Sekprov Sulsel Sambut Komisi VI DPR RI, Bahas Masa Depan Industri Semen di Kawasan Timur Indonesia

Sekprov Sulsel, Jufri Rahman saat menyambut Kunjungan Komisi VI DPR-RI. (ist)
MAKASSAR — Komisi VI DPR RI turun langsung ke Sulawesi Selatan untuk mengkaji kondisi industri semen yang tengah menghadapi tantangan ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan tingkat penyerapan pasar. Persoalan tersebut dinilai berpengaruh terhadap keberlanjutan industri, iklim investasi, hingga perlindungan tenaga kerja.
Kunjungan kerja spesifik Komisi VI DPR RI itu berlangsung di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Jumat (10/7/2026), dan diterima Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman.
Kunjungan dipimpin Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Nurdin Halid, sebagai tindak lanjut Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Pemerhati Konservasi Alam Indonesia Sulawesi Selatan yang sebelumnya membahas perkembangan sektor industri semen di daerah tersebut.
Dalam pertemuan itu, Komisi VI DPR RI mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku industri semen, hingga pemangku kepentingan lainnya untuk menghimpun masukan secara komprehensif terkait kondisi industri semen di Sulawesi Selatan.

BACA JUGA:
Sekprov Sulsel Dorong BPD Perkuat Daya Saing dan Transformasi Digital

Hadir dalam forum tersebut Bupati Barru, Bupati Pangkep, perwakilan DPRD Barru dan DPRD Pangkep, PT Danantara Asset Management, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), PT Semen Tonasa, PT Semen Bosowa, PT Conch Cement Indonesia, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Berbagai isu strategis mengemuka dalam diskusi tersebut, mulai dari keberlanjutan industri, perkembangan investasi, perlindungan tenaga kerja, hingga upaya menjaga iklim usaha yang sehat dan kompetitif.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Nurdin Halid, menegaskan bahwa investasi tetap menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, menurutnya, pengembangan investasi harus tetap memperhatikan keberlangsungan industri yang sudah ada serta dampaknya terhadap tenaga kerja.
“Kunjungan kerja spesifik ini merupakan tindak lanjut atas aspirasi yang sebelumnya disampaikan pemerhati lingkungan di Sulawesi Selatan terkait sektor industri semen,” kata Nurdin.
Ia mengungkapkan, kapasitas produksi semen di kawasan Indonesia Timur saat ini mencapai sekitar 27 juta ton per tahun. Namun, tingkat penyerapannya baru berada di kisaran 13 juta ton.
Menurut Nurdin, kondisi kelebihan kapasitas produksi tersebut menjadi salah satu isu penting yang perlu mendapat perhatian bersama agar tidak berdampak terhadap keberlangsungan industri dan investasi di masa depan.
Berbagai masukan yang diperoleh dalam kunjungan kerja tersebut, lanjutnya, akan menjadi bahan pembahasan Komisi VI DPR RI bersama kementerian dan lembaga terkait sesuai kewenangan masing-masing.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi, keberlangsungan dunia usaha, perlindungan tenaga kerja, dan kelestarian lingkungan.
Menurut Jufri, Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia. Potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, infrastruktur, serta letak geografis yang strategis menjadi modal besar dalam menarik investasi dan mengembangkan sektor industri.
Karena itu, Pemprov Sulsel terus berupaya menciptakan iklim investasi yang sehat, kondusif, dan berkelanjutan dengan mengedepankan kepastian hukum serta perlindungan terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam aktivitas usaha.
“Salah satu fungsi pemerintah adalah melindungi segenap bangsa Indonesia. Karena itu, setiap kebijakan pembangunan perlu memperhatikan keberlangsungan dunia usaha yang telah berjalan sekaligus memberikan perlindungan kepada tenaga kerja,” ujar Jufri.
Ia berharap kunjungan kerja Komisi VI DPR RI dapat memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjaga iklim investasi sekaligus mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan di Sulawesi Selatan.
Pertemuan tersebut juga menjadi momentum penting untuk mencari titik temu antara kepentingan investasi, keberlangsungan industri, perlindungan tenaga kerja, dan aspek lingkungan, sehingga sektor industri semen tetap menjadi salah satu penggerak ekonomi di Sulawesi Selatan dan Kawasan Timur Indonesia.