Masuk Musim Hujan, BPBD Maros Hentikan Sementara Distribusi Air Bersih

Petugas BPBD Maros menyalurkan air bersih bagi warga yang mengalami krisis air bersih. (ist)
menitindonesia, MAROS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros menghentikan sementara pendistribusian air bersih ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan. Kebijakan ini diambil lantaran wilayah Maros mulai diguyur hujan sejak pertengahan Oktober 2025.
Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan penghentian distribusi dilakukan karena sebagian besar daerah sudah kembali mendapatkan pasokan air dari curah hujan.
“Untuk sementara penyaluran air dihentikan karena sudah memasuki musim hujan. Namun jika ada permintaan mendesak, terutama dari rumah ibadah atau pesantren yang kekurangan air, kami tetap siap melakukan suplai,” jelas Towadeng, Kamis (23/10/2025).
Selama masa kekeringan, BPBD Maros telah menyalurkan sekitar 550 tangki air bersih dengan kapasitas 5.000 liter per tangki, atau total 2,75 juta liter air.

BACA JUGA:
Paripurna Pembahasan APBD 2026 di DPRD Maros, Wabup: Kesehatan dan Pendidikan Tetap Preoritas!

Empat kecamatan menjadi penerima bantuan terbesar, yakni Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru. Penyaluran juga mencakup wilayah Simbang, Bontoa, dan Turikale yang turut terdampak kekeringan.
“Kami fokus pada daerah pesisir yang paling terdampak. Setiap tangki berkapasitas 5.000 liter,” tambahnya.
Meski hujan mulai turun, dua kecamatan masih belum sepenuhnya pulih dari krisis air, yakni Bontoa dan Lau.
“Wilayah Bontoa dan Lau masih mengalami keterbatasan air meski hujan sudah mulai turun,” ungkap Towadeng.
Ia menjelaskan, masyarakat pesisir biasanya menggunakan air empang untuk kebutuhan sehari-hari. Namun tahun ini, kondisi jauh lebih baik berkat suplai air dari berbagai pihak.
“Alhamdulillah, masyarakat tidak lagi menggunakan air empang. Sinergi antar lembaga semakin baik dan penyaluran air berjalan efektif,” ujarnya.
Towadeng menyebut, pendistribusian tahun ini melibatkan banyak pihak, termasuk BPBD Provinsi Sulsel, Pertamina Patra Niaga, Bank Sulselbar, PMI, dan Baznas. Dukungan tambahan itu membuat capaian distribusi air tahun ini melampaui target.
“Anggaran berasal dari pemerintah daerah, tapi dukungan swasta dan masyarakat juga besar. Tahun ini kami operasikan lima armada penuh ditambah bantuan dari provinsi,” katanya.
Sementara itu, warga Kecamatan Marusu, Raiah, mengaku sangat terbantu dengan bantuan air bersih dari pemerintah.
“Kalau tidak ada bantuan, kami biasanya pakai air empang yang berbau dan asin,” tutur Raiah.
Raiah menambahkan, sebelum ada bantuan, warga terpaksa membeli air tangki seharga Rp100 ribu per isi untuk kebutuhan minum dan masak.
“Kalau tidak punya uang, kami campur air empang dengan sedikit air bersih yang ada. Air hujan yang biasanya ditampung juga sudah habis, sementara PDAM belum mampu menyalurkan air ke wilayah kami,” ujarnya.