Presiden Jokowi Merasa Sering Dipermalukan oleh BUMN Indonesia

Presiden Jokowi memberikan pengarahan di depan BUMN. (Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)
menitindonesia, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa sering dipermalukan oleh BUMN, ketika ia membukakan pintu (peluang) hingga ke luar negeri, namun peluang itu tidak direspon oleh BUMN tidak memanfaatkan peluang itu.
Hal ini ia sampaikan saat memberikan arahan kepada para direktur utama BUMN di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (14/10/2021).
“Kita sudah bukain pintu, enggak ada respons apa-apa, ya bagaimana saya. Kadang-kadang saya sering malu, terus terang saja saya. Sudah bukain pintu, bukain pintu, tetapi enggak ada respons ke sana,” kata Jokowi
Jokowi pun mendorong untuk BUMN mencari partner kerja sehingga perusahaan yang dikelolanya bisa menjadi besar.
Jokowi mencontohkan di bidang kesehatan, bahwa harus ada pembenahan dalam infrastruktur dan fasilitas kesehatan. Bahkan Jokowi jelaskan sudah membuka akses terkait kerja sama dengan negara lain, seperti Bangladesh dan India.
Namun, menurut dia, BUMN yang terkait dengan bidang kesehatan masih belum responsif menindaklanjuti hal tersebut.
“Bukain ke Bangladesh, bukain ke India, data pun sendiri, Perdana Menteri Narendra Modi, di sini enggak merespons bagaimana, sampai nanyain dua kali ke saya, enggak kirim tim ke sini. Enggak ada tindak lanjut,” ujar dia.
Selain itu, Jokowi juga soroti soal ketahanan pangan. Ia sampaikan bahwa aspek ketahanan pangan sangat penting bagi suatu negara di tengah adanya perubahan iklim.
“Dan sudah diprediksi akan terjadi krisis pangan, ya ini kesempatan kita,” ujar dia.
Namun, Jokowi terlihat jengkel karena kurangnya peran BUMN dalam memanfaatkan situasi tersebut di Indonesia.
Bahkan berbagai wilayah Indonesia memiliki hamparan lahan datar yang sangat luas dan air yang melimpah, misalnya di Merauke, Mapi, dan Boven Digoel.
“Tanah masih luas sekali, masih gede sekali, tapi yang merancang jangan kecil-kecillah,”ujar Jokowi. (andi esse)