Skenario Congkel Airlangga di Golkar Mirip Cara Yang dipakai di PPP

Kader militan Partai Golkar di Sulsel, Andi Kaswadi Razak, Nasran Mone dan Arfandi Idris. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Upaya mendongkel Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto terus bergulir. Masalah-masalah di internal Golkar menjadi alasan Airlangga ingin diganti. Pada Pemilu 2019, Partai Golkar kehilangan 6 kursi menjadi 85 kursi DPR RI.
Untuk menyelamatkan partai yang pernah berjaya di masa Orde baru itu, Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar, Luhut Binsar Panjaitan minta Airlangga Hartarto diganti. Satu per satu kader senior Partai Golkar melapor ke kediaman Luhut. Mereka juga mengeluhkan kepemimpinan Airlangga tidak bisa memberi efek elektoral ke partai.
BACA JUGA:
Golkar Sulsel Inginkan Airlangga Aman Hingga 2024, Arfandi Idris: Yang Mau Munaslub Orang Luar
Menurut kader Golkar yang saat ini menjabat Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, survei Golkar sisa satu digit, 6 persen. Ia setuju dengan Luhut: Golkar harus diselamatkan. Bahlil juga menyatakan kesediaanya menjadi ketua umum menggantikan Airlangga.
Saran Bahlil itu tambah memicu suasana makin panas di internal Golkar. Ketua DPD II Golkar Soppeng, Sulawesi Selatan, Andi Kaswadi Razak, meminta Bahlil untuk jangan macam-macam. Kaswadi yang juga Bupati Soppeng ini menegaskan siap melawan siapapun yang ingin mengganggu partai berlambang ‘pohon beringin angker’ itu.
“Saya tidak kenal Bahlil, kalau ada yang mau ganggu Golkar, siapapun saya lawan,” kata Kaswadi saat ditemui wartawan di kampungnya, Soppeng, Senin (24/7/2023), lalu.
BACA JUGA:
Desas-Desus Mau Dilengserkan di Golkar, Airlangga Hartarto Angkat Bicara
Tak hanya Kaswadi yang geram. Juga Kader senior Partai Golkar Sulsel, H Nasran Mone, S.Ag. Ia mengecam pihak-pihak yang mau mendongkel Airlangga Hartarto.
Picsart 23 07 27 13 08 41 346 e1690435023478
Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar, Luhut Binsar Panjaitan, disebut-sebut sebagai bakal calon ketua umum jika Airlangga berhasil dicongkel. (ist)
“Apa alasan mereka bilang Pak Airlangga tidak memberi efek elektoral terhadap partai? Mereka ini mengganggu konsentrasi kader yang sekarang sedang berjuang untuk meraih kursi di Pileg,” ujar Nasran Mone kepada jurnalis media ini di Makassar, Selasa (25/7/2023).
Usai Kaswadi dan Nasran Mone geram, Legislator Partai Golkar di DPRD Sulsel Arfandi Idris, juga angkat suara. Ia menegaskan Golkar Sulsel tetap tegak lurus kepada ketum Airlangga Hartarto. “Meski langit runtuh, Golkar Sulsel tetap bersama Airlangga,” ucap Arfandi, Rabu (25/7), malam.
Sementara, pengamat politik dan peneliti pada Yayasan Lembaga Kajian Pembangunan (LKP) Muhammad Asrul Nurdin, S.Pd, mengatakan, eskalasi konflik di internal Golkar semakin meningkat. Ibaratnya, kata dia, kubu Airlangga sudah bisa mengenali yang mana “belut” dan yang mana “ular” di Golkar.
Namun, Muhammad Asrul melihat alasan yang dikemukakan untuk mengganti Airlangga memiliki korelasi dengan masalah hukum yang kini dihadapi Menteri Koordinator Perekonomian itu pasca pemanggilan Kejaksaan Agung terkait perkara mafia minyak goreng .
Menurutnya, Kasus hukum yang dihadapi Airlangga bisa menjadi pintu masuk mengusulkan musyawarah nasional luar biasa atau munaslub Golkar. “Airlangga akan dipaksa mundur supaya dia fokus mengurus kasusnya di Kejagung,” ujar Asrul.
Skenario mendorong Airlangga mengundurkan diri, lanjut dia, sama dengan model yang dipakai untuk mendongkel Suharso Monoarfa saat menjabat ketum PPP. “Dengan begitu, Munaslub bisa digelar karena ada situasi extraordinary,” ujar Asrul.
Dia melihat, skenario seperti konflik internal di PPP itu, sama caranya untuk mencongkel Airlangga dari kursi ketum Golkar. “Airlangga tetap jadi Menko Perekonomian dan kasusnya di Kejagung didiamkan, asal Airlangga melepas kursi ketumnya,” jelas Asrul.
Asrul menilai, upaya pendongkelan Airlangga Hartarto ini, karena sikapnya yang belum pasti di Pilpres: apakah mendukung Ganjar atau mendukung Prabowo. Menurut Asrul, lobby politik Airlangga, malah terkesan ingin menggembosi Prabowo dengan mengajak PAN dan PKB membentuk poros baru. “Padahal Airlangga pasti tahu kalau Istana menyokong Prabowo,” katanya.
Namun, sejumlah sumber di internal DPP Golkar menyebutkan Airlangga tidak gentar dengan upaya yang akan dilakukan para senior Golkar yang mau mendongkelnya. Menurut sumber di internal Golkar, Airlangga memiliki kekuatan menghadapi para pendongkelnya itu, yaitu kader Golkar yang militan. Di Sulsel ada Andi Kaswadi Razak, Nasran Mone dan Legislator DPRD Provinsi Sulsel, Arfandi Idris. Juga seluruh DPD di Indonesia, belum ada yang meneken rekomendasi munaslub.
Kaswadi, sudah menyatakan siap melawan Bahlil kalau berani macam-macam. Begitupula dengan Nasran Mone, juga sudah meminta Luhut dan Ridwan Hisjam berhenti menggangu Golkar.
Isu yang menyebutkan Airlangga akan mundur pada Rabu (26/7), kemarin, juga tak terbukti. Airlangga malah mengatakan pada jurnalis media ini, kendali Golkar masih di bawah kontrolnya. “Kondisi Golkar masih aman dan terkendali,” ujar Airlangga. (AE)