Jusuf Kalla Sambut Delegasi IFRC, Dorong Kolaborasi Gerakan Kemanusiaan Global

Ketua PMI, Jusuf Kalla saat menyambut kedatangan DAG IFRC ke Indonesia. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Donor Advisory Group (DAG) dari International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) memulai kunjungan lapangan tahun 2025 di Indonesia, mulai 13 hingga 17 Oktober 2025.
Kunjungan ini berfokus pada aksi kemanusiaan berbasis lokal, penguatan ketangguhan masyarakat, serta pendekatan antisipatif dalam kesiapsiagaan bencana.
Rangkaian kunjungan meliputi tiga wilayah, yakni Jakarta, Banten, dan Lombok. Di ketiga lokasi tersebut, para delegasi dijadwalkan melihat langsung penerapan aksi kemanusiaan oleh Palang Merah Indonesia (PMI), termasuk program kesiapsiagaan dan mitigasi bencana berbasis komunitas.
DAG merupakan forum strategis antara Sekretariat IFRC dan para mitra donor utama, termasuk pemerintah serta Palang Merah Nasional dari berbagai negara. Forum ini berperan penting dalam memperkuat kolaborasi dan menetapkan arah strategis untuk merespons kebutuhan kemanusiaan secara efektif.

BACA JUGA:
Jusuf Kalla Sebut Tarif Impor Trump 32 Persen Tak Akan Berefek Besar Bagi Indonesia

Tahun ini, DAG dipimpin bersama oleh IFRC, Pemerintah Swedia, dan Palang Merah Swedia. Fokus utama pertemuan diarahkan pada tiga isu: aksi antisipatif (anticipatory action), pelokalan, dan keberlanjutan finansial Palang Merah Nasional. Delegasi yang hadir berasal dari Australia, Kanada, Spanyol, Swedia, Belanda, dan Inggris.
Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, menyambut para delegasi di Markas Pusat PMI, Jakarta, Senin (13/10/2025).
“Selamat datang kepada seluruh mitra kemanusiaan. Kunjungan ini mempererat kemitraan, memperluas pembelajaran bersama, dan membuka peluang baru untuk kolaborasi,” kata Jusuf Kalla. “Setiap kemitraan yang dibangun dengan ketulusan membawa kita selangkah lebih dekat menuju dunia tanpa yang tertinggal,” tambahnya.
Sementara itu, Under Secretary General IFRC untuk Diplomasi Kemanusiaan dan Digitalisasi, Nena Stoiljkovic, menilai Indonesia sebagai contoh sukses investasi jangka panjang pada lembaga lokal.
“PMI telah membuktikan bahwa model yang dipimpin secara lokal mampu menciptakan ketangguhan nyata dalam skala besar,” ujarnya.
Sebagai negara yang rawan bencana seperti gempa bumi, banjir, dan letusan gunung berapi, Indonesia menempati posisi penting dalam pengembangan sistem kesiapsiagaan. Melalui dukungan IFRC, PMI kini menjadi salah satu organisasi kemanusiaan terkuat di Asia Pasifik, dengan kemampuan merespons bencana dalam hitungan jam.
Pada tahun ini, PMI juga menuntaskan Early Action Protocol (EAP) pertamanya untuk menghadapi banjir, di bawah mekanisme Disaster Response Emergency Fund (DREF) IFRC. Program tersebut menjadi tonggak penting dalam peralihan dari respons reaktif menuju aksi antisipatif, memungkinkan bantuan diberikan lebih cepat sebelum bencana terjadi.
Selama kunjungan, para anggota DAG dijadwalkan meninjau sejumlah kegiatan lapangan:
  • Jakarta: Pertemuan strategis dengan pimpinan PMI, kementerian/lembaga, badan PBB, ASEAN, AHA Centre, serta pelaku aksi antisipatif.
  • Banten: Kunjungan ke PMI provinsi untuk melihat kemitraan lokal, peran relawan, dan upaya keberlanjutan finansial.
  • Lombok: Kegiatan komunitas seperti restorasi mangrove, sistem peringatan dini, dan solusi berbasis alam.
Kunjungan DAG tahun ini tidak hanya menunjukkan kekuatan kepemimpinan lokal dan semangat kerelawanan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana aksi antisipatif dan kemitraan strategis dapat menyelamatkan nyawa serta meningkatkan ketahanan masyarakat jangka panjang.