Menteri Sosial, Saifullah Yusuf saat meninjau Sekolah Rakyat di Makassar. (ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Fakta mengejutkan datang dari penyaluran Bantuan Sosial (Bansos). Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf blak-blakan mengungkap ada 1,4 juta penerima bansos yang terindikasi bermain judi online (judol).
Mirisnya, setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata lebih dari 1 juta kasus terjadi akibat pembajakan identitas. Rekening atau KTP penerima asli diam-diam disalahgunakan oleh anak, cucu, hingga kerabat dekat mereka untuk deposit judol.
“Jadi 1,4 juta penerima bansos itu terindikasi main judol. Setelah kita dalami, lebih dari 1 juta itu yang menggunakan adalah anaknya atau cucunya, bahkan keluarganya,” tegas pria yang akrab disapa Gus Ipul ini saat berkunjung ke Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (15/9/2026).
Meski temuan ini bikin geleng-geleng kepala, Gus Ipul memastikan Kemensos tidak akan main cabut bantuan secara sepihak. Pihaknya memilih turun ke lapangan untuk menelusuri fakta sebenarnya.
Ia mencontohkan kasus nahas seorang lansia miskin yang mendadak dicoret dari daftar penerima bansos karena KTP-nya dibajak. Identitas sang kakek rupanya dipakai orang lain untuk membeli kendaraan, aset tanah, mendirikan perusahaan, hingga modal judol.
“Yang seperti ini kita dalami dan telusuri. Mereka tetap kita beri bantuan sambil kita luruskan data KTP-nya yang dimanfaatkan orang lain,” jelasnya.
Untuk memberantas data yang salah sasaran, Mensos membuka keran aduan seluas-luasnya. Warga, RT, RW, hingga aparat desa diberi ruang penuh untuk menyanggah atau mengusulkan warga yang benar-benar layak tapi belum tersentuh bansos.
Kemensos juga aktif memelototi laporan warga yang viral di media sosial. Setiap aduan akan ditindaklanjuti, meski Gus Ipul mengakui laporan di medsos sering campur aduk antara fakta, fakta separuh, hingga hoaks.
Sejauh ini, pemutakhiran data dalam dua tahun terakhir sukses menjaring lebih dari 4 juta keluarga penerima manfaat (KPM) baru yang sebelumnya tak tersentuh bantuan.
Ke depan, Kemensos tak mau lagi kecolongan. Gus Ipul tengah menyiapkan jurus jitu berupa digitalisasi penyaluran bansos menggunakan teknologi biometrik wajah (face recognition).
Teknologi ini diklaim bisa memastikan bantuan benar-benar jatuh ke tangan orang yang wajahnya cocok dengan data KTP. Sistem ini sudah sukses diuji coba di Banyuwangi dan akan segera diperluas ke lebih dari 250 kabupaten/kota, dengan target penerapan nasional tahun depan.
“Dengan digitalisasi dan biometrik wajah, sasaran bansos kita akan jauh lebih tepat,” tegas Mensos.
Bahkan, Gus Ipul membocorkan rencana besar pemerintah ke depan. Jika akurasi data penerima sudah maksimal, skema bansos berupa barang sembako kemungkinan bakal dirombak total menjadi transfer uang tunai (cash transfer).
Sebagai langkah pamungkas, pemerintah juga terus merekrut warga untuk menjadi Agen Perlindungan Sosial (Perlinsos).
“Relawan ini bekerja tanpa gaji atau honor. Tugasnya mulia, mendata dan memasukkan tetangga terdekat mereka yang hidup melarat agar segera mendapat bansos dari sistem pemerintah,” pungkas Gus Ipul.