Tangis Bayi 4 Bulan dan Firasat Ibu Sebelum Hasbiah Hilang Bersama KM Virgo

Hj Hasnah, Ibu dari korban tenggelam KM Virgo 8, Hasbiah memperlihatkan foto anaknya.
menitindonesia, MAROS – Pesan terakhir Hasbiah (34) menyayat hati sang ibunda, Hasna. Warga asal Kecamatan Lau, Kabupaten Maros ini menjadi salah satu penumpang yang hilang dalam tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa.
Sebelum kapal nahas itu hilang kontak, Hasbiah sempat menelepon ibunya pada Sabtu (12/9/2026) malam. Dari dalam kabin kapal, ia mengabarkan kondisi laut yang tengah mengamuk.
“Berdoa ki saja, karena ombak kencang sekali. Seandainya mobil, saya mau pulang. Tapi mau diapa, sudah di tengah laut,” tutur Hasna sambil meneteskan air mata menirukan ucapan putrinya, Selasa (15/9/2026).
Di tengah situasi genting tersebut, Hasbiah menitipkan pesan pilu. Ia meminta sang ibu menjaga keempat buah hatinya.
“Dia bilang, jaga anak-anakku,” ucap Hasna lirih.
Tangis Hasna makin tak terbendung saat menceritakan detik-detik mencekam yang dialami putrinya. Lewat sambungan telepon yang dipenuhi rasa panik itu, Hasbiah menyebut kapal yang ditumpanginya sudah kehilangan keseimbangan.

BACA JUGA:
Kecelakaan KM Virgo 8, DPR Minta Perketat Evaluasi Kelaiakan Operasional Kapal

“Berdoa saja Ummi, kapalku sudah miring mi ini kapal yang kunaiki. Kapal Virgo,” ungkap Hasna mengulang jeritan putrinya.
Setelah panggilan itu terputus, telepon Hasbiah tak pernah bisa dihubungi lagi.
Diketahui, KM Virgo Transport 8 bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 10.00 WIB.
Nahas, kapal dihantam cuaca ekstrem pada Minggu (13/9) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Satu jam berselang, komunikasi dengan kapal terputus total.
Menurut Hasna, putrinya berprofesi sebagai penyanyi (biduan) di kapal tersebut. Dari empat biduan yang ikut berlayar, tiga rekan Hasbiah dilaporkan telah ditemukan.
“Empat orang itu biduan. Sudah didapat mi tiga (orang), cuma dia (Hasbiah) belum muncul namanya,” isaknya.
Kepergian Hasbiah rupanya sempat diwarnai firasat. Sebelum berangkat, anak bungsunya yang baru berusia empat bulan menangis histeris tak seperti biasanya.
Melihat kondisi itu, Hasna sempat melarang putrinya pergi berlayar.
“Saya bilang, jangan maki dulu pergi karena ada anakmu umur empat bulan. Terus siapa yang jaga?” kenang Hasna.
Namun, tuntutan pekerjaan membuat Hasbiah harus tetap melangkah. Perempuan malang itu memang sudah bertahun-tahun menjadikan profesi penyanyi kapal pesiar dan antarpulau sebagai ladang mencari nafkah.
Kini, keempat anak Hasbiah yang masih duduk di bangku SMP, SD, balita 5 tahun, hingga bayi 4 bulan berada dalam asuhan neneknya di Maros.
Keluarga kini hanya bisa merapal doa, menanti keajaiban dan kabar dari tim SAR gabungan agar Hasbiah bisa segera ditemukan dan kembali memeluk anak-anaknya.