Rosan Roeslani Ungkap Realisasi Investasi RI Capai Rp1.539 Triliun, Hilirisasi Tumbuh 11,3 Persen

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.539,2 triliun sepanjang Januari hingga September 2026. Capaian tersebut tumbuh 7,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan setara 75,4 persen dari target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, mengatakan realisasi investasi pada triwulan III 2026 saja mencapai Rp528,7 triliun.
Capaian tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang membahas perekonomian di Istana Negara, Senin (19/10/2026).
“Capaian realisasi investasi triwulan III 2026 itu mencapai Rp528,7 triliun. Sehingga, total investasi dari Januari sampai September 2026 totalnya adalah Rp1.539,2 triliun,” ujar Rosan.
Berdasarkan sumber modal, investasi sepanjang Januari-September 2026 terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp761,4 triliun atau 49,5 persen dari total realisasi. Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp777,8 triliun atau 50,5 persen.
Singapura menjadi negara dengan nilai investasi terbesar di Indonesia, yakni USD 14 miliar atau 29,6 persen dari total PMA. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong dengan nilai USD 12,8 miliar, Tiongkok USD 5 miliar, Amerika Serikat USD 3,4 miliar, dan Jepang USD 2,6 miliar.
“Jika (nilai) Hong Kong dan Tiongkok digabung, maka (realisasi investasi) mereka akan lebih besar dari Singapura,” jelas Rosan.
Dari sisi persebaran wilayah, investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp779,4 triliun atau 50,6 persen dari total realisasi investasi nasional. Adapun investasi di Pulau Jawa tercatat Rp759,8 triliun atau 49,4 persen.
Data tersebut menunjukkan realisasi investasi di luar Jawa sedikit lebih besar dibandingkan di Jawa. Sejumlah wilayah, seperti Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku, turut menjadi tujuan penanaman modal, terutama pada sektor industri dan pengolahan sumber daya alam.
Untuk realisasi PMA berdasarkan lokasi, Jawa Barat menempati posisi teratas dengan nilai Rp139,2 triliun. Berikutnya, Sulawesi Tengah mencatat Rp110 triliun, Maluku Utara Rp91,9 triliun, DKI Jakarta Rp89,1 triliun, dan Kalimantan Barat Rp42,7 triliun.
“Untuk PMA, Jawa Barat menjadi tujuan pertama dengan nilai Rp139,2 triliun. Kemudian Sulawesi Tengah sebesar Rp110 triliun karena adanya hilirisasi, Maluku Utara sebesar Rp91,9 triliun, DKI Jakarta sebesar Rp89,1 triliun, dan Kalimantan Barat sebesar Rp42,7 triliun,” tuturnya.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, realisasi investasi tersebut juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Sepanjang Januari hingga September 2026, investasi di Indonesia tercatat menyerap 2.194.496 tenaga kerja atau hampir 2,2 juta orang.
“Ini untuk Januari sampai dengan September 2026 sehingga total penyerapan tenaga kerja itu mencapai 2.194.496 orang,” kata Rosan.
Rosan juga mengungkapkan realisasi investasi di sektor hilirisasi terus meningkat. Hingga triwulan III 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun atau tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai tersebut berkontribusi sebesar 31,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional sepanjang Januari-September 2026.
Sektor mineral masih mendominasi investasi hilirisasi dengan nilai Rp335,1 triliun. Investasi tersebut mencakup pengolahan nikel, bauksit, besi dan baja, tembaga, pasir silika, serta komoditas lainnya.
Selain mineral, investasi hilirisasi perkebunan dan kehutanan mencapai Rp83,6 triliun. Kemudian, sektor minyak dan gas bumi mencatat Rp54 triliun, sedangkan perikanan dan kelautan mencapai Rp7,3 triliun.
“Yang paling tinggi memang masih mineral dengan nilai Rp335,1 triliun, di dalamnya ada nikel, bauksit, besi baja, tembaga, pasir silika, dan lainnya. Selain itu, terdapat hilirisasi perkebunan dan kehutanan sebesar Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54 triliun, dan perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun,” pungkasnya.