Dekan Fakultas Farmasi Unpad Prof. apt. Auliya Abdurrohim Suwantika, Ph.D., bersama Kepala BPOM Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dalam kuliah umum Fakultas Farmasi Unpad di Auditorium Bela Sawala, Jatinangor, Kamis (13/8/2026).
Dari gagasan kolaborasi Academia, Business, Government yang dibawa Prof. Taruna Ikrar, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran menerjemahkannya ke dalam program pendidikan baru. Prodi Rekayasa Kosmetik resmi dibuka tahun ini dan langsung mendapat sambutan kuat dari calon mahasiswa.
menitindonesia, BANDUNG — Sebuah gagasan tentang masa depan pendidikan farmasi menemukan bentuk konkretnya di Universitas Padjadjaran (Unpad).
Bukan dalam bentuk seminar, bukan pula berhenti sebagai konsep di ruang akademik. Gagasan itu diterjemahkan menjadi sebuah program studi baru yang dirancang untuk mempertemukan ilmu pengetahuan, kebutuhan industri dan regulasi: Program Studi Sarjana Rekayasa Kosmetik.
Dekan Fakultas Farmasi Unpad, Prof. apt. Auliya A. Suwantika, Ph.D., menyebut pembukaan program studi tersebut tidak terlepas dari semangat kolaborasi Academia, Business, Government (ABG) yang sering disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D..
Gagasan itu menemukan momentumnya ketika Taruna hadir di Auditorium Fakultas Farmasi Bela Sawala, Jatinangor, Kamis, 13 Agustus 2026, untuk memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Fakultas Farmasi.
Di hadapan civitas akademika dan generasi baru calon farmasis, Taruna menjelaskan bahwa perkembangan ilmu farmasi tidak bisa dilepaskan dari hubungan antara sains, regulasi dan kolaborasi. Dalam materi kuliahnya, ia menempatkan Academia, Business, Government sebagai model penting untuk mendorong pengembangan dan hilirisasi inovasi.
Bagi Auliya, gagasan tersebut relevan dengan tantangan pendidikan tinggi saat ini. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan penguasaan teori, tetapi harus mampu membaca kebutuhan industri dan perubahan teknologi, sekaligus memastikan kompetensi lulusan tetap berada dalam koridor regulasi.
Dari pemikiran itulah Rekayasa Kosmetik mendapat ruang. Fakultas Farmasi Unpad resmi membuka Program Studi Sarjana Rekayasa Kosmetik mulai Tahun Akademik 2026/2027. Program ini dirancang untuk menghasilkan sumber daya manusia yang menguasai pengembangan produk kosmetik secara menyeluruh, mulai dari formulasi, produksi, pengendalian mutu, aspek regulasi hingga pemasaran.
Yang menarik, program studi ini hadir ketika industri kosmetik Indonesia sedang membutuhkan sumber daya manusia dengan kompetensi yang semakin spesifik. Kosmetik tidak lagi semata-mata soal formula dan penampilan produk. Di belakangnya terdapat ilmu bahan baku, teknologi formulasi, keamanan, stabilitas, regulasi, pengendalian mutu, hingga strategi bisnis.
Kurikulum Rekayasa Kosmetik Unpad bahkan memasukkan mata kuliah seperti Bioteknologi Kosmetik, Green Cosmetics, Regulasi Kosmetik, Keamanan Kosmetik, Komputasi Kosmetik, Penjaminan Mutu, Sistem Jaminan Halal, hingga Pengembangan Produk dan Bisnis Kosmetik.
Kepala BPOM Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dikerumuni mahasiswa baru Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) usai memberikan kuliah umum di Auditorium Fakultas Farmasi Bela Sawala, Jatinangor, Kamis (13/8/2026). Antusiasme mahasiswa terlihat dalam sesi interaksi dan dialog bersama Taruna mengenai masa depan ilmu farmasi di era Artificial Intelligence (AI) dan Precision Medicine.
Kampus Membaca Arah Industri
Pilihan Unpad membuka program studi tersebut juga tidak berdiri sendiri. Fakultas Farmasi sejak awal menyiapkan kolaborasi dengan dunia industri agar pendidikan yang diberikan tidak berjarak dengan kebutuhan lapangan.
Salah satunya melalui penjajakan kerja sama dengan PT Paragon Technology and Innovation, yang diarahkan pada penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, team teaching, magang mahasiswa serta riset pengembangan produk kosmetik.
Di sinilah gagasan ABG memperoleh bentuk yang lebih nyata. Academia menyediakan pengetahuan, riset dan sumber daya manusia. Business membawa kebutuhan pasar, teknologi dan pengalaman industri. Sementara Government melalui kebijakan dan regulator memastikan inovasi yang dikembangkan memenuhi standar keamanan, mutu dan ketentuan yang berlaku.
Model tersebut juga menjadi bagian dari materi Taruna saat berbicara tentang masa depan ilmu farmasi. Ia mencontohkan kolaborasi pengembangan biosimilar insulin detemir antara UGM, Bernofarm dan BPOM, pengembangan Mesenchymal Stem Cell yang melibatkan UI, Kimia Farma, BPOM dan Kementerian Kesehatan, serta pengalaman Unpad dalam uji klinik vaksin COVID-19 bersama Sinovac dan Bio Farma.
Bagi Unpad, Rekayasa Kosmetik menjadi salah satu cara menerjemahkan paradigma tersebut ke dalam pendidikan. Dan respons calon mahasiswa menunjukkan bahwa arah itu menemukan pasarnya.
Program studi yang baru dibuka pada tahun akademik ini langsung mendapat perhatian besar dan menjadi salah satu program studi yang banyak diminati di Fakultas Farmasi Unpad. Secara resmi, daya tampung awalnya ditetapkan 80 mahasiswa, melalui jalur SNBP, SNBT dan Mandiri.
Fenomena itu menarik. Di tengah perubahan dunia kerja dan semakin kuatnya industri kosmetik, generasi muda ternyata melihat bidang ini sebagai ruang masa depan.
Bukan hanya sebagai industri kecantikan, tetapi sebagai persilangan antara sains, teknologi, kesehatan, industri dan kewirausahaan.
Fakultas Farmasi Unpad sendiri menempatkan program ini dengan visi menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan kosmetik yang aman, bermanfaat, bermutu dan berkelanjutan, sekaligus mampu menjawab kebutuhan industri kosmetik di tingkat nasional maupun global.
Dari sini, gagasan ABG yang disampaikan Taruna Ikrar memperoleh makna yang lebih luas.
Kolaborasi bukan lagi sekadar mempertemukan tiga unsur dalam satu forum. Kolaborasi berarti membangun sistem yang membuat pengetahuan akademik dapat bergerak menuju inovasi, inovasi dapat masuk ke industri, dan seluruh proses tetap berada dalam pengawasan regulasi.
Di Fakultas Farmasi Unpad, gagasan itu kini memiliki bentuk yang konkret: sebuah program studi baru dan generasi mahasiswa baru yang dipersiapkan untuk memasuki industri kosmetik dengan bekal sains, teknologi dan pemahaman regulasi. Dan mungkin di situlah ukuran keberhasilan sebuah gagasan.
Bukan seberapa indah ia disampaikan di ruang kuliah, tetapi seberapa jauh ia mampu melahirkan perubahan nyata di ruang pendidikan, industri dan masyarakat.