Ketika AI Mengubah Masa Depan Vaksin, Taruna Ikrar Tegaskan Peran Strategis BPOM dalam Perlindungan Kesehatan Dunia

Kepala BPOM RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyampaikan kuliah umum bertajuk "Bridging the Vaccine Gap: Scientific and Technological Advances for Diseases Lacking Effective Vaccines" di Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L), Jakarta, Selasa (3/11/2026). Dalam paparannya, Taruna membahas perkembangan teknologi AI dan bioteknologi dalam pengembangan vaksin generasi baru serta pentingnya memperkuat akses dan perlindungan kesehatan masyarakat.
  • Dari kecerdasan buatan hingga rekayasa genetika, revolusi teknologi membuka harapan baru bagi penyakit yang selama ini sulit ditaklukkan. Namun, menemukan vaksin hanyalah separuh perjalanan. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap inovasi memenuhi standar keamanan, mutu, dan dapat diakses masyarakat luas.
menitindonesia, JAKARTA — Ancaman penyakit tidak pernah menunggu kesiapan manusia. Virus terus bermutasi, patogen mengembangkan kemampuan menghindari sistem kekebalan tubuh, sementara sejumlah penyakit mematikan masih belum memiliki vaksin yang benar-benar efektif. Di tengah tantangan itu, dunia membutuhkan lompatan teknologi, kolaborasi lintas disiplin, dan sistem perlindungan kesehatan yang mampu mengikuti perubahan zaman.
Persoalan inilah yang diangkat Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., ketika menyampaikan kuliah umum di Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L), Jakarta, Selasa (3/11/2026).
BACA JUGA:
Klaim Pemerintah, MBG Jangkau 58 Juta Penerima Manfaat dan Serap 1,03 Juta Tenaga Kerja
Mengusung tema “Bridging the Vaccine Gap: Scientific and Technological Advances for Diseases Lacking Effective Vaccines”, Taruna mengajak kalangan akademisi dan peserta kuliah umum, yang juga dihadiri oleh Rektor Universitas i3L  Katherine, S.T., Ph.D., melihat salah satu tantangan terbesar ilmu kedokteran modern: kesenjangan antara kebutuhan masyarakat terhadap vaksin dengan ketersediaan vaksin yang mampu memberikan perlindungan secara efektif.
Sedikitnya 20 patogen prioritas dunia masih memenuhi kriteria kesenjangan vaksin. Di antaranya HIV, tuberkulosis (TBC), malaria, hepatitis C, Respiratory Syncytial Virus (RSV), dan herpes simplex virus tipe 2.
“Penyakit-penyakit tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan ilmu kedokteran belum sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas sistem biologis manusia,” kata Taruna.
Sejumlah patogen memiliki kemampuan mengubah struktur antigen, menghindari respons antibodi, bahkan mengganggu mekanisme pertahanan alami tubuh. Sementara itu, kata dia, mahalnya biaya penelitian, keterbatasan fasilitas uji klinis, kapasitas manufaktur, dan ketimpangan akses kesehatan membuat pengembangan serta distribusi vaksin semakin menantang.
Bagi Taruna, menjawab persoalan tersebut membutuhkan pendekatan baru. Pengembangan vaksin tidak bisa lagi bertumpu pada satu teknologi. “Integrasi berbagai disiplin ilmu justru menjadi kunci untuk mempercepat lahirnya vaksin generasi berikutnya,” katanya.
Salah satu gagasan penting yang disampaikan Taruna adalah bagaimana kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara ilmuwan memahami penyakit dan merancang kandidat vaksin.
Dalam paparannya, ia menguraikan enam platform teknologi yang sedang membentuk masa depan pengembangan vaksin. Mulai dari teknologi messenger RNA (mRNA) dan self-amplifying RNA (saRNA), vaksin berbasis viral vector, rekayasa antigen berbantuan AI, antibodi penetral spektrum luas, vaksin mukosa dan inhalasi, hingga sistem adjuvan generasi terbaru.
