menitindonesia, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini telah menjangkau lebih dari 58 juta penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia. Pelaksanaan program tersebut juga ditopang 26.723 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah terverifikasi dan menyerap sekitar 1,03 juta tenaga kerja lokal.
Juru Bicara Badan Gizi Nasional (BGN), Tysa Novenny, mengatakan jumlah penerima manfaat meningkat signifikan sejak program MBG resmi diluncurkan pada Januari 2025.
“Makan Bergizi Gratis dimulai pada Januari 2025 dengan 190 dapur yang melayani 570.000 penerima manfaat. Kini, lebih dari 58 juta anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menerima Makan Bergizi Gratis,” kata Tysa.
Menurutnya, perluasan jangkauan program didukung kesiapan jaringan dapur SPPG di berbagai daerah. Dapur-dapur tersebut tidak hanya bertugas menyediakan makanan bergizi, tetapi juga melibatkan masyarakat sekitar dalam kegiatan operasional dan pengadaan bahan pangan.
“Mereka dilayani lebih dari 26.000 dapur yang beroperasi. Dapur MBG mempekerjakan warga sekitar dan mengutamakan bahan dari petani, peternak, dan UMKM setempat,” tuturnya.
Berdasarkan data BGN, sebanyak 26.723 dapur telah terverifikasi dari target 27.485 dapur SPPG. Operasional dapur tersebut tercatat menyerap 1,03 juta tenaga kerja aktif dari masyarakat lokal.
Program MBG juga melibatkan 80.315 pemasok lokal dalam rantai pasok bahan pangan. Sebanyak 82,83 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Keterlibatan pemasok lokal tersebut diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, mulai dari pedagang, kelompok tani, hingga peternak di daerah.
Dari sisi pembiayaan, realisasi anggaran program MBG pada 2026 tercatat mencapai Rp165 triliun. BGN juga menyebut pengelolaan anggaran melalui efisiensi dan penguatan tata kelola berhasil mengembalikan dana sebesar Rp44 triliun ke kas negara.
Di sisi lain, BGN mengingatkan pentingnya menjaga mutu dan keamanan pangan dalam pelaksanaan program. Tysa meminta pihak sekolah maupun orang tua tetap melakukan langkah antisipasi apabila anak mengalami gejala medis setelah mengonsumsi makanan MBG.
Jika ditemukan gejala tertentu, keluarga diminta segera membawa anak ke puskesmas terdekat dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah agar dapat ditindaklanjuti dengan cepat.