Bupati Maros AS Chaidir Syam dan BPBD antisipasi lonjakan pengungsi banjir. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAROS – Hujan yang turun selama tiga hari, mulai Sabtu sampai Senin, 4-6 Desember 2021 di wilayah Sulawesi Selatan, termasuk di Kabupaten Maros, menimbulkan banjir akibat tingginya genangan air dan meluapnya air sungai.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros Fadly mengatakan, ada sekitar delapan kecamatan dari 14 kecamatan, yang mengalami banjir parah akibat curah hujan yang tinggi.
“Kalau di Maros ada delapan kecamatan yang parah. Kalau dibilang naik air. Semuanya naik. Hanya saja tidak semua parah. Yang terdampak parah yakni kecamatan, Lau, Bontoa, Maros Baru, Turikale, Marusu, Moncongloe, Bantumurung dan Camba,” kata Fadli, dikutip Rabu (8/12/2021).
Meski yang mendapat penanganan khusus di wilayah yang parah, namun, kata Fadli, kecamatan lainnya tetap dilakukan pemantauan oleh BPBD.
“Seperti kecamatan Simbang tetap kita awasi. Disana juga terjadi bencana banjir, hanya saja belum termasuk kategori parah. Di seluruh wilayah yang terdampak banjir memiliki ketinggian air yang berbeda-beda. Ada yang sudah setinggi dada, ada yang setingkat lutut. Bahkan sudah ada beberapa yang kami evakuasi dari rumahnya karena sudah tidak bisa lagi bergerak,” terangnya.
Warga yang diungsikan, lanjut Fadli, bisa memilih lokasi pengungsian mereka. Menurutnya, ada beberapa warga yang diungsikan meminta dievakuasi ke rumah keluarganya.
Sementara itu, Bupati Maros AS Chaidir Syam, menginstruksikan kepada BPBD untuk memaksimalkan posko bencana di setiap keluarahan dan desa. Chaidir juga meminta BPBD tidak hanya mengungsikan korban banjir, tetapi juga melakukan pendampingan terhadap mereka.
“Saya minta kepada BPBD tidak hanya mengungsikan warga, tepi juga intens melakukan pendampingan, agar juga memperhatikan kondisi secara terus menerus selama musim hujan ini,” pungkasnya. (roma)