Tiga Hari Dua Malam Ditahan Israel, Relawan Indonesia Ungkap Pengalaman Mencekam di Laut Mediterania

Salah seorang relawan kemanusian Gaza yang baru tiba ke tanah Air usai ditahan oleh Israel. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Misi kemanusiaan menuju Gaza yang diikuti sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) berubah menjadi pengalaman mencekam. Para relawan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2.0 mengaku mengalami trauma dan luka fisik setelah dicegat serta ditahan militer Israel di kawasan Mediterania Timur.
Setelah akhirnya kembali ke Tanah Air, para relawan mulai menceritakan pengalaman yang mereka alami selama tiga hari dua malam dalam penahanan aparat Israel. Sebagian bahkan masih merasakan dampak fisik akibat benturan dan tindakan kekerasan yang diterima.
Salah satu relawan, Bambang Noroyono atau Abeng, mengaku bersyukur bisa kembali ke Indonesia dan berkumpul dengan keluarga setelah melewati situasi yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya.
“Syukur alhamdulillah bisa ketemu keluarga, karena ini tetap lanjut perjuangan bersama tentang memperjuangkan hak-hak masyarakat Palestina, hak-hak warga Gaza,” ujar Abeng usai tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026).

BACA JUGA:
9 Relawan Indonesia yang Ditahan Israel Pulang, Menlu: Ada yang Alami Kekerasan Fisik

Meski telah kembali dengan selamat, Abeng mengungkapkan dirinya masih merasakan bekas luka dan benturan yang dialami selama penahanan. Bahkan, beberapa relawan lainnya mengalami cedera yang lebih serius.
“Kondisi saya sudah enggak terlalu khawatir lagi. Masih ada bekas benturan yang masih kerasa, tapi lambat laun akan menghilang. Luka juga masih ada. Ada beberapa teman yang harus diperhatikan, mengalami retak di bagian dalam tulang,” katanya.
Pengalaman yang lebih mengerikan diceritakan oleh relawan sekaligus jurnalis Republika, Thoudy Badai. Ia mengaku rombongan relawan dicegat saat berada di perairan internasional sebelum dibawa secara paksa ke wilayah Israel.
Menurut Thoudy, mereka kemudian dipindahkan ke kapal besar milik Israel dan ditahan selama tiga hari dua malam.
“Penculikannya tentu di luar prosedur di perairan internasional, dan kita dibawa masuk ke perairan Israel lalu dibawa ke kapal besar milik Israel selama tiga hari dua malam,” ujarnya.
Selama masa penahanan, kata dia, para relawan mengalami perlakuan yang tidak manusiawi. Pengalaman tersebut membuatnya bisa sedikit merasakan penderitaan yang selama ini dialami warga Palestina.
“Dan tentunya diperlakukan keji. Itu sangat mungkin dialami masyarakat Palestina dengan kondisi yang jauh lebih keji. Jadi, tetap suarakan Free Palestine,” tegasnya.
Kepulangan sembilan relawan tersebut disambut langsung Menteri Luar Negeri RI, Sugiono. Pemerintah memastikan seluruh WNI yang terlibat dalam misi kemanusiaan itu telah kembali dengan selamat meski sebagian mengalami trauma dan cedera fisik.
“Selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga. Dan tadi dari laporan, ada beberapa rekan kita yang mengalami trauma fisik yang akan juga ditangani lebih lanjut,” kata Sugiono.
Peristiwa yang dialami para relawan itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Berangkat membawa misi kemanusiaan untuk warga Gaza, mereka justru harus menghadapi pencegatan, penahanan, hingga perlakuan keras sebelum akhirnya bisa kembali ke Indonesia dan bertemu keluarga mereka.