Tinjau Lorong Kuliner, Walkot Makassar Ingin Tiap RT/RW Punya Konsep Unggulan Berbasis Potensi Lokal

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin atau Appi saat menghadiri Malam Weekend Kuliner Lorong 37 di Jalan Sungai Limboto, Kelurahan Maradekaya, Kecamatan Makassar. (IST)
menitindonesia, MAKASSAR – Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mendorong setiap lingkungan berbasis RT/RW tidak hanya menjadi kawasan yang bersih dan tertata, tetapi juga berkembang sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang produktif dan bernilai ekonomi.
Hal itu disampaikan Munafri, yang akrab disapa Appi, saat menghadiri Malam Weekend Kuliner Lorong 37 di Jalan Sungai Limboto, Kelurahan Maradekaya, Kecamatan Makassar, Sabtu (1/8/2026), dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam kunjungannya, Appi mengapresiasi warga RT 003 RW 001 yang berhasil mengubah lorong permukiman menjadi kawasan yang bersih, hijau, dan produktif melalui semangat gotong royong.
Di lorong tersebut, warga menerapkan sistem pengelolaan sampah dengan tempat sampah terpilah untuk sampah organik, anorganik, residu hingga B3. Selain itu, warga juga mengembangkan urban farming menggunakan sistem hidroponik dan polibag, serta membudidayakan ternak ayam.

BACA JUGA:
Hadiri Pengukuhan FKLA Sulsel, Walkot Makassar: Tak Ada Tempat untuk Konflik Agama di Makassar

Menurut Appi, seluruh aktivitas tersebut dapat dikembangkan menjadi sebuah ekosistem ekonomi berbasis lingkungan. Sampah organik, misalnya, bisa diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan melalui budidaya maggot yang selanjutnya digunakan sebagai pakan ternak.
“Tidak banyak warga masyarakat yang bisa secara bersama-sama bergotong royong menciptakan suasana yang sangat asri dan bersih seperti ini,” kata Appi.
Ia juga mendorong setiap wilayah membentuk dan mengoptimalkan Bank Sampah Unit. Menurutnya, sampah anorganik yang dipilah memiliki nilai jual sehingga dapat menjadi sumber tambahan pendapatan bagi masyarakat.
“Inilah yang kita harapkan di dalam satu lingkungan yang punya sistem siklus integrasi yang bisa menjaga kebersihan lingkungan dengan mengolah sampah dengan baik,” ujarnya.
Appi menegaskan setiap RT/RW tidak harus menerapkan konsep yang sama. Menurutnya, masing-masing wilayah justru perlu mengembangkan potensi lokal sesuai karakteristik lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
Sebagai contoh, ia menyebut Kelurahan Berua, Kecamatan Biringkanaya, yang tengah mengembangkan kawasan berbasis tanaman herbal sebagai identitas wilayah. Keberagaman konsep tersebut dinilai menjadi kekuatan karena mampu menghadirkan inovasi yang berbeda di setiap lingkungan.
Ia pun mengingatkan agar berbagai program yang telah dibangun warga tidak berhenti pada tahap penataan semata, tetapi terus dipelihara sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Karena itu, Appi meminta camat dan lurah aktif mendampingi serta memperkuat berbagai inisiatif masyarakat agar gerakan pemberdayaan lingkungan terus berkembang.
Dalam kesempatan tersebut, Appi kembali menegaskan komitmen Pemerintah Kota Makassar memberikan penghargaan bagi lingkungan terbaik. Pemkot, kata dia, telah menyiapkan hadiah sebesar Rp100 juta bagi RT/RW terbaik yang akan diumumkan pada peringatan Hari Jadi Kota Makassar mendatang.
Menurutnya, hadiah tersebut bukan diperuntukkan bagi kepentingan pribadi pengurus RT atau RW, melainkan digunakan untuk kebutuhan bersama, seperti pengadaan kursi, tenda, perbaikan pos ronda, maupun fasilitas lingkungan lainnya.
“Hadiah ini untuk masyarakat. Tujuannya agar semakin banyak lingkungan yang termotivasi membangun kawasan yang bersih, produktif, dan bermanfaat bagi warganya,” pungkas Appi.