Bupati Maros, Chaidir Syam saat melihat langsung alat medis canggih berupa Cath Lab (Catheterization Laboratory) senilai sekitar Rp30 miliar dari Kementerian Kesehatan RI di RSUD dr Lapalaloi. (ist)
menitindonesia, MAROS — Video aksi protes keluarga pasien yang berujung adu mulut dengan petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr La Palaloi, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, viral di media sosial. Menanggapi kejadian itu, Bupati Maros Chaidir Syam mengancam akan memecat petugas jika terbukti melakukan penolakan pasien.
Dalam video berdurasi 2 menit 11 detik tersebut, keluarga pasien terlihat meluapkan kekecewaan karena merasa pasien tidak mendapat pelayanan sebagaimana yang diharapkan. Mereka juga menyoroti sejumlah tempat tidur yang tampak kosong di area IGD.
Chaidir Syam mengatakan telah meminta Direktur RSUD dr La Palaloi, dr Sri Syamsinar, memanggil jajaran terkait untuk mengusut kejadian tersebut.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak akan menoleransi pelanggaran standar operasional prosedur (SOP), terutama jika petugas terbukti menolak pasien yang membutuhkan penanganan medis.
“Kalau memang dia menolak pasien, itu bisa dihentikan, diberhentikan orang yang memang menolak tersebut,” tegas Chaidir.
Ia juga mengingatkan seluruh petugas rumah sakit agar mengedepankan empati dan profesionalisme dalam memberikan pelayanan, terlebih kepada pasien yang datang ke IGD dalam kondisi mendesak.
Sementara itu, Direktur RSUD dr La Palaloi, Sri Syamsinar, membantah adanya penolakan pasien. Ia menjelaskan, kondisi IGD saat kejadian sedang penuh, meskipun beberapa tempat tidur terlihat kosong dalam video yang beredar.
Menurut Sri, tempat tidur tersebut memiliki peruntukan khusus. Satu tempat tidur disiapkan untuk penanganan kondisi kegawatdaruratan kritis, seperti korban kecelakaan. Sementara empat tempat tidur lainnya dikhususkan bagi pasien anak sehingga tidak dapat digunakan untuk pasien dewasa.
Sri mengatakan, pasien yang dipersoalkan tersebut sebenarnya telah diperiksa oleh dokter jaga. Berdasarkan hasil asesmen awal, pasien dinilai tidak termasuk dalam kategori gawat darurat, meskipun terdapat indikasi perubahan warna kuning pada bagian mata.
Atas dasar penilaian tersebut, pasien kemudian diarahkan untuk mendapatkan pelayanan di puskesmas terdekat.
Manajemen RSUD dr La Palaloi juga mengungkapkan tingginya jumlah kunjungan pasien menjadi salah satu persoalan yang dihadapi rumah sakit. Kapasitas 38 tempat tidur di IGD disebut terus terisi selama dua bulan terakhir.
Meski demikian, dugaan penolakan pasien yang menjadi sorotan publik masih perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan apakah pelayanan yang diberikan telah sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku.