
Oleh: Akbar Endra
(Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Media Sosial dan Humas)
menitindonesia, ESEI — Sudah cukup banyak kuliah umum Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. yang saya ikuti. Dari kampus-kampus besar, forum akademik, seminar kesehatan, hingga ruang-ruang diskusi yang mempertemukan ilmuwan, akademisi, mahasiswa, dan para pelaku bisnis. Hampir semuanya memperlihatkan keluasan wawasan seorang ilmuwan yang terbiasa berpikir sistematis, berbicara berbasis data, dan menjelaskan berbagai persoalan melalui perspektif sains.
Namun, ada sesuatu yang berbeda ketika Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI itu berdiri di hadapan ratusan peserta Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg ke-36, Sespimmen Polri Dikreg ke-67, dan SPPK Angkatan ke-4 di Sespim Lemdiklat Polri, Lembang, Jawa Barat, Kamis, 27 Agustus 2026, lalu.
BACA JUGA:
Prabowo Dadakan Sambangi Hunian Senen, Warga: Dulu di Pinggir Rel, Kini Punya Rumah
Bukan karena forum tersebut dihadiri para calon pemimpin strategis Polri yang kelak akan mengisi posisi-posisi penting dalam institusi kepolisian. Bukan pula karena lokasi kegiatan berada di lembaga pendidikan tertinggi kepolisian yang selama puluhan tahun menjadi tempat menempa para pemimpin nasional di lingkungan Polri.
Yang membuat kuliah umum itu terasa berbeda adalah energi yang mengalir dari materi yang disampaikan. Sebuah energi yang tidak hanya berbicara tentang kepemimpinan sebagai ilmu, tetapi juga tentang kepemimpinan sebagai kesadaran, tanggung jawab moral, dan pengabdian kepada sesama manusia.
Saya hadir di sana sebagai salah satu tim pendamping Kepala BPOM, bersama Sekretaris Utama BPOM RI Irjen Pol. Dr. Jayadi, S.I.K., Deputi Bidang Penindakan BPOM RI Irjen Pol. Tubagus Ade Hidayat, S.Sos., S.I.K., serta sejumlah pejabat teras BPOM lainnya. Dari tempat saya duduk di pojok depan, saya menyaksikan bagaimana para peserta mengikuti setiap paparan dengan penuh perhatian. Sebagian mencatat poin-poin penting yang muncul di layar presentasi. Sebagian lainnya mengabadikan slide yang ditampilkan. Tidak sedikit yang tampak menganggukkan kepala ketika Prof. Taruna Ikrar menjelaskan bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin sesungguhnya bukanlah kompetitor di luar dirinya, melainkan kemampuan mengelola dirinya sendiri.
Pada beberapa bagian, ruangan itu terasa begitu hening.
Mungkin karena setiap orang yang hadir menyadari bahwa kalimat tersebut bukan hanya ditujukan kepada para calon jenderal Polri. Kalimat itu sesungguhnya ditujukan kepada siapa saja yang suatu hari dipercaya memimpin orang lain.
Materi yang disampaikan bernama Neuroleadership.
Istilah itu mungkin terdengar akademis. Namun di tangan seorang ilmuwan saraf yang juga memimpin lembaga negara, Neuroleadership menjelma menjadi gagasan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bagaimana kepemimpinan sesungguhnya berakar pada cara kerja otak manusia dalam berpikir, mengambil keputusan, mengelola emosi, membangun empati, dan membentuk karakter.
Di tengah dunia yang bergerak sangat cepat akibat revolusi kecerdasan buatan (artificial intelligence), transformasi digital, dan perubahan geopolitik global, Taruna Ikrar mengingatkan bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin bukanlah perkembangan teknologi. Tantangan terbesar justru berada di dalam dirinya sendiri.
Mampukah ia mengendalikan emosinya ketika menghadapi tekanan?
Mampukah ia tetap jernih ketika dihadapkan pada pilihan yang sulit?
Mampukah ia menjaga integritas ketika kekuasaan berada dalam genggamannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi inti dari Neuroleadership yang dipaparkan hari itu.
Semakin lama saya mendengarkan, semakin saya memahami bahwa yang dibahas bukan hanya otak sebagai organ biologis. Yang dibicarakan adalah manusia dalam pengertian yang paling utuh. Sebab di dalam otak manusia tidak hanya lahir kemampuan berpikir logis, tetapi juga tumbuh kemampuan memahami orang lain, membangun kepercayaan, menunjukkan kepedulian, serta menghadirkan rasa keadilan dalam setiap keputusan.
Dari sanalah lahir kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kepedulian. Dari sanalah berkembang kemampuan untuk bekerja sama, menghormati sesama manusia, serta menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi.
Pada titik inilah saya melihat Neuroleadership bukan hanya sebagai teori kepemimpinan modern, melainkan sebagai ilmu yang memiliki dimensi moral dan spiritual yang sangat kuat. Bukan spiritual dalam pengertian yang sempit, melainkan sebagai energi batin yang membimbing seseorang untuk menggunakan pengetahuan, kewenangan, dan kekuasaan secara bertanggung jawab.
Hal yang paling menarik dari kuliah umum tersebut justru terletak pada upaya Prof. Taruna menjembatani tiga dunia yang selama ini sering dipisahkan. Dunia ilmu pengetahuan yang berbicara tentang otak, dunia kepemimpinan yang berbicara tentang pengaruh, dan dunia moralitas yang berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan.
Biasanya ilmuwan berbicara mengenai sistem saraf dan fungsi biologis otak. Tokoh agama berbicara mengenai hati dan kebijaksanaan. Para motivator berbicara tentang karakter dan kesuksesan. Dalam forum itu, ketiganya seolah bertemu dalam satu titik yang sama: manusia hanya dapat menjadi pemimpin yang baik apabila mampu mengelola pikirannya, mengendalikan emosinya, dan merawat nuraninya.