Keenam pendekatan tersebut memiliki keunggulan masing-masing. Namun, kekuatan terbesarnya muncul ketika berbagai teknologi itu dipadukan dalam satu ekosistem penelitian yang saling mendukung.
Teknologi Cryo-Electron Microscopy, misalnya, memungkinkan ilmuwan mempelajari struktur protein secara sangat terperinci. Informasi tersebut kemudian dapat dimanfaatkan oleh kecerdasan buatan seperti AlphaFold2 dan RFdiffusion untuk membantu merancang antigen secara lebih presisi.
Di sisi lain, ujar Taruna, teknologi mRNA memungkinkan instruksi genetik untuk menghasilkan antigen dikembangkan dengan pendekatan yang lebih fleksibel.
Dalam materi kuliahnya, Taruna menjelaskan bahwa setelah urutan mRNA yang mengode antigen ditentukan, produksi suatu batch secara teoritis dapat disiapkan dalam waktu 4–6 minggu dengan memenuhi persyaratan produksi sesuai standar Good Manufacturing Practice (GMP).
Sementara teknologi saRNA menawarkan potensi efisiensi dosis. Platform ini memungkinkan materi genetik memperbanyak diri di dalam sel sehingga respons kekebalan yang sebanding dengan mRNA konvensional berpotensi dicapai menggunakan dosis 10 hingga 100 kali lebih rendah.
“Perkembangan ini membuka peluang baru bagi penyakit yang selama ini sulit ditangani melalui pendekatan vaksin konvensional,” tutur Taruna.
Untuk memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi diterjemahkan menjadi kemajuan penelitian, Taruna juga mengangkat empat penyakit yang menjadi perhatian dunia, yakni HIV, tuberkulosis, malaria, dan RSV.
Dalam pengembangan vaksin HIV, kata dia, salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah germline targeting. Strategi ini dirancang untuk mengarahkan perkembangan sel B agar mampu menghasilkan antibodi yang dapat menetralkan berbagai varian virus.
“Salah satu penelitian menggunakan imunogen eOD-GT8 berhasil mengaktifkan sel B target pada 35 dari 36 peserta uji klinis fase I atau sekitar 97 persen. Meski menjadi capaian penting dalam penelitian imunologi, hasil tersebut belum membuktikan perlindungan terhadap infeksi HIV,” ungkap Taruna.
Pada tuberkulosis, ujar dia, kandidat vaksin M72/AS01E menunjukkan efikasi 54 persen dalam uji klinis fase IIb pada orang dewasa dengan infeksi laten. Penelitian ini menjadi salah satu perkembangan penting dalam pencarian perlindungan yang lebih baik terhadap TBC.
Sementara itu, vaksin malaria R21/Matrix-M mencatat efikasi 77 persen dalam uji klinis fase III pada anak-anak di Afrika.
Untuk RSV, vaksin Abrysvo yang digunakan dalam imunisasi maternal menunjukkan penurunan 57 persen risiko infeksi saluran pernapasan bawah berat pada bayi hingga usia enam bulan.
Berbagai capaian tersebut memperlihatkan bahwa penelitian vaksin terus bergerak maju. Namun, ada satu prinsip ilmiah yang ditekankan Taruna: keberhasilan memicu respons kekebalan tidak otomatis berarti vaksin telah terbukti memberikan perlindungan klinis.
“Perbedaan ini penting. Sebab, tujuan akhir pengembangan vaksin bukan hanya menghasilkan respons imunologis di laboratorium, melainkan memastikan masyarakat memperoleh perlindungan nyata terhadap penyakit,” jelas Taruna.

WhatsApp Image 2026 11 03 at 14.54.16 e1793692502104

BPOM dan Tantangan Regulasi di Tengah Revolusi Teknologi Kesehatan

Di balik revolusi teknologi tersebut, terdapat tantangan yang tidak kalah penting: bagaimana memastikan setiap inovasi kesehatan memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat sebelum digunakan masyarakat.
Di sinilah posisi BPOM menjadi strategis. Sebagai lembaga regulator, BPOM menghadapi tuntutan untuk terus memperkuat kapasitas pengawasan seiring berkembangnya teknologi kesehatan.
BACA JUGA:
PMI Manufaktur Indonesia Tembus 54, Tertinggi dalam Dua Tahun Terakhir
Kemajuan teknologi mRNA, rekayasa protein berbantuan AI, nanopartikel, hingga sistem penghantaran vaksin generasi baru menuntut pendekatan regulasi yang semakin adaptif dan berbasis ilmu pengetahuan.
Pengawasan tidak cukup hanya dilakukan setelah produk beredar. Pemahaman terhadap perkembangan teknologi sejak tahap penelitian, pengembangan, pengujian klinis, proses produksi, hingga distribusi menjadi bagian penting dalam membangun sistem perlindungan kesehatan modern.
Taruna juga menyoroti pentingnya harmonisasi regulasi internasional dan penguatan mekanisme regulatory reliance. Melalui pendekatan tersebut, lembaga pengawas suatu negara dapat memanfaatkan hasil evaluasi otoritas referensi atau WHO untuk mengurangi duplikasi proses penilaian, tanpa mengabaikan standar keamanan, mutu, dan khasiat.
Tantangan berikutnya adalah ketimpangan akses vaksin antarnegara. Pandemi COVID-19 telah memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan pemerataan akses. Dalam 12 bulan setelah vaksin tersedia, cakupan vaksinasi di negara berpendapatan tinggi telah melampaui 80 persen, sementara negara berpendapatan rendah rata-rata masih berada di bawah 15 persen.
“Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan menemukan vaksin belum menjadi jaminan seluruh masyarakat dapat memperoleh perlindungan,” ujar Taruna.
Karena itu, kata dia, penguatan kapasitas manufaktur di negara berkembang menjadi agenda penting. Transfer teknologi, kemitraan produksi, pembangunan fasilitas berstandar GMP, serta penguatan kemampuan penelitian dan pengujian harus berjalan beriringan.
Menurut Taruna, tantangan ini, bagi Indonesia, sekaligus menjadi peluang untuk memperkuat kapasitas nasional dalam ekosistem kesehatan global. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri farmasi, pemerintah, dan regulator perlu membangun kolaborasi yang semakin kuat.
“BPOM memiliki peran penting dalam memastikan inovasi yang berkembang memenuhi persyaratan ilmiah dan regulasi, sehingga kemajuan teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Begitulah. Akhirnya, menutup kesenjangan vaksin bukan hanya pada siapa yang paling cepat menemukan teknologi baru. Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan hasil penelitian dapat diproduksi, dijangkau, terjangkau, dan memberikan perlindungan bagi masyarakat yang paling membutuhkan.
Di hadapan para akademisi dan peserta kuliah umum i3L, Taruna menutup paparannya dengan sebuah pesan reflektif tentang mimpi besar, ketekunan, dan keyakinan untuk mewujudkannya.
“To make great dreams come true, you need to have a great capacity to dream and persistence and faith in achieving the dream.”
Mewujudkan mimpi besar membutuhkan keberanian untuk berpikir jauh ke depan, ketekunan dalam bekerja, dan keyakinan untuk terus melangkah.
Pesan itu terasa relevan di tengah perubahan besar dunia kesehatan. Ketika AI, bioteknologi, dan rekayasa molekuler mulai membuka kemungkinan baru, masa depan perlindungan kesehatan manusia tidak boleh hanya menjadi urusan para ilmuwan di laboratorium.
“Ia membutuhkan komitmen seluruh ekosistem, termasuk pemerintah dan regulator, agar setiap penemuan ilmiah tidak berhenti sebagai pencapaian teknologi, tetapi benar-benar menjadi harapan baru bagi kehidupan manusia,” pungkas Taruna. (AE).