Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda i3L 2025 di Jakarta, menegaskan peran akademisi dalam memperkuat sistem regulasi kesehatan nasional.
Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda i3L 2025, menegaskan pentingnya peran akademisi dalam memperkuat sistem regulasi obat dan pangan, mendorong inovasi bioteknologi, dan mempersiapkan Indonesia menuju status WHO Listed Authority (WLA) serta kemandirian kesehatan nasional.
menitindonesia, JAKARTA — Di hadapan ratusan wisudawan Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L) 2025, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menyampaikan orasi ilmiah yang merangkum arah besar Indonesia menuju kemandirian kesehatan dan posisi negara dalam peta global inovasi bioteknologi, Sabtu (29/11/2025).
Dengan tema “The Role of Academia in Strengthening the Regulatory System to Support Health Innovation”, pidato itu menjadi semacam peta jalan, bukan hanya untuk industri, tetapi juga untuk dunia akademik yang hari ini melepas para calon ilmuwan muda.
“Science and everyday life cannot and should not be separated,” kutip Prof Taruna dari Rosalind Franklin. Ia menggarisbawahi bahwa ilmu bukan milik laboratorium semata—tapi hadir dalam setiap keputusan profesional yang memastikan keselamatan pasien dan mutu hidup masyarakat.
Indonesia Butuh Ketangguhan Kesehatan untuk Keluar dari Middle-Income Trap
Pemerintahan Presiden Prabowo, menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%, dan bagi Prof Taruna, kunci untuk mencapai salah satunya adalah ketahanan kesehatan nasional.
“Penduduk yang sehat adalah tenaga kerja yang produktif. Ketahanan kesehatan berdampak langsung pada produktivitas, kesiapsiagaan menghadapi krisis, pembukaan lapangan kerja, serta penurunan biaya kesehatan,” tegasnya.
Di titik ini, BPOM menjadi institusi yang tak bisa dipisahkan dari ekosistem inovasi kesehatan. Tugasnya memastikan bahwa obat, vaksin, hingga health supplement yang beredar benar-benar aman, efektif, dan berkualitas. Sistem regulasi yang kuat, kata Prof Taruna, ikut menentukan kelancaran industri farmasi dan bioteknologi nasional untuk menembus pasar global.
Prof Taruna kemudian memaparkan bagaimana model Triple Helix (ABG Collaboration) menjadi motor penggerak inovasi nasional. Data yang disampaikan cukup mencengangkan: potensi kontribusi ekonomi dari industri yang diawasi BPOM mencapai IDR 6.000 triliun—gabungan industri besar, UMKM pangan, kosmetik, jamu, dan obat.
Tiga peran besar dalam ABG: Akademisi: pusat riset, inovasi teknologi, dan pencetak SDM kompeten, Bisnis/Industri: penyedia fasilitas produksi, pendanaan, dan pengembangan teknologi, dan BPOM/Regulator: penentu standar, pengawasan, payung hukum, serta jaminan mutu-aman-berkhasiat.
Ia mencontohkan keberhasilan kolaborasi Kalbe Group: Efepoetin alfa (Kalbe–Genexine Biologics), MSC Project, Secretome Project bersama perguruan tinggi terkemuka
Inovasi biologis ini berpeluang menjadi solusi untuk penyakit degeneratif, langka, dan non-komunikabel yang saat ini masih minim obat.
Di sinilah i3L dianggap memiliki posisi istimewa. “Saya mendorong i3L memperkuat kurikulum berbasis regulatori, bioteknologi, keamanan pangan, dan quality management system. Pendidikan harus menyiapkan lulusan yang paham standar global,” ujar Prof Taruna.
Mendorong Riset Obat Lokal dan Kemandirian Farmasi
Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat riset obat dalam negeri melalui kontribusi akademisi. Menurut Prof Taruna, kampus memiliki empat peran strategis: riset dasar dan terapan untuk inovasi produk, penguatan SDM sains dan regulasi, kolaborasi riset nasional–internasional, dan integrasi mata kuliah seperti regulatory science, pharmacovigilance, dan QMS.
“Universitas bukan hanya pencetak gelar, tapi generator pengetahuan dan mitra strategis dalam inovasi kesehatan nasional,” ujar Prof Taruna.
Mengejar Status WHO Listed Authority (WLA)
Menurutnya, BPOM telah mencapai Maturity Level 3 (ML3) berdasarkan penilaian WHO tahun 2018 dan kini sedang menjalani proses evaluasi untuk memperoleh status WHO Listed Authority (WLA)—klasifikasi elite yang saat ini dimiliki regulator negara maju seperti Australia, Inggris, dan Jepang.
Prof Taruna Ikrar berinteraksi dengan para wisudawan i3L 2025, mendorong generasi ilmuwan muda berkontribusi pada inovasi obat dan bioteknologi Indonesia.
Jika BPOM meraih WLA, dampaknya besar: peningkatan kapasitas produksi obat-vaksin dalam negeri, ekspor produk kesehatan lebih mudah, reputasi internasional Indonesia semakin kuat. “Ini pencapaian yang tidak mungkin diraih tanpa dukungan dunia kampus,” ujarnya.
Di bagian ini, Prof Taruna memotret tren global ATMP (Advanced Therapy Medicinal Products)—mulai dari terapi sel, CAR-T, terapi gen, hingga tissue engineering.
Nilai pasar ATMP global diproyeksi tumbuh dari USD 9,37 miliar (2022) menjadi USD 22,48 miliar (2027). Artinya, industri kesehatan masa depan tak lagi konvensional—melainkan biomolekuler dan berbasis terapi canggih.
Indonesia, kata Prof Taruna, harus bersiap secara regulasi agar tidak tertinggal.
Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, Prof Taruna memperkenalkan filosofi kepemimpinannya, yakni Soaring – BPOM berambisi menjadi regulator kelas dunia, grounded – tetap berpijak pada nilai lokal dan kebutuhan masyarakat, serta Deeply-Rooted – Institusi dibangun di atas integritas, profesionalisme, riset, dan penguatan SDM.
“BPOM harus menjadi jembatan antara standar global dan kebutuhan masyarakat Indonesia.”
Pesan untuk Para Wisudawan
Mengutip Rosalind Franklin, Prof Taruna menegaskan bahwa ilmuwan tidak boleh memisahkan ilmu dari kehidupan nyata.
Para lulusan diminta mengabdikan diri untuk inovasi obat dan pangan, riset bioteknologi, peningkatan produksi nasional, hingga penguatan regulasi berbasis sains.
“Indonesia membutuhkan ilmuwan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan memegang amanah keselamatan pasien.”
Prof Taruna menutup pesannya dengan pantun yang menjadi ciri khas Prof Taruna: Air jernih dari pegunungan, Mengalir deras penuh harapan. Hari ini kita rayakan kelulusan, Esok jadi pionir inovasi dan keberlanjutan.
Para wisudawan selain menerima gelar sarjana—juga menerima pesan besar: masa depan kemandirian kesehatan Indonesia kini berada di tangan mereka. (andi esse)