Profil Ketua Komisi II DPRD Maros, Marjan Massere: Politik Adalah Jalan Pengabdian

Ketua Komisi II DPRD Maros, Marjan Massere. (ist)
menitindonesia, MAROS – Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Maros, Marjan Massere, memiliki perjalanan yang tak lazim menuju dunia politik. Sebelum duduk di kursi legislatif, ia lebih dulu mengabdikan diri sebagai guru, dosen, hingga tenaga ahli pemerintah daerah.
Pengalaman panjang di dunia pendidikan itulah yang kemudian mendorongnya terjun ke politik. Marjan menilai banyak persoalan masyarakat yang tidak cukup diselesaikan dari ruang kelas, tetapi membutuhkan kebijakan yang berpihak dan mampu menjangkau lebih banyak orang.
“Saya tumbuh dari dunia pendidikan. Tapi saya melihat banyak hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dari ruang kelas. Politik memberi ruang yang lebih luas untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat,” ujar Marjan.
Sebelum menjadi anggota DPRD, Marjan pernah mengajar di lingkungan Kementerian Agama, menjadi dosen di STAI DDI Maros, hingga dipercaya sebagai Tenaga Ahli Bupati Maros dalam bidang percepatan pembangunan.
Dari pengalaman tersebut, ia menyaksikan langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari sektor pendidikan, kesejahteraan hingga pembangunan daerah.
“Itulah yang memotivasi saya masuk ke dunia politik. Saya ingin ikut menentukan arah kebijakan agar lebih berpihak kepada masyarakat,” katanya.
Keputusan tersebut berbuah manis. Pada Pemilu Legislatif 2024, Marjan yang baru pertama kali maju sebagai calon anggota legislatif berhasil meraih 4.979 suara di Daerah Pemilihan (Dapil) V yang meliputi Kecamatan Tanralili, Tompobulu, dan Moncongloe.
“Ini pengalaman pertama saya mengikuti Pileg dan Alhamdulillah mendapat kepercayaan dari masyarakat. Amanah ini tentu harus saya jaga,” ujarnya.
Kini, sebagai Ketua Komisi II DPRD Maros, Marjan bertanggung jawab mengawasi sejumlah sektor strategis seperti ekonomi, perdagangan, pertanian, hingga pengelolaan sumber daya daerah.
Ia menyebut peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pengawasan terhadap program pemerintah menjadi dua fokus utama yang terus didorong Komisi II.
“Komisi II berperan memastikan kebijakan daerah berjalan efektif, efisien, dan transparan. Kami juga mendorong program-program yang mampu membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi lokal,” jelasnya.
Menurut Marjan, keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Karena itu, ia rutin turun ke lapangan untuk menyerap aspirasi warga.
“Kami terus melakukan reses, dialog, dan mediasi dengan masyarakat. Dari situ kami mengetahui kebutuhan riil warga dan menyampaikannya kepada pemerintah daerah,” katanya.
Dalam perjalanan politiknya, Marjan mengaku banyak terinspirasi oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Bupati Maros Chaidir Syam.
Menurutnya, Prabowo menjadi teladan dalam hal nasionalisme dan semangat perjuangan, sementara Chaidir Syam dinilainya sebagai sosok pemimpin yang dekat dengan masyarakat dan memiliki visi pembangunan yang jelas.
“Pak Prabowo memberi inspirasi tentang semangat nasionalisme dan perjuangan untuk rakyat. Sementara Pak Chaidir Syam adalah pemimpin yang merakyat dan visioner,” ujarnya.
Di tengah kesibukan sebagai legislator, Marjan mengaku tetap menjaga kedekatannya dengan masyarakat. Ia menilai jabatan yang diembannya saat ini hanyalah sarana untuk memperjuangkan kepentingan warga.
“Saya berasal dari masyarakat. Karena itu saya tidak ingin kehilangan kedekatan dengan mereka. Jabatan ini adalah alat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat,” katanya.
Selain aktif di dunia politik, Marjan juga masih mempertahankan kebiasaan yang telah lama digelutinya, yakni menulis. Melalui tulisan, ia menuangkan gagasan tentang pembangunan, kebijakan publik, dan berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.
“Menulis adalah cara saya belajar dan berbagi gagasan. Saya ingin tetap menjadi pembelajar meski sekarang berada di dunia politik,” ujarnya.
Meski perannya kini berubah dari pendidik menjadi legislator, Marjan menegaskan semangat pengabdiannya tetap sama. Jika dulu ia mengajar di ruang kelas, kini ia berupaya memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui kebijakan dan pengawasan di parlemen.
“Kalau dulu saya mengajar murid di kelas, sekarang saya ikut mengawal kebijakan agar manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak masyarakat,” pungkasnya.