PDAM Rencana Naikkan Tarif Air, Ketua DPRD Maros: Perhatikan Kualitas dan Pelayanan

menitindonesia, MAROS — Perumda Tirta Bantimurung atau PDAM Maros berencana menaikkan tarif air. Wakil rakyat pun bereaksi.
Ketua DPRD Kabupaten Maros, Andi Patarai Amir buka suara perihal rencana kenaikan tarif air oleh Perumda Tirta Bantimurung.
Andi Patarai mengungkapkan, beberapa aspek sebelum menaikkan tarif, yakni peningkatan kualitas air dan pelayanan.
“Karena kualitas air sekarang menjadi sorotan di mana-mana,” kata Andi Patarai, Rabu (22/3/2023).
Dari sisi pelayanan, politikus Golkar itu menyebut PDAM harus ada peningkatan. Sebab, saat ini PDAM bisa dengan leluasa menaikkan tarif tanpa kontrol dari DPRD.
“Dulu itu ada perda yang mengatur. Jadi harus dengan persetujuan DPRD kalau PDAM ingin menaikkan tarif. Namun dengan adanya Permendagri no 20 tahun 2021 itu berubah. Kenaikan tarif air menggunakan peraturan bupati,” jelas Patarai.
Menyikapi hal itu, Direktur PDAM Maros, Muh Shalahudin M mengaku mesti dilakukan penyesuaian tarif.
Hal itu dikarenakan beban operasional semakin membengkak.
Shalahudin tak menampik banyaknya keluhan soal kualitas air saat ini. Namun justru itulah yang membuat manajemen harus mengambil keputusan menaikkan harga air. Aneka perbaikan dan pembenahan, katanya, membutuhkan pendanaan lebih.
“Kita mau melakukan pembenahan di bawah, sementara kita terbatas dalam biaya operasional,” kata Shalahudin.
Kemudian berdasarkan audit dari BPKP, arus kas PDAM Maros makin menurun. Laba Rp2 miliar pada 2020 menurun jadi Rp1 miliar pada 2021 dan pada 2022 malah hanya Rp400 juta. Naiknya biaya produksi membuat keuntungan perusahaan daerah itu menyusut.
Ia juga mengatakan berdasarkan penyesuaian SK Gubernur, tarif PDAM Tirta Bantimurung sangat jauh dari tarif kesesuaian.
Shalahudin mengungkap, Gubernur Sulsel sudah menerbitkan surat terkait batas atas dan bawah tarif air. Khusus Maros batas atasnya itu di kisaran Rp12 ribu per meter kubik. Batas bawah sekitar Rp4.400.
“Sementara tarif kami masih Rp2.700,” jelasnya.
Shalahudin membeberkan, terakhir kali tarif air PDAM Maros naik pada 2009 atau 14 tahun lalu.
PDAM Maros menempuh berbagai tahapan untuk menaikka tarif. Kini sudah di fase focus group discussion (FGD) bersama pelanggan dan tokoh masyarakat. FGD digelar di Convention Hall Grand Waterboom, Senin (20/3/2023).
Ketua Forum Pelanggan PDAM Maros, Lory Hendrajaya menyebut, jika melihat kondisi PDAM saat ini, wajar jika ada rencana menaikkan harga.
Namun, mesti tetap mempertimbangkan kondisi masyarakat.
“Kalau misalnya rencana kenaikannya Rp1.300-an per meter kubik, sebaiknya jangan langsung diterapkan satu kali. Bisa bertahap, setiap tahun naik sedikit,” ucapnya.
Makmur, pelanggan PDAM dari Perumnas Bentenge menegaskan kenaikan tarif tak terlalu tinggi. “Serta harus dibarengi perbaikan kualitas air dan pelayanan,” ungkapnya.
Mantan anggota DPRD Sulsel, Wawan Mattaliu menyarankan PDAM tidak menaikkan tarif air untuk golongan I atau masyarakat berpenghasilan rendah. Kenaikan bisa dilakukan pada kategori pelanggan di atasnya.
“Industri harusnya lebih di atas lagi kenaikannya dibanding pelanggan rumah tangga,” sebutnya.
Kabag Teknik PDAM Maros, Abdul Rajab menuturkan, kenaikan ini sudah dibicarakan sejak tiga tahun terakhir. Namun baru kali ini memungkinkan dilakukan setelah pandemi berakhir.
“Kenaikan mungkin baru akan terjadi pada pembayaran periode Agustus 2023,” tandasnya. (*)