menitindonesia, MAROS — Angka pengangguran terbuka di Kabupaten Maros masih tergolong tinggi. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Maros mencatat, jumlah pengangguran mencapai 8.295 orang.
Kepala Disnakertrans Maros, Andi Patiroi, mengungkapkan mayoritas pengangguran didominasi laki-laki sebanyak 5.429 orang, sedangkan perempuan tercatat 2.866 orang.
“Sebagian besar pengangguran berasal dari kelompok usia produktif, yakni masyarakat usia 15 tahun ke atas,” kata Andi Patiroi, Kamis (5/2/2026).
Ia menjelaskan, latar belakang pendidikan pengangguran cukup beragam, mulai dari lulusan sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
“Kelompok yang paling banyak menganggur itu didominasi lulusan SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi,” ujarnya.
Untuk menekan angka pengangguran, Pemerintah Kabupaten Maros melalui Disnakertrans telah menyiapkan berbagai program pelatihan kerja berbasis kompetensi. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan keterampilan teknis sekaligus daya saing pencari kerja.
Pelatihan yang disiapkan meliputi menjahit, komputer, kewirausahaan, desain grafis, servis sepeda motor, pengelasan, operator komputer, hingga pelatihan pembuatan roti.
“Secara umum, pelatihan ini cukup efektif meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri peserta untuk bersaing di dunia kerja,” jelas Patiroi.
Ia juga menyinggung bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) turut memengaruhi tingginya angka pengangguran di daerah.
“Jika pertambahan angkatan kerja tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, maka potensi pengangguran akan meningkat,” katanya.
Selain pelatihan, Disnakertrans Maros juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan dan sektor industri, baik di Maros maupun Kota Makassar, guna memperluas peluang kerja bagi tenaga kerja lokal.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan job fair yang mempertemukan langsung pencari kerja dengan perusahaan.
“Kami terus berupaya membuka akses seluas-luasnya agar pencari kerja bisa langsung bertemu dengan perusahaan,” pungkasnya.