dr. Wachyudi, yang akrab disapa Dokter Koboi (berbaju hitam), bersama Prof. dr. Armyn Nurdin (berdiri, berbaju cokelat), Pakar Bidang Kesehatan, tengah berdiskusi santai membahas persiapan Gebyar Academia, Business, and Government (ABG) Collaboration di halaman kantor BPOM RI, Jakarta.
Badan POM RI menggelar Gebyar Academia, Business, and Government (ABG) Collaboration 2025 di Jakarta. Ajang ini jadi momentum membangun sinergi antara kampus, pelaku usaha, dan pemerintah untuk memperkuat riset, inovasi, dan daya saing produk lokal.
menitindonesia, JAKARTA – Di halaman kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI di Jalan Percetakan Negara No. 23, Jakarta Pusat, suasana bakal berbeda pada 15–16 November 2025 nanti. Tenda-tenda pameran berdiri di bawah langit Salemba. Spanduk besar bertuliskan “Academia, Business, and Government (ABG) Collaboration” menjadi penanda, bahwa kolaborasi kini tak lagi sebatas jargon di podium.
Kegiatan yang digagas BPOM ini menjadi refleksi satu tahun perjalanan program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming untuk Indonesia. Namun, lebih dari itu, Gebyar ABG ini ingin menunjukkan bagaimana riset dari kampus bisa bersentuhan langsung dengan pasar dan masyarakat.
“Bukan seremonial. Ini ruang nyata untuk mempertemukan peneliti, pelaku usaha, dan regulator,” ujar dr. Wachyudi, Staf Khusus Kepala BPOM Bidang Hukum dan Kerjasama, yang akrab disapa Dokter Koboi. Didampingi Prof. dr. Armyn Nurdin, Ahli Kesehatan. Ia menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini akan diadakan diskusi interaktif antara akademisi dan industri. “Dari diskusi itu bisa lahir lisensi riset, bahkan kerjasama penelitian lanjutan,” tambahnya.
Vaksin Gratis dan Aksi Donor Darah
Tak hanya bicara di ruang seminar, Gebyar ABG juga merambah ke dunia nyata. Di area outdoor, akan digelar pameran produk UMKM hasil kolaborasi BPOM dengan Asosiasi Pengusaha Industri Mikro dan Kecil (APIMSA). Produk-produk lokal yang telah melalui pengawasan ketat BPOM akan diperkenalkan sebagai bukti bahwa standar keamanan dan kualitas adalah kunci daya saing di pasar global.
Tak kalah menarik, BPOM juga menyelipkan kegiatan sosial: donor darah dan vaksinasi Hepatitis A gratis bagi pegawai BPOM. “Kegiatan vaksin ini penting dilakukan untuk pelaku UMKM pangan olahan kaki lima,” tutur Prof. Armyn, yang juga mantan Kepala Dinas Kesehatan Pemkot Makassar. Ia menekankan pentingnya vaksinasi sebagai langkah pencegahan penyakit menular yang berisiko menyebar lewat makanan.
Di balik semua agenda itu, BPOM ingin menegaskan semangat: kolaborasi lintas sektor bukan pilihan, melainkan keharusan. Kampus menjadi sumber ilmu, industri membawa teknologi dan pasar, sementara pemerintah memastikan semuanya berjalan dalam koridor regulasi yang sehat.
Dokter Koboi mengatakan, Gebyar ABG ini menjadi bukti bahwa ketika tiga pilar — akademisi, bisnis, dan pemerintah — yang dicetuskan Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar, berjalan seirama, Indonesia bukan cuma pasar, tapi juga menjadi pemain dalam inovasi dan produksi obat serta makanan berkualitas. (andi esse)