Miris, Pengeluaran Rokok Warga Miskin Sulsel Lampaui Konsumsi Daging dan Telur

Ilustrasi rokok
menitindonesia, MAKASSAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan merilis data terbaru terkait pola pengeluaran konsumsi penduduk pada 2024. Salah satu temuan mencolok adalah tingginya porsi belanja rokok di kalangan masyarakat miskin.
BPS mencatat pengeluaran rokok dan tembakau mencapai 14,25 persen pada penduduk miskin di wilayah perkotaan dan 13,13 persen di wilayah pedesaan. Angka ini tercatat dua kali lebih besar dibandingkan rata-rata pengeluaran rokok seluruh penduduk.
Sementara itu, rata-rata pengeluaran konsumsi penduduk umum pada 2024 berada di kisaran 5,18 persen di perkotaan dan 7,99 persen di pedesaan.
Melalui unggahan resmi di media sosial, BPS Sulsel menilai tingginya konsumsi rokok telah menggerus kemampuan ekonomi masyarakat miskin.
“Pengeluaran untuk rokok bahkan lebih besar daripada daging, telur, dan ikan. Saat kebutuhan dasar terabaikan, kemiskinan makin sulit diputus,” tulis BPS Sulsel.
Temuan tersebut sejalan dengan data WHO 2021 yang menyebut konsumsi tembakau berkontribusi pada kemiskinan karena mengalihkan pengeluaran rumah tangga dari kebutuhan utama seperti makanan dan tempat tinggal.

BACA JUGA:
BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi RI 5,04%, Lapangan Kerja Naik 1,9 Juta Orang

Di sisi lain, BPS melaporkan persentase penduduk miskin di Sulsel pada Maret 2025 turun menjadi 7,60 persen, atau menurun 0,17 persen poin dibandingkan September 2024. Secara jumlah, penduduk miskin berkurang 13,64 ribu orang, sehingga total menjadi 698,13 ribu orang.
BPS menilai penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan kondisi sosial ekonomi di Sulsel.
Namun, indikator ketimpangan atau Gini Ratio pada Maret 2025 justru naik tipis dari 0,360 menjadi 0,363. Kenaikan ini menunjukkan tantangan distribusi pengeluaran yang masih belum merata.
BPS menegaskan ketimpangan tersebut harus menjadi perhatian dalam upaya mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan di Sulawesi Selatan.