Taruna Ikrar: BPOM dan GPFI Bergerak Kendalikan Harga Obat di Tengah Tekanan Geopolitik Global

Kepala BPOM, Taruna Ikrar menerima audiensi GPFI di Kantor BPOM RI, membahas pengendalian harga obat dan ketersediaan bahan baku di tengah tekanan geopolitik global.
  • Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang menekan pasokan bahan baku farmasi, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan langkah bersama GPFI untuk menjaga stabilitas harga obat dan memastikan akses masyarakat tetap aman.
menitindonesia, JAKARTA — Dinamika geopolitik global yang belum stabil kian memberi tekanan pada industri farmasi nasional, terutama dalam hal ketersediaan bahan baku obat yang masih bergantung pada impor. Dalam situasi tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) bergerak memperkuat koordinasi guna menjaga harga obat tetap terkendali dan pasokan tetap terjaga.
Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menegaskan bahwa tekanan global tidak boleh mengganggu akses masyarakat terhadap obat yang aman dan terjangkau. Negara, kata dia, harus hadir melalui penguatan regulasi dan pengawasan yang efektif.
“Geopolitik global memang memberi tekanan pada rantai pasok bahan baku obat. Namun, negara tidak boleh absen. BPOM memastikan pengawasan tetap berjalan dengan baik, sekaligus mendorong ketersediaan obat dengan harga yang wajar bagi masyarakat,” ujar Taruna dalam audiensi bersama perwakilan GPFI, Senin (13/4/2026).
BACA JUGA:
Kisah Raisa di Sekolah Rakyat: Orang Tua Bercerai, Kini Bisa Sekolah dan Makan 3 Kali Sehari
Ia menjelaskan, penguatan pengawasan tidak hanya difokuskan pada produk akhir, tetapi juga mencakup hulu produksi, termasuk bahan baku farmasi. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga mutu sekaligus menekan potensi kenaikan harga akibat gangguan distribusi global.
Perwakilan GPFI dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa stabilitas harga obat sangat dipengaruhi oleh kelancaran pasokan bahan baku. Ketergantungan pada impor dari sejumlah negara produsen utama membuat industri dalam negeri rentan terhadap fluktuasi harga dan hambatan logistik internasional.
Meski demikian, industri farmasi nasional berkomitmen menjaga keberlanjutan produksi agar distribusi obat tidak terganggu. Kolaborasi dengan regulator menjadi kunci untuk memastikan keseimbangan antara kepentingan industri dan perlindungan masyarakat.

Picsart 26 04 13 16 05 41 058 11zon e1776071450975

Kemandirian Farmasi Jadi Kunci Hadapi Tekanan Global

Di balik isu harga, tantangan yang lebih mendasar adalah ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat impor. Kondisi ini membuat sistem kesehatan nasional rentan terhadap gejolak global, mulai dari konflik geopolitik hingga kebijakan perdagangan antarnegara.
Taruna menekankan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat upaya kemandirian farmasi nasional. Penguatan industri bahan baku dalam negeri menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
BACA JUGA:
Efek MTQ Sulsel di Maros, Omzet UMKM Naik 5 Kali Lipat
“Ke depan, kita tidak bisa terus bergantung. Kemandirian bahan baku obat adalah kebutuhan. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga ketahanan kesehatan nasional,” ujarnya.
GPFI menyatakan dukungannya terhadap arah kebijakan tersebut. Industri siap memperkuat ekosistem farmasi nasional dari hulu hingga hilir agar lebih tangguh menghadapi tekanan global.
Pada akhirnya, seluruh upaya ini bermuara pada satu tujuan, yakni memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap obat yang aman, bermutu, dan terjangkau.
BPOM menegaskan akan terus memperkuat komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat, sekaligus memastikan distribusi obat berjalan sesuai ketentuan.
Audiensi antara BPOM dan GPFI ini menjadi penegasan bahwa di tengah tekanan global, negara dan industri memilih untuk berjalan bersama—menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan, dan melindungi kepentingan publik