Dahlan Iskan Sebut Risma, Ridwan Kamil dan Danny Pomanto, Arsitek Yang Berhasil Mengubah Kota

Dahlan Iskan: Inilah tiga arsitek yang berhasil mengubah kotanya. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Mantan Menteri BUMN era Presiden Susilo Bambang Yuhdhoyono, Dahlan Iskan, menyebutkan dalam artikelnya: ada tiga arsitek yang berhasil menjadi pemimpin daerah, ialah Risma di Surabaya, Ridwan Kamil di Bandung dan Danny Pomanto di Makassar.
“Sudah dua arsitek yang berhasil memimpin kota: Bu Risma di Surabaya dan Danny di Makassar. Juga Ridwan Kamil di Bandung – meski keburu jadi Gubernur Jabar,” tulis Dahlan Iskan, dikutip dalam artikelnya, Rabu (23/3/2022).
Sebelumnya, Dahlan Iskan berkunjung ke Kota Makassar dalam rangkla Musyawarah Nasiona (Munas) Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) VII yang dilaksnakan di Makassar.
Setelah berkeliling di Kota Makassar, Founder Jawa Pos Gorup itu, menulis artikel terkait program metaverse yang dicanangkan Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto. Menurut Dahlan Iskan, Danny serius menjadikan Makassar sebagai kota meteverse.
“Ia sudah menandatangani kerja sama dengan perusahaan teknologi metaverse terkemuka Indonesia: WIR Group. Yang dipimpin Daniel Surya itu,” ungkap Dahlan Iskan.
Bahkan, lanjut Dahlan Iskan, semua yang direncanakan Danny di periode pertama menjabat Walikota Makassar, pun ia lanjutan sekarang. Twin Tower, sampah, wajah baru Losari, Metaverse, dan pembenahan lapangan Karebosi.
“Danny juga memasang 1.000 kamera di banyak sudut kota. Dan itu akan ditambah terus. Terungkapnya jaringan pengebom Kathedral Makassar berkat sistem digital itu. Tidak sampai 6 jam, seluruh jaringan pengebom bisa diungkap,” katanya.
Dalam kunjungannya ke Makassar, Dahlan Iskan mengaku sempat bertemu dan makan malam bersama Danny Pomanto di kediamannya, Jalan Amirullah, Makassar, Senin (21/3), malam.
Dahlan pun membeberkan, bahwa masih banyak gagasan di periode pertama Danny, misalnya akan membangun twin tower 36 lantai di seberang Pantai Losari. Yakni di sebuah tanah oloran – tanah baru yang secara perlahan muncul sendiri dari dalam laut. “Itu akibat pengendapan lumpur dari muara sungai yang tertahan arus laut. Ditambah reklamasi. Jadilah sebuah kawasan strategis untuk pengembangan kota baru: dari Pantai Losari bisa memandangnya. Hanya sepelemparan batu. Dari lokasi baru itu bisa memandang Pantai Losari. Yang gemerlap,” ungkapnya.
Gagasan lain Danny saat itu, lanjut Dahlan, membuat pembangkit listrik tenaga sampah. Untuk mengatasi sampah kota – tanpa APBD maupun APBN. Tidak seperti yang di Surabaya dan sembilan kota lainnya.
“Pantai Losari sendiri akan ia sempurnakan. Danny yang dulu merancang desain Pantai Losari itu – ketika masih menjadi arsitek profesional lulusan Universitas Hasanuddin. Ia sering memenangkan lomba desain kawasan. Ia juga ingin ikut mendesain IKN. Tapi begitu mau mendaftar ia melihat persyaratan: izin praktik arsiteknya sudah mati. Ia lupa memperbaruinya karena sibuk sebagai wali kota,” bebernya.
Di akhir tulisannya, Dahlan Iskan mengatakan, Kelebihan arsitek adalah: merencanakan secara detail, dengan visi yang utuh dan tidak mengabaikan hemat biaya. “Hanya kadang arsitek kalah dengan arsitek politik di atasnya,” pungkasnya. (roma)