Kick Off Pekan Jamu 2026 — Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. bersama narasumber, jajaran BPOM, serta para pemangku kepentingan menandai dimulainya Pekan Jamu 2026 di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta, Selasa (2/6/2026). Melalui tema “Menjamu Masa Depan dengan Jamu”, BPOM mendorong transformasi jamu Indonesia menjadi produk kesehatan modern yang berdaya saing global melalui penguatan riset, inovasi, dan hilirisasi industri obat bahan alam.
Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. menegaskan komitmennya menjadikan jamu sebagai kekuatan kesehatan dan ekonomi nasional yang mampu bersaing di pasar global. Melalui Pekan Jamu 2026, BPOM menyiapkan berbagai langkah strategis, termasuk peluncuran Buku PUSAKA dan platform BRIDGE untuk mempercepat hilirisasi riset obat bahan alam Indonesia.
menitindonesia, JAKARTA — Aroma rempah Nusantara kembali menguar dari Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Selasa (2/6/2026). Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi produk kesehatan global, Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengajak bangsa Indonesia kembali menoleh pada salah satu kekayaan terbesar yang diwariskan leluhur: jamu.
Bagi Taruna Ikrar, jamu bukan hanya ramuan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Jamu adalah identitas bangsa, kekuatan ekonomi, sekaligus instrumen diplomasi kesehatan Indonesia di panggung dunia.
Pesan itu disampaikan saat membuka Kick Off Pekan Jamu Tahun 2026 yang mengusung tema “Menjamu Masa Depan dengan Jamu.”
Kegiatan tersebut dihadiri narasumber seminar Prof. Dr. Apt. Sukardiman, M.S., perwakilan kementerian dan lembaga, pimpinan asosiasi pelaku usaha bidang obat, obat bahan alam, suplemen kesehatan dan kosmetik, jajaran pejabat pimpinan tinggi madya BPOM, pejabat fungsional ahli utama, pakar ahli Kepala BPOM, pejabat pimpinan tinggi pratama, kepala unit pelaksana teknis (UPT), akademisi, peneliti, komunitas jamu, pelaku industri, serta peserta yang mengikuti kegiatan secara luring dan daring dari berbagai daerah.
“Tema Menjamu Masa Depan dengan Jamu mencerminkan semangat kolektif untuk membawa jamu naik kelas dan mendunia. Dari warisan tradisional menjadi produk kesehatan yang modern, aman, bermutu, berkhasiat, dan berdaya saing global,” kata Taruna Ikrar.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Indonesia saat ini memiliki lebih dari 31.000 spesies tumbuhan yang menjadi modal besar pengembangan obat bahan alam. Di saat yang sama, terdapat lebih dari 1.200 industri dan usaha obat bahan alam, mulai dari UMKM hingga industri besar, dengan lebih dari 20.000 produk yang telah terdaftar.
Lebih jauh, Taruna Ikrar mengingatkan bahwa sejarah penggunaan herbal di Nusantara telah berlangsung puluhan ribu tahun silam. Temuan ilmiah mengenai penggunaan bahan alam pada pasien amputasi di Kalimantan menunjukkan praktik pengobatan tradisional telah dikenal sekitar 31.000 tahun lalu.
Pengakuan UNESCO terhadap “Budaya Sehat Jamu” sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2023 menjadi momentum penting untuk mengangkat posisi jamu Indonesia ke level internasional.
Dari Warisan Leluhur Menuju Industri Herbal Global
Meski memiliki modal besar, Taruna Ikrar mengakui transformasi jamu menuju produk kesehatan global masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari penguatan riset dan inovasi, standardisasi bahan baku, pembuktian khasiat berbasis sains, penguatan industri dari hulu ke hilir, hingga peningkatan budaya kepatuhan terhadap regulasi.
Karena itu, BPOM terus mendorong kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah agar hasil riset perguruan tinggi dapat dihilirisasi menjadi produk unggulan yang memiliki nilai tambah ekonomi dan daya saing internasional.
Di sisi lain, regenerasi konsumen jamu juga menjadi perhatian serius. Menurut Taruna Ikrar, generasi muda harus mulai melihat jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat modern yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
“Jadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri dan tamu terhormat di negara sahabat,” ujarnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui rangkaian Pekan Jamu 2026 yang berlangsung pada 2 hingga 7 Juni. Berbagai agenda telah disiapkan, mulai dari seminar dan talkshow ilmiah mengenai inovasi produk bahan alam, literasi regulasi bagi mahasiswa dan pelaku usaha, kompetisi edukatif untuk generasi muda, kampanye konsumsi jamu aman, layanan konsultasi terpadu BPOM DEKAT, hingga promosi kosmetik berbahan alam Indonesia.
Puncak kegiatan akan digelar pada 7 Juni 2026 melalui Festival Jamu Nusantara 2026 di kawasan Hutan Kota GBK Senayan hasil kerja sama BPOM dengan Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu).
Dalam momentum tersebut, BPOM akan meluncurkan Buku PUSAKA (Pustaka Bahan Aktif Obat Bahan Alam) serta fitur BRIDGE (Bersinergi dalam Riset Inovatif, berDaya Saing Global dan Ekspansi Pasar) yang dirancang untuk menjembatani hasil-hasil riset dengan kebutuhan industri sehingga dapat dikomersialisasikan lebih cepat.
Festival tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi nasional yang mempertemukan regulator, industri, UMKM, komunitas, akademisi, pelaku wellness, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem jamu Indonesia dari hulu hingga hilir.
Jika selama ini jamu dikenal sebagai warisan budaya, maka melalui langkah-langkah tersebut BPOM ingin membawanya menjadi kekuatan ekonomi baru Indonesia. Sebuah upaya yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menyiapkan masa depan.
Di bawah kepemimpinan Taruna Ikrar, jamu tidak lagi ditempatkan sebagai produk pelengkap, melainkan aset strategis bangsa yang berpotensi mengantarkan Indonesia menjadi salah satu pemain utama industri herbal dunia. Sebuah visi besar yang berangkat dari kekayaan hayati Nusantara dan diarahkan untuk menjawab tantangan kesehatan global di masa depan