Kepala Badan Komunikasi Republik Indonesia, M Qodari. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Muhammad Qodari, merespons hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, pemerintah menghargai setiap hasil survei sebagai bagian dari mekanisme demokrasi sekaligus bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan.
Qodari menegaskan, Presiden Prabowo secara konsisten melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan, mulai dari aspek tata kelola, penegakan hukum, hingga opini publik.
“Survei opini publik merupakan masukan yang penting dalam negara demokrasi. Kami tidak pernah mengatakan masyarakat tidak berhak menilai. Justru itu menjadi bagian dari evaluasi pemerintah,” kata Qodari dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).
Meski menerima hasil survei tersebut, Qodari menilai indikator yang digunakan masih bersifat umum. Ia berharap lembaga survei menyajikan analisis yang lebih rinci agar penyebab perubahan persepsi masyarakat dapat dipetakan secara lebih akurat.
Menurutnya, variabel seperti ekonomi, politik, dan hukum seharusnya dipecah menjadi sejumlah indikator yang lebih spesifik. Misalnya, pada sektor ekonomi, survei dapat mengukur persepsi masyarakat terhadap harga kebutuhan pokok, ketersediaan lapangan kerja, nilai tukar rupiah, hingga efektivitas program-program pemerintah.
“Dengan riset yang lebih detail, kita bisa mengetahui faktor apa yang benar-benar memengaruhi penilaian masyarakat. Itu akan jauh lebih bermanfaat, baik bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan maupun bagi publik untuk memahami hasil survei secara utuh,” ujarnya.
Qodari menegaskan, pihaknya tidak membantah hasil survei SMRC. Sebaliknya, pemerintah menjadikan survei tersebut sebagai salah satu referensi dalam melakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang dijalankan.
Ia menilai penelitian yang lebih mendalam juga akan memperlihatkan indikator mana yang memperoleh penilaian positif maupun negatif, sekaligus menunjukkan tingkat pengaruh masing-masing indikator terhadap kepuasan publik.
“Kalau dijelaskan lebih rinci mengapa variabel ekonomi turun, mengapa variabel politik turun, atau indikator lainnya, maka publik akan lebih mudah memahami konteksnya. Hasil survei juga menjadi lebih komprehensif dan argumentatif,” pungkas Qodari.