menitindonesia, MAKASSAR — Lulusan SMA dan SMK lebih banyak terserap di dunia kerja dibandingkan lulusan perguruan tinggi di Kota Makassar. Data penempatan tenaga kerja Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Makassar menunjukkan, lulusan pendidikan menengah mendominasi jumlah tenaga kerja yang berhasil ditempatkan perusahaan.
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Makassar, Jusman Hattu, mengungkapkan, dari total 5.361 tenaga kerja yang tercatat melalui pendataan Disnaker, sebanyak 50,5 persen merupakan lulusan SMA, SMK, dan sederajat. Sementara lulusan perguruan tinggi hanya mencapai 34 persen.
“Yang banyak diterima itu memang 50,5 persen dari SMK, SMA, dan SMK sederajat. Kalau sarjana hanya 34 persen,” kata Jusman saat ditemui di Kantor Disnaker Makassar, Jalan AP Pettarani, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari kebutuhan perusahaan di Makassar yang masih didominasi pekerjaan dengan kualifikasi pendidikan menengah.
Sejumlah sektor yang banyak membuka lowongan kerja di antaranya keuangan, makanan cepat saji, serta tenaga penjualan dan pemasaran. Sementara kebutuhan tenaga kerja di sektor industri, teknologi, kesehatan, dan pendidikan juga tersedia.
“Dunia usaha dan industri di Kota Makassar kelihatannya memang lebih banyak membutuhkan tenaga kerja dari SMK sederajat. Ini menjadi tantangan bagaimana sarjana bisa lebih banyak terserap di dunia kerja,” ujarnya.
Jusman menyebut pengangguran terdidik masih menjadi salah satu persoalan ketenagakerjaan di Makassar. Berdasarkan data BPS yang disampaikan Disnaker, angka pengangguran terdidik disebut berada di kisaran 8,90 persen. Namun, ia mengakui belum tersedia data khusus yang menunjukkan persentase sarjana yang belum terserap di dunia kerja.
Di sisi lain, jumlah pengangguran di Makassar berdasarkan data BPS 2025 yang dipublikasikan pada 2026 mencapai 66.065 orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 9,56 persen atau sekitar 9,60 persen.
Angka tersebut turun sekitar 0,11 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, tingkat pengangguran Makassar masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi dan nasional.
“Walaupun trennya mengalami penurunan, angka pengangguran ini masih cukup tinggi di Kota Makassar. Karena itu, tetap diperlukan intervensi yang kuat,” jelasnya.
Tantangan penyerapan tenaga kerja juga terlihat dalam pelaksanaan job fair yang melibatkan 50 perusahaan. Kegiatan tersebut menyediakan sekitar 334 jenis jabatan dengan kebutuhan tenaga kerja mencapai 1.500 orang.
Namun, dari sekitar 6.000 pelamar yang mengikuti proses rekrutmen, hanya 607 orang yang dinyatakan diterima.
Jusman menilai, persoalan tersebut membutuhkan kesesuaian antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan perusahaan atau business matching. Menurutnya, peningkatan penyerapan lulusan sarjana juga perlu didukung pengembangan jenis industri dan usaha yang membutuhkan kualifikasi pendidikan tinggi.
“Kalau saya melihatnya, ini memang perlu business matching. Harus ada kesesuaian antara kemampuan tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri,” katanya.
Untuk memperluas kesempatan kerja, Disnaker Makassar menjalankan sejumlah program, mulai dari pelatihan tata boga, menjahit, dan kerajinan tangan hingga penyediaan informasi lowongan melalui portal kerja, job fair, dan walk-in interview.
Disnaker juga mendorong peningkatan keterampilan masyarakat melalui Makassar Creative Hub (MCH), salah satu program prioritas Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin. Program tersebut mencakup pelatihan pengembangan hingga branding produk.
Selain mendorong penempatan tenaga kerja di perusahaan, Disnaker turut mengembangkan penciptaan usaha mandiri berbasis potensi wilayah.
Salah satunya di Kecamatan Tallo yang memiliki potensi perikanan. Masyarakat diarahkan mengembangkan usaha pengolahan hasil laut, seperti abon ikan dan berbagai produk olahan lainnya.
“Tentu langkah ini diharapkan membuka peluang kerja baru sekaligus memperluas sumber penghasilan masyarakat,” tukasnya.