Taruna Ikrar di PTIK: BPOM Tawarkan Neuroleadership, Formula Mencetak Pemimpin Indonesia Penakluk Era AI

Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. menyampaikan kuliah umum tentang neuroleadership sebagai fondasi kepemimpinan menghadapi era kecerdasan buatan (AI) kepada mahasiswa Program Magister STIK Lemdiklat Polri di PTIK, Jakarta, Senin (6/7/2026).
  • Kepala BPOM RI menegaskan kepemimpinan berbasis neurosains menjadi fondasi menghadapi revolusi kecerdasan buatan, transformasi digital, dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.
menitindonesia, JAKARTA – Ketika dunia berlomba membangun kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. justru mengingatkan bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, melainkan oleh kualitas manusia yang mengendalikan teknologi tersebut.
Pesan itu disampaikan Taruna Ikrar saat memberikan kuliah umum bertajuk “Membangun Kepemimpinan Berbasis Neurosains untuk Menghadapi Tantangan Nasional dan Global” pada kegiatan Prakuliah/Orientasi Kampus Mahasiswa Program Magister STIK Lemdiklat Polri Angkatan XVI Tahun Akademik 2026/2027 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta, Senin (6/7/2026).
BACA JUGA:
Genjot Ketahanan Pangan, Kementan Kembangkan 100 Ribu Hektare Kawasan Pertanian di Papua Selatan
Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar hadir didampingi Sekretaris Utama BPOM RI Irjen Pol. Jayadi, S.I.K., serta Deputi IV Bidang Penindakan BPOM RI Irjen Pol. Tubagus Ade Hidayat, S.I.K., M.Sos.. Kehadiran jajaran pimpinan BPOM menegaskan komitmen institusi dalam mendorong lahirnya kepemimpinan yang adaptif, berbasis ilmu pengetahuan, dan siap menjawab tantangan perubahan global.
Di hadapan para mahasiswa pascasarjana PTIK, Taruna Ikrar memaparkan bahwa dunia tengah memasuki babak baru yang ditandai oleh perubahan demografi, urbanisasi, pergeseran kekuatan ekonomi ke Asia, dinamika geopolitik, krisis iklim, hingga ledakan perkembangan teknologi berbasis AI. Lanskap global yang berubah cepat itu, menurutnya, menuntut hadirnya pemimpin dengan cara berpikir baru yang mampu beradaptasi sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Indonesia, lanjut Taruna Ikrar, memiliki peluang besar memanfaatkan bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan posisi strategis di kawasan Asia untuk menjadi negara maju pada 2045. Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila dipimpin oleh sumber daya manusia yang visioner, inovatif, kolaboratif, serta mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Selanjutnya, Taruna Ikrar mengajak peserta memahami neurosains sebagai disiplin ilmu yang mempelajari sistem saraf, khususnya otak, sebagai pusat pengendali pikiran, emosi, perilaku, dan pengambilan keputusan. Menurutnya, otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk terus berkembang melalui neuroplastisitas, yakni kemampuan membentuk jaringan saraf baru, melahirkan neuron baru, serta beradaptasi terhadap pengalaman dan lingkungan. Kemampuan tersebut menjadi landasan bahwa kepemimpinan dapat terus dibangun melalui proses belajar yang berkesinambungan.

Picsart 26 07 06 14 52 40 825 e1783324733655

Neuroleadership, Ketika Ilmu Otak Menjadi Fondasi Kepemimpinan Modern

Berangkat dari pemahaman tersebut, Taruna Ikrar memperkenalkan konsep neuroleadership, sebuah pendekatan kepemimpinan modern yang memadukan neurosains dengan praktik kepemimpinan.
Ia menjelaskan bahwa terdapat empat prinsip utama yang harus dimiliki setiap pemimpin. Pertama, self-regulation, yaitu kemampuan mengendalikan diri sehingga keputusan tidak didorong oleh emosi sesaat. Kedua, mindfulness, yakni kesadaran penuh terhadap situasi yang sedang dihadapi. Ketiga, empathy-based leadership, kemampuan memahami kebutuhan dan perasaan orang lain untuk membangun hubungan yang sehat. Keempat, decision based on logic, yaitu membiasakan diri mengambil keputusan berdasarkan data, fakta, dan logika ilmiah.
BACA JUGA:
Piala Dunia: 90 Menit di Lapangan, 24 Jam Mengawasi Obat
Menurut Taruna Ikrar, perpaduan empat prinsip tersebut akan melahirkan pemimpin yang mampu berpikir jernih, mengelola emosi, membangun kolaborasi, sekaligus mengarahkan organisasi menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat.
Ia juga menegaskan bahwa kemajuan AI harus dipandang sebagai peluang, bukan ancaman. Kecerdasan buatan mampu mengolah data dalam jumlah besar, mengenali pola, dan menghasilkan rekomendasi dengan kecepatan yang melampaui kemampuan manusia. Namun teknologi tetap membutuhkan sentuhan manusia dalam memberikan pertimbangan etika, empati, pengalaman, dan kebijaksanaan.
“AI dapat mempercepat cara kita bekerja, tetapi neurosains mengingatkan bagaimana manusia seharusnya berpikir,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan Taruna Ikrar dalam kuliah umum tersebut.
Dalam perspektif BPOM, sinergi antara AI dan neurosains membuka ruang transformasi pelayanan publik yang lebih cepat, adaptif, dan berbasis risiko. Teknologi akan memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan melalui analisis data yang lebih akurat, deteksi dini terhadap potensi risiko, serta pengambilan keputusan yang semakin presisi. Di sisi lain, manusia tetap menjadi pusat pengambilan keputusan strategis dengan menjunjung tinggi integritas, tanggung jawab moral, dan kepentingan masyarakat.
Di akhir kuliah umum, Taruna Ikrar menegaskan bahwa transformasi organisasi selalu diawali oleh transformasi diri. Kepemimpinan masa depan, menurutnya, harus dibangun di atas fondasi otak yang sehat, karakter yang kuat, kecerdasan emosional, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan.
Bagi Taruna Ikrar, teknologi akan terus berkembang melampaui imajinasi manusia. Namun, pemimpin yang mampu memadukan logika ilmiah, empati, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan akan selalu menjadi penentu arah perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.