Gunung Anak Krakatau memuntahkan kolom abu vulkanik ke atmosfer di kawasan Selat Sunda. Lebih dari satu abad setelah letusan besar Krakatau mengubah sejarah dunia, aktivitas gunung api ini kembali menjadi pengingat tentang pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam di Indonesia.
Dari dentuman Gunung Krakatau yang mengubah langit dunia pada 1883 hingga abu vulkanik yang kini mencapai Jakarta, Krakatau kembali mengingatkan Indonesia bahwa sejarah besar tidak pernah benar-benar berlalu.
menitindonesia, SELAT SUNDA, Pagi itu, 27 Agustus 1883, dunia belum mengenal internet. Radio bahkan belum menjadi alat komunikasi massal. Namun nama sebuah gunung di Nusantara berhasil menembus batas-batas geografis dan menjadi berita internasional: Krakatau.
Ketika gunung api di Selat Sunda itu meletus, dunia seakan berhenti sejenak untuk menyaksikan kedahsyatan alam yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dentumannya terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya. Laut berubah menjadi ancaman. Langit kehilangan warna aslinya. Dan di pesisir Banten serta Lampung, puluhan ribu orang tidak pernah lagi melihat matahari terbit keesokan harinya.
Lebih dari 36 ribu jiwa tercatat menjadi korban dalam salah satu bencana alam paling mematikan pada abad ke-19.
Tetapi yang membuat Krakatau berbeda dari banyak gunung api lain bukan hanya jumlah korban atau besarnya letusan. Krakatau mengubah dunia.
Abu vulkanik yang terlempar ke atmosfer menyebar melintasi benua. Catatan sejarah dan ilmiah menunjukkan langit senja berubah warna hingga ke Eropa dan Amerika. Dalam berbagai laporan internasional, letusan Krakatau bahkan disebut sebagai salah satu peristiwa alam yang paling memengaruhi kehidupan global pada masanya.
Lebih dari satu abad telah berlalu sejak peristiwa itu. Generasi yang menyaksikannya telah lama pergi. Kota-kota yang hancur telah dibangun kembali. Selat Sunda kembali menjadi jalur pelayaran yang sibuk. Namun Krakatau tidak pernah benar-benar meninggalkan ingatan bangsa ini.
Dari reruntuhan gunung yang meledak pada 1883, lahirlah Anak Krakatau. Gunung muda yang muncul dari tengah laut itu tumbuh perlahan, seolah menjadi pengingat bahwa alam selalu memiliki cara untuk memulai kembali kisah yang belum selesai.
Dan sejarah memang belum selesai. Pada Desember 2018, masyarakat Indonesia kembali merasakan duka ketika tsunami menerjang pesisir Selat Sunda. Ratusan orang meninggal dunia. Ribuan lainnya kehilangan rumah, pekerjaan, dan anggota keluarga. Bagi banyak warga pesisir, tragedi itu seperti membuka kembali luka yang diwariskan oleh sejarah.
Kini, delapan tahun setelah peristiwa tersebut, perhatian publik kembali tertuju ke tempat yang sama. Anak Krakatau kembali bergemuruh.
Citra satelit memperlihatkan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda. Dari udara terlihat kolom abu vulkanik membumbung dari kawah gunung muda yang lahir pasca-letusan dahsyat Krakatau 1883. Aktivitas terbaru Anak Krakatau kembali mengingatkan Indonesia pada sejarah panjang bencana dan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman alam.
Jakarta Ikut Merasakan Krakatau
Jika pada masa lalu dampak Krakatau paling banyak dirasakan oleh masyarakat di sekitar Selat Sunda, kali ini gaungnya menjangkau ibu kota negara.
Sejak Jumat malam, 4 September 2026, aktivitas Anak Krakatau terus meningkat. Kolom abu vulkanik membubung tinggi dan terbawa angin hingga ratusan kilometer dari pusat erupsi.
Jakarta menjadi salah satu wilayah yang ikut merasakan dampaknya. Bukan dalam bentuk kepanikan, melainkan melalui gangguan terhadap aktivitas transportasi udara, perubahan kualitas udara, dan meningkatnya kewaspadaan masyarakat. Untuk pertama kalinya dalam erupsi terbaru ini, operasional Bandara Soekarno-Hatta ikut terdampak akibat sebaran abu vulkanik, menyebabkan ratusan penerbangan harus ditunda atau dibatalkan.
Peristiwa itu menghadirkan gambaran yang jarang terjadi. Sebuah gunung api di Selat Sunda kembali menunjukkan bahwa pengaruhnya dapat menjangkau pusat pemerintahan, pusat bisnis, dan simpul transportasi terbesar di Indonesia.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, meminta masyarakat tetap tenang sembari meningkatkan kewaspadaan. Warga diimbau menerapkan langkah-langkah perlindungan diri, terutama penggunaan masker dan pembatasan aktivitas luar ruangan apabila kualitas udara memburuk.
Di Banten, Gubernur Andra Soni juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan dampak abu vulkanik terhadap kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.
Sementara BNPB, BMKG, dan berbagai instansi terkait terus memantau perkembangan situasi dan menyampaikan informasi secara berkala kepada masyarakat. Respons cepat tersebut menunjukkan perubahan besar dibandingkan masa lalu.
Jika pada 1883 masyarakat menghadapi bencana dengan informasi yang sangat terbatas, Indonesia hari ini memiliki kemampuan yang jauh lebih baik untuk membaca tanda-tanda alam, menyebarkan informasi, dan melindungi warganya.
Namun satu hal tetap tidak berubah. Krakatau masih menjadi pengingat paling nyata bahwa Indonesia hidup di wilayah yang dibentuk oleh kekuatan alam luar biasa.
Gunung itu pernah mengubah sejarah dunia. Gunung itu pernah meninggalkan luka yang melintasi generasi. Dan ketika Anak Krakatau kembali bergemuruh hari ini, yang sedang diuji bukan hanya kemampuan negara menghadapi bencana, melainkan kemampuan bangsa ini untuk terus belajar dari sejarahnya sendiri.
Sebab sejarah telah memberi pelajaran yang mahal. Pertanyaannya kini bukan apakah Indonesia pernah menghadapi Krakatau, melainkan seberapa siap Indonesia ketika Krakatau kembali mengingatkan keberadaannya. (andi besse nabila saskia)