menitindonesia, MAKASSAR – Satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman dan Fatmawati Rusdi, menunjukkan sejumlah capaian di berbagai sektor strategis.
Hal itu diungkapkan Pengamat Pemerintahan dan Kebijakan Publik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arif Wicaksono, yang menilai secara objektif terdapat indikator kinerja dengan tren positif.
“Meski banyak kritik dari berbagai penjuru, kita tetap harus mengakui bahwa dalam satu tahun pemerintahan ini terdapat capaian positif, khususnya di bidang ekonomi dan layanan publik,” ujar Arif, dikutip Selasa (24/2/2026).
Pasangan dengan tagline “Andalan Hati” yang dilantik Presiden RI Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 itu dinilai mulai menunjukkan praktik tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
Di sektor ekonomi, pertumbuhan Sulawesi Selatan pada triwulan III 2025 tercatat mencapai 5,43 persen, ditopang sektor pertanian dan jasa. Sementara angka kemiskinan turun menjadi 7,60 persen pada 2025, terendah dalam enam tahun terakhir.
Menurut Arif, penurunan tersebut tidak lepas dari intervensi pemerintah melalui bantuan sosial bagi keluarga miskin serta program Gerakan Pangan Murah yang berkontribusi menekan inflasi hingga 3,03 persen.
“Bantuan benih padi 5.000 ton dan sertifikasi halal gratis bagi 2.344 UMKM juga memperkuat kemandirian pangan serta daya saing pelaku usaha kecil,” paparnya.
Di sektor kesehatan dan pelayanan publik, program Aksi Stop Stunting tercatat telah melayani 16.128 balita dan ibu hamil. Pengadaan ambulans MICU serta operasional 27 unit Bus Trans Sulsel gratis di kawasan Mamminasata juga dinilai memperluas akses layanan dasar masyarakat.
“Bahkan konektivitas wilayah kepulauan diperkuat melalui layanan seaplane dan subsidi beberapa rute penerbangan antar daerah,” tambahnya.
Dari sisi pembangunan fisik, Pemprov Sulsel memprioritaskan program Multi Years Project (MYP), di antaranya peningkatan 1.000 kilometer jalan provinsi dan pengembangan irigasi seluas 54.000 hektare.
Selain itu, pembangunan dua rumah sakit regional di Luwu Raya dan Gowa, serta normalisasi sungai untuk mitigasi banjir, masuk dalam agenda strategis satu tahun terakhir.
Dalam aspek tata kelola, Arif menilai pendekatan teknokratis mulai terlihat melalui reformasi birokrasi yang membuahkan predikat SAKIP “Sangat Baik” dari Kementerian PANRB. Efisiensi anggaran dan perencanaan jangka panjang berbasis ekonomi biru dan hijau juga disebut menjadi fondasi penting pembangunan berkelanjutan.
“Integrasi perencanaan tata ruang dan wilayah menunjukkan arah pembangunan yang tidak hanya jangka pendek, tetapi juga berorientasi keberlanjutan,” jelasnya.
Di sisi lain, kebijakan populis seperti diskon pajak kendaraan bermotor, bantuan sosial, dan berbagai layanan gratis dinilai menjadi langkah cepat yang langsung dirasakan masyarakat.
“Setidaknya, dalam satu tahun ini kita bisa melihat kombinasi kebijakan populis yang menyentuh langsung masyarakat dan pendekatan teknokratis dalam tata kelola pemerintahan,” pungkas Arif.