Abu Anak Krakatau Menyebar, BNPB Kerahkan Pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca

Citra satelit memperlihatkan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda. Dari udara terlihat kolom abu vulkanik membumbung dari kawah gunung muda yang lahir pasca-letusan dahsyat Krakatau 1883. Aktivitas terbaru Anak Krakatau kembali mengingatkan Indonesia pada sejarah panjang bencana dan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman alam.
menitindonesia, JAKARTA — Pemerintah mengerahkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengurangi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang erupsi sejak Minggu (6/9/2026) dini hari.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan satu armada udara di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, untuk menjalankan operasi tersebut hingga malam hari.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pesawat untuk OMC telah disiagakan dan siap diterbangkan.
“Hari ini juga kita melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Jadi pesawatnya sudah siap di Pondok Cabe, hari ini akan dilaksanakan operasi modifikasi cuaca sampai malam,” kata Suharyanto dalam konferensi pers update situasi erupsi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9).
BNPB juga berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melihat kemungkinan pelaksanaan OMC dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, atau Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

BACA JUGA:
Erupsi Anak Krakatau, Penerbangan di 4 Bandara Masih Ditutup

Menurut Suharyanto, OMC dilakukan untuk menurunkan konsentrasi abu vulkanik di udara. Hujan diharapkan dapat membawa partikel abu turun ke permukaan sehingga dampaknya terhadap masyarakat dan transportasi bisa ditekan.
“Kita akan lakukan seaman mungkin, dan tentu saja operasi modifikasi cuaca itu justru untuk membantu kondisi udara, kondisi abu vulkanik itu bisa luruh. Karena dalam kondisi erupsi, salah satu upaya yang sangat baik itu apabila kemudian datang hujan, sehingga abu itu bisa luruh ke tanah,” jelasnya.
Dua Metode Disiapkan
BNPB menyiapkan dua teknik dalam operasi tersebut.
Teknik pertama dilakukan dengan memanfaatkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Pesawat akan menyemai awan yang tersedia untuk merangsang terjadinya hujan.
Namun, apabila pertumbuhan awan hujan tidak mencukupi, pemerintah menyiapkan metode kedua berupa water mist.
Metode ini dilakukan dengan menyemprotkan air dalam bentuk kabut atau butiran sangat kecil untuk membantu mengurai partikel abu vulkanik di udara.
“Untuk DKI Jakarta, Banten dan Lampung, apabila tidak ada pertumbuhan awan hujan, kami dengan BMKG juga sepakat untuk menggunakan metode water mist, yaitu untuk mengurai partikel abu yang berbahaya,” ungkap Suharyanto.
BNPB bersama BMKG terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, termasuk pergerakan dan sebaran abu vulkanik pascaerupsi.
Pemerintah juga menyiagakan langkah penanganan untuk mengantisipasi dampak abu terhadap masyarakat dan aktivitas transportasi di wilayah terdampak.
Suharyanto berharap operasi modifikasi cuaca yang dilakukan sepanjang Minggu hingga malam hari dapat membantu memperbaiki kondisi udara dan mengurangi dampak abu vulkanik.
“Mudah-mudahan operasi modifikasi cuaca yang dilakukan hari ini sampai nanti malam, ini bisa membantu untuk mencapai atau mewujudkan kondisi daerah, kondisi cuaca yang lebih baik lagi,” tutupnya.