperti tudingan Mahathir Muhammad. Menurutnya, Bank Sentral Thailand lah yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup soal hedge fund.
Kejadian serupa pernah membuat Inggris bertekuk lutut pada 1992, dikenal dengan peristiwa Black Wednesday. Soros mengambil untung besar dari spekulasi poundsterling, Soros diperkirakan meraup untung sekitar US $ 2 miliar. Karena itu Soros dijuluki sebagai “pembobol” Bank of England.

Perdana Menteri baru Thailand Chuan Leek Pai kemudian memilih patuh terhadap program perbaikan ekonomi dari Dana Moneter Internasional (IMF) sehingga melahirkan kritik bahwa PM Chuan adalah a good student of IMF. Namun bagi Chuan, bersikap patuh tersebut justru positif karena pinjaman dari IMF tersebut harus dialokasikan sesuai dengan program IMF. Pendirian tersebut pada akhirnya melahirkan reaksi positif yaitu meningkatnya kepercayaan rakyat terhadap perkembangan ekonomi domestik Thailand.

Yang pasti, penyebab krisis, penanganan dan akibat krisis 1997 bagi Thailand dan negara Asia lainnya, adalah sebuah pelajaran berharga.
Jakarta, 29 Desember 2017.


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini