menitindonesia, MAROS — Indonesia berpotensi kembali dilanda fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki “Godzilla” dalam beberapa bulan ke depan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi fenomena ini akan memicu suhu lebih panas dan musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Kondisi tersebut juga diperkirakan diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat membuat musim kemarau semakin kering.
Dampaknya diprediksi terasa hingga ke daerah, termasuk Kabupaten Maros.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
“Kita akan menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan lebih lama. Dampak seperti kekeringan dan kebakaran hutan harus diantisipasi,” ujar Chaidir, Selasa (31/3/2026).
Meski berpotensi menimbulkan dampak negatif, Chaidir menyebut ada sektor yang bisa diuntungkan.
Produksi garam diprediksi meningkat, begitu pula hasil tangkapan nelayan. Selain itu, energi surya dinilai bisa dimanfaatkan lebih optimal.
Sementara itu, Kepala BPBD Maros Towadeng mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
Berdasarkan prediksi BMKG, suhu udara saat puncak kemarau bisa mencapai 38 derajat Celsius.
“Karena itu masyarakat harus berhati-hati, terutama jangan membakar sampah atau lahan sembarangan,” tegas Towadeng.
Ia juga mengingatkan warga untuk memastikan kondisi rumah aman saat ditinggalkan, termasuk mematikan peralatan listrik dan dapur guna mencegah kebakaran.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Maros telah menyiapkan distribusi air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.
Sejumlah kecamatan diprediksi terdampak cukup parah, di antaranya Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru.
Dampak kekeringan bahkan berpotensi meluas hingga delapan sampai sembilan kecamatan, termasuk Turikale, Tanralili, Simbang, hingga sebagian wilayah Bantimurung.
Towadeng menyebut Kecamatan Bontoa menjadi salah satu wilayah paling rentan karena keterbatasan akses air bersih.
“Tahun lalu penyaluran air bersih mencapai lebih dari 500 tangki. Tahun ini bisa lebih, tergantung kondisi,” ujarnya.
Pemerintah daerah kini bersiap menghadapi potensi krisis air dan peningkatan risiko kebakaran seiring ancaman cuaca ekstrem yang kian nyata.