BPOM Perkuat Kerja Sama dengan Abu Dhabi: Dorong Inovasi Kesehatan dan Pangan Berbasis ABG

Prof. Taruna Ikrar, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), melakukan kunjungan resmi ke Abu Dhabi Department of Health (ADDOH) pada 24 November 2025 untuk memperkuat kolaborasi regulasi obat, pangan, dan teknologi kesehatan antara Indonesia-UAE di bawah kerangka inovasi “Academic–Business–Government (ABG).
  • BPOM memperkuat kerja sama dengan Abu Dhabi Department of Health untuk inovasi kesehatan dan pangan berbasis model Academic–Business–Government (ABG).
menitindonesia, ABU DHABI — Upaya Indonesia memperkuat ekosistem inovasi kesehatan memasuki babak baru. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., bertemu dengan Abu Dhabi Department of Health (ADDOH), Senin (24/11/2025).
Pertemuan ini dilakukan untuk menjajaki peningkatan kerja sama dalam riset, industri farmasi, serta penguatan regulasi di sektor kesehatan dan pangan.
BACA JUGA:
BPOM Diutus Wakili ASEAN di Abu Dhabi: Perjuangkan Regulasi Obat Global yang Lebih Adil
Pertemuan itu terasa hangat dan penuh semangat kolaborasi. Prof. Taruna Ikrar hadir didampingi Shanti Marlina, Pelaksana Tugas Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor BPOM. Di pihak tuan rumah, hadir pula jajaran pimpinan sektor life sciences, riset, dan pengawasan produk kesehatan di Abu Dhabi.
“Kami ingin memperkuat kolaborasi melalui kerangka akademik–bisnis–pemerintah (ABG) untuk mempercepat inovasi dan memperkuat perlindungan kesehatan publik,” ujar Prof Taruna mengawali pertemuan.
Picsart 25 11 25 08 33 44 546 11zon e1764035688872
Prof Taruna Ikrar Kepala BPOM menjalin kerja sama dengan Abu Dhabi Department of Health untuk inovasi kesehatan dan pangan di Abu Dhabi 2025.
Konsep ABG merupakan gagasan yang kini menjadi strategi nasional BPOM. Skema ini mendorong sinergi perguruan tinggi, industri, dan regulator sehingga Indonesia mampu menjawab tantangan teknologi kesehatan masa depan — mulai dari farmasi, digital health, hingga keamanan pangan.

Belajar dari Keberhasilan UEA

Prof Taruna juga kembali mengingat momen penting pada 2020 ketika BPOM meninjau langsung uji klinik vaksin COVID-19 di UEA. Abu Dhabi menjadi salah satu negara paling sukses mengawal uji klinis secara cepat, transparan, dan dipercaya publik.
BACA JUGA:
Airlangga: Banyak Negara Ingin Gandeng Indonesia di Sektor Pertanian, Migas, dan Teknologi
“Pengalaman UEA tetap menjadi referensi penting bagi regulator global,” tegasnya.
Kepemimpinan pemerintah dalam riset berbasis kepercayaan publik dinilai berperan besar dalam keberhasilan tersebut.

Dari Riset hingga Investasi Industri

Tak hanya berbicara konsep, pertemuan menghasilkan sederet peluang kerja sama konkret, antara lain: Riset regulatori, uji klinik vaksin dan biologis, Advanced medical products: sel dan terapi gen, Penguatan laboratorium dan keamanan pangan digital, Pertukaran peneliti dan peningkatan kapasitas SDM, Pengembangan pusat inovasi, health-tech, dan nutraceutical, dan Peluang investasi dan transfer teknologi untuk industri Indonesia
Sinergi ini juga memperkuat implementasi Indonesia–UAE CEPA, serta kerja sama besar ASEAN–GCC di sektor kesehatan dan farmasi.
BPOM menegaskan siap melangkah bersama UEA dalam meningkatkan keamanan produk kesehatan dan pangan yang beredar di pasar global. Selain melindungi masyarakat, kerja sama ini juga diharapkan mendorong ekonomi berbasis inovasi di kedua negara.
“Kami ingin memastikan bahwa inovasi kesehatan tidak hanya unggul secara industri, tetapi benar-benar melindungi konsumen dan memperkuat ketahanan kesehatan nasional,” tutup Taruna.
Pertemuan di Abu Dhabi itu menjadi langkah penting menuju ekosistem kesehatan modern yang lebih tangguh dan berdaya saing internasional — sebuah masa depan yang kini mulai dirajut lewat diplomasi regulatori Indonesia. (AE)