Taruna Ikrar Bersama KPK Bangun BPOM Berintegritas dari Dalam

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar bersama Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Amir Arief serta Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Dr. Cris Kuntadi membuka Pembinaan Mental Nasional dalam rangka membangun budaya BerAKHLAK di lingkungan BPOM, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
  • Kepala BPOM RI menegaskan penguatan integritas, kesehatan mental, dan budaya BerAKHLAK menjadi fondasi membangun kepercayaan publik melalui transformasi yang dimulai dari dalam organisasi.
menitindonesia, JAKARTA — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam membangun institusi yang dipercaya publik. Karena itu, transformasi BPOM harus dimulai dari pembentukan karakter aparatur, budaya kerja yang sehat, serta komitmen moral yang kuat dalam menjalankan pelayanan kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Taruna Ikrar saat membuka Pembinaan Mental Nasional dalam Rangka Membangun Budaya BerAKHLAK di Lingkungan BPOM Tahun 2026, Rabu (15/7/2026), di Auditorium Merah Putih BPOM. Kegiatan itu menghadirkan Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Amir Arief serta Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Dr. Cris Kuntadi sebagai narasumber dalam upaya memperkuat budaya integritas dan tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan BPOM.
Hadir juga sejumlah pimpinan BPOM RI, masing-masing Sekeratris Utama Irjen Pol. Jayadi, S.I.K., Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif dr. William Adi Teja, MD., BMed., MMed., Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan Dra. Elin Herlina, Apt, MP., Deputi Bidang Penindakan Irjen. Pol. Tubagus Ade Hidayat, S.I.K., M.Sos dan Inspektur Utama Yan Setiadi, serta Pakar Ahli Bidang Pengawasan Farmasi Rita Endang. 
BACA JUGA:
Spanyol Bungkam Prancis 2-0, Dominasi Lini Tengah Jadi Kunci Kemenangan
Menurut Taruna, ASN BPOM mengemban amanah besar mengawasi keamanan, mutu, dan manfaat obat serta makanan yang dikonsumsi masyarakat. Amanah tersebut menuntut setiap pegawai menjaga profesionalisme, etika, dan kepercayaan publik dalam setiap pengambilan keputusan.

Picsart 26 07 15 12 01 11 218

Integritas Harus Menjadi Budaya Organisasi

Taruna Ikrar menilai hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) dan Indeks Core Values BerAKHLAK harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi BPOM. Penguatan integritas, katanya, tidak berhenti pada kepatuhan terhadap aturan, tetapi harus tumbuh menjadi budaya organisasi yang hidup dalam setiap perilaku aparatur.
Ia menegaskan nilai-nilai BerAKHLAK bersama budaya PIKKIR BPOM—Profesional, Integritas, Kredibilitas, Kerja Sama, Inovatif, dan Responsif—harus menjadi pedoman dalam memberikan pelayanan publik yang jujur, transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik korupsi.
Taruna juga menyoroti aspek harmonis yang masih menjadi tantangan dalam budaya kerja BPOM. Menurutnya, lingkungan kerja yang saling menghargai dan mendukung akan melahirkan aparatur yang lebih produktif, tangguh, serta mampu menjaga integritas di tengah berbagai tantangan.
Karena itu, kesehatan mental harus menjadi perhatian bersama. Kondisi mental yang sehat merupakan bagian dari keselamatan dan kesehatan kerja sekaligus modal penting bagi ASN untuk tetap profesional, objektif, dan berpegang teguh pada etika dalam menjalankan tugas.
Melalui Program Bimbingan Mental (Bintal), BPOM terus membangun karakter aparatur yang berintegritas, harmonis, dan berorientasi pada pelayanan publik. Program tersebut juga menjadi ruang pembinaan bagi seluruh pegawai lintas agama untuk memperkuat nilai keimanan yang berdampak pada perilaku sosial dan budaya kerja.
Di akhir sambutannya, Taruna Ikrar berharap BPOM menjadi rumah yang membuat seluruh pegawai bertumbuh dalam kompetensi, integritas, dan semangat kolaborasi, sehingga mampu menghadirkan pelayanan publik yang semakin berkualitas dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap BPOM.