Bupati Maros, Chaidir Syam saat mengunjungi sentra budidaya garam di Kecamatan Bontoa. (ist)
menitindonesia, MAROS — Produksi garam krosok di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, terus menggeliat. Lahan tambak yang tak lagi produktif untuk budidaya ikan akibat tingginya salinitas air kini dialihkan menjadi sentra produksi garam.
Total lahan yang dimanfaatkan untuk pengembangan garam di Kecamatan Bontoa kini mencapai sekitar 8 hektare. Produksinya telah mencapai sekitar 80 ton, bahkan kapasitas produksi dalam sebulan disebut bisa menembus 100 ton dengan estimasi nilai jual mencapai Rp100 juta.
Bupati Maros Chaidir Syam melihat langsung pengembangan sentra garam tersebut saat meninjau lokasi produksi Garam Krosok di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Selasa (22/9/2026).
Dalam kunjungan itu, Chaidir didampingi Camat Bontoa Baso serta perwakilan Tim Pengembangan Garam Universitas Hasanuddin (Unhas), A.M. Ansar.
A.M. Ansar mengatakan pengembangan garam di wilayah tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Unhas yang telah berjalan sejak 2023. Pendampingan dan inovasi yang dilakukan membuat produktivitas garam menunjukkan peningkatan.
Khusus di Desa Ampekale, lahan seluas 60 are telah menghasilkan sekitar 15 ton garam sejak awal Agustus 2026.
“Berkat inovasi dan pendampingan yang intensif, hasil produksi menunjukkan tren yang sangat positif,” jelas A.M. Ansar.
Pengembangan sentra garam juga mulai dilakukan di sejumlah desa sekitar Ampekale, di antaranya Desa Tuppabiring dan Desa Bonto Bahari.
Menurut Chaidir, pengembangan garam menjadi salah satu solusi bagi warga menghadapi musim kemarau berkepanjangan.
Tingginya salinitas air tambak yang disebut mencapai 70 persen membuat tambak tidak lagi ideal untuk produksi ikan. Kondisi tersebut mendorong warga memanfaatkan sementara lahan tambak untuk memproduksi garam.
“Pengembangan sentra garam ini merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan musim kemarau berkepanjangan,” kata Chaidir.
Ia mengapresiasi warga yang mampu melihat peluang ekonomi di tengah kondisi tersebut. Alih fungsi tambak menjadi lahan produksi garam dinilai dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat.
Chaidir mengaku senang melihat produktivitas warga tetap berjalan meski menghadapi musim kemarau.
Menurutnya, pengembangan garam tidak hanya menjadi solusi terhadap tambak yang tidak produktif, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Garam yang diproduksi di Bontoa merupakan Garam Krosok yang belum melalui proses yodisasi. Meski demikian, jenis garam tersebut memiliki kandungan mineral alami dan dapat dimanfaatkan untuk sejumlah kebutuhan produktif.
Di antaranya untuk pengeringan atau pengawetan ikan asin, campuran bahan pakan ternak, serta alternatif pendukung atau pengganti pupuk.
Dengan luas lahan yang terus berkembang dan kapasitas produksi yang meningkat, sentra garam Bontoa kini menjadi salah satu alternatif usaha warga untuk mengoptimalkan lahan tambak selama musim kemarau.