Prabowo Ajak BRICS Industrialisasi Bersama: Mari Optimalkan Sumber Daya

Presiden Prabowo bersama sejumlah pimpinan negara di momen KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India. (ist)
menitindonesia, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto menyerukan negara-negara anggota BRICS memperkuat kerja sama industrialisasi dan rantai pasok global. Prabowo menawarkan langkah konkret agar kekuatan sumber daya, teknologi, kapasitas produksi, dan pasar negara-negara berkembang disatukan untuk menghadapi tantangan global.
Seruan itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, Minggu (13/9/2026).
“Izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama. Mari kita mengoptimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama,” seru Prabowo.
Menurut Prabowo, negara-negara BRICS memiliki modal besar untuk memperkuat posisi bersama dalam rantai nilai global.
BRICS saat ini merepresentasikan sekitar 49 persen populasi dunia dan 40 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Kekuatan tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk meningkatkan investasi, memperkuat industri, sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

BACA JUGA:
Di HUT Demokrat, Prabowo Bicara soal Persaingan, Kritik hingga Persahabatan

Prabowo menilai kekuatan ekonomi negara-negara BRICS sebenarnya sudah saling melengkapi. Tantangannya kini adalah menghubungkan potensi tersebut agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
“BRICS pada dasarnya sudah memiliki rantai pasok. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya, sehingga kekuatan yang sudah kita miliki ini dapat menghasilkan nilai yang lebih besar bagi kita semua,” imbuhnya.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyoroti tantangan perubahan iklim dan kebencanaan yang dihadapi negara-negara berkembang.
Ia mencontohkan Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire, salah satu wilayah dengan aktivitas geologis paling tinggi di dunia.
Kondisi tersebut membuat Indonesia menghadapi berbagai risiko bencana, mulai dari kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem hingga aktivitas gunung berapi.
Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar. Mulai dari mineral kritis dan logam tanah jarang, sumber energi terbarukan untuk pengembangan teknologi bersih, hingga hutan yang memiliki peran penting bagi kehidupan global.
“Kita harus melihat adanya hubungan yang erat antara ketangguhan menghadapi perubahan iklim dan pembangunan nasional,” kata Prabowo.
Menurutnya, tantangan tersebut tidak bisa dihadapi Indonesia sendirian.
“Indonesia tidak sendirian menghadapi tantangan ini. Negara-negara anggota BRICS lainnya dan banyak negara di Global South juga menghadapi persoalan yang saling berkaitan,” imbuhnya.
Karena itu, Prabowo mendorong negara-negara BRICS menghadapi berbagai tantangan secara kolektif dengan menggabungkan sumber daya, kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan pasar yang dimiliki.
Prabowo menilai penguatan rantai pasok menjadi salah satu kunci menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Kerja sama antarnegara BRICS dinilai dapat diarahkan untuk memperkuat industri, meningkatkan investasi, serta menciptakan lapangan kerja dan peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
KTT BRICS ke-18 sendiri mengangkat empat pilar utama, yakni ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan.
Keempat pilar tersebut menjadi landasan BRICS dalam merespons berbagai tantangan global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik dan gangguan terhadap rantai pasok.
Perdana Menteri India Narendra Modi dalam forum yang sama turut menyoroti berbagai krisis yang melanda dunia, mulai dari pandemi, bencana iklim hingga gangguan rantai pasok.
Menurut Modi