AMRun 2025 di TMII Pecah! Kepala BPOM Taruna Ikrar Bongkar Fakta Kelam Antimikroba di Indonesia

Kepala BPOM Prof Taruna Ikrar dan Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad berbaur dengan ribuan peserta AMRun 2025 di TMII. Kehadiran keduanya menguatkan ajakan nasional untuk menggunakan antimikroba secara bijak dan mencegah ancaman resistensi antimikroba.
  • Dalam AMRun 2025, Prof Taruna Ikrar membeberkan angka mengerikan: 10 juta kematian akibat AMR tiap tahun. Ia tegas meminta masyarakat hentikan penggunaan antibiotik tanpa resep dan perkuat kesadaran publik.
menitindonesia, JAKARTA — Tidak ada yang lebih jujur dari suasana pagi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (30/11/2025). Ribuan orang berlari, tertawa, mengangkat tangan ke udara, namun tanpa mereka sadari, di balik kemeriahan itu terselip pesan serius: Indonesia sedang berkejaran dengan ancaman kesehatan yang sifatnya diam-diam mematikan — resistensi antimikroba (AMR).
BACA JUGA:
Taruna Ikrar: Tanpa Regulasi Kuat dan Akademisi Tangguh, Indonesia Tidak Akan Pernah Keluar dari Middle-Income Trap
Acara Antimikroba Run (AMRun) 2025 yang digelar Badan Pengawas Obat dan Makanan Repoblik Indonesia (BPOM RI) menjadi simbol bahwa ancaman global bisa dilawan bukan hanya dengan riset laboratorium, tetapi dengan kesadaran massal. Dan di tengah lautan manusia itu, satu sosok berdiri tidak hanya sebagai pimpinan lembaga, tetapi sebagai pengingat: Prof Taruna Ikrar, Kepala BPOM RI, yang sejak awal menggaungkan peringatan tentang “musuh senyap” ini.
“Ini bukan isu esok hari. Ini krisis hari ini,” kata Prof Taruna Ikrar dalam wawancara singkat di sela gelaran AMRun.
Ia menyampaikan fakta yang membuat siapa pun menelan napas: 10 juta orang di dunia meninggal setiap tahun akibat antimikroba. “Jika dibiarkan, angka itu akan naik menjadi 57 juta dalam 30 tahun ke depan,” ujarnya.
Kalimatnya sederhana, tetapi cara ia mengucapkannya membuat orang berhenti sejenak dari euforia lari pagi: “Antimikroba bukan ancaman masa depan. Ini krisis hari ini. Dan kalau kita menunggu, AMR tidak menunggu.”
Di tengah riuhnya musik dan suara MC, kalimat itu terasa seperti dentuman yang menggetarkan.
Picsart 25 11 30 14 08 19 551 11zon e1764493681766
Kepala BPOM Prof Taruna Ikrar berlari pada AMRun 2025 di TMII, mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap bahaya resistensi antimikroba dan pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak. Foto postingan IG @taruna_ikrar)

80 Persen Masyarakat Minum Antibiotik Tanpa Resep, Ini Berbahaya

Indonesia punya masalah besar yang jarang disadari: 80% masyarakat masih mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter.
Sebuah angka yang, bagi sebagian, mungkin terlihat “biasa saja”—namun bagi para ahli kesehatan, itu adalah peta jalan menuju bencana.
Oleh karena itu, BPOM merespons dengan tindakan nyata: penertiban distribusi obat,
penindakan apotek yang melanggar, sanksi terhadap distributor, dan edukasi publik secara massif, termasuk lewat AMRun 2025.
BACA JUGA:
Kepala BPOM Taruna Ikrar Luncurkan Layanan AI: Gaspol Reformasi Pengawasan Obat dan Makanan
Maka ketika ribuan peserta pagi itu melintasi garis start, seolah ada pesan yang ikut bergerak bersama langkah mereka: “Kesadaran adalah vaksin pertama.”

Kolaborasi Publik yang Menggerakkan Massa

Kesuksesan acara ini bukan hanya karena konsepnya, tetapi karena orkestrasi tim di balik layar. Deputi 1 BPOM, dr. William Adi Teja, MD., BMed., mendapat pujian langsung dari Prof Taruna atas penyelenggaraan yang rapi, meriah, dan penuh energi positif.
Hadir pula Utusan Khusus Presiden untuk Pembinaan Pemuda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, yang kehadirannya membuat AMRun semakin hidup dan menarik perhatian publik nasional. Selain Raffi, juga tampak Wakil Menteri Koperasi Farida Faricha, M.Si, Ir. Wakil Menteri PU, Ir. Diana Kusumastuti, M.T., Asisten Deputy Kemenko PMK, dr. Nancy Dian Anggareni, M.EPid., Pati Badan Intelijen dan Keamanan Polri, Irjen mahmud Nazly Harahap dan Perwakilan WHO Indonesia, Roderick Salenga.
Kehadiran pejabat negara, tenaga kesehatan, komunitas lari, hingga para pelajar menunjukkan satu hal: isu AMR tidak lagi elit dan teknis — ia kini menjadi gerakan masyarakat.

MURI, Edukasi, dan Masa Depan

BPOM juga mencatatkan prestasi dengan mendapatkan rekor MURI melalui produksi video edukasi resistensi antimikroba. Sebuah langkah kecil, tetapi berdampak panjang.
Karena pada akhirnya, melawan antimikroba, dimulai dengan cara memahami obat dan mengutamakan kesehatan manusia.

Lari Hari Ini, Selamatkan Jutaan Nyawa Esok

Prof Taruna menegaskan satu pelajaran: gerakan publik dapat menjadi senjata paling kuat menghadapi ancaman global.
Dan Prof Taruna merangkum semuanya dengan kalimat yang diunggah di akun Instagram miliknya: “Gerakan kecil hari ini bisa menyelamatkan jutaan nyawa esok. Kita berlari bukan untuk menang, tapi untuk menjaga Indonesia tetap sehat.”
TMII pagi itu, bukan hanya tempat berkumpul. Ia menjadi panggung sejarah kecil —
di mana olahraga, edukasi, dan kepedulian bergabung, memberi harapan bahwa Indonesia siap melawan musuh yang tak terlihat. (AE)