
-
Di tengah duka yang menyelimuti Nusa Tenggara Timur, BPOM di bawah kepemimpinan Taruna Ikrar menunjukkan bahwa pengawasan obat dan makanan tidak berhenti di ruang regulasi. Ketika ribuan warga kehilangan rumah dan harapan akibat bencana, tangan kemanusiaan BPOM bergerak menggalang bantuan yang kini mendekati Rp2 miliar.
menitindonesia, JAKARTA — Di balik angka-angka korban yang terus bertambah akibat rangkaian bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), tersimpan kisah solidaritas yang tumbuh dari berbagai penjuru negeri. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI melalui program BPOM Peduli Kemanusiaan menggalang dukungan dari pegawai dan para mitra untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di tujuh kabupaten/kota di NTT.
BACA JUGA:
Kunjungi Lokasi Pengungsian, Prabowo Janji Pemerintah Terus Bantu Warga Terdampak Gempa
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 27 Agustus 2026 mencatat sedikitnya 111 korban jiwa, 1.672 korban luka atau sakit, serta 176.621 warga mengungsi akibat bencana yang melanda wilayah tersebut. Angka itu bukan hanya statistik, melainkan gambaran nyata tentang ribuan keluarga yang sedang berjuang membangun kembali kehidupannya.
Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., atas nama keluarga besar BPOM, menyampaikan duka mendalam dan empati kepada seluruh korban serta keluarga yang terdampak. Baginya, kehadiran negara harus dirasakan masyarakat bukan hanya dalam kebijakan, tetapi juga dalam tindakan nyata saat menghadapi situasi sulit.
Semangat itulah yang mendorong lahirnya gerakan BPOM Peduli Kemanusiaan. Respons yang datang dari pegawai dan mitra BPOM pun terbilang luar biasa. Hingga 27 Agustus 2026, donasi yang berhasil dihimpun mencapai nilai ekonomi Rp1.297.565.688 dalam bentuk barang serta Rp610.019.469 dalam bentuk uang tunai. Total bantuan yang terkumpul mendekati Rp1,9 miliar, sebuah angka yang mencerminkan kuatnya solidaritas sosial di tengah bencana.
Taruna Ikrar menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pegawai serta mitra yang telah ikut berpartisipasi. Menurutnya, setiap bantuan yang diberikan memiliki arti besar bagi masyarakat yang sedang menghadapi masa-masa paling berat dalam hidup mereka.
Kemanusiaan Bergerak Hingga Pelosok Bencana
Komitmen BPOM tidak berhenti pada penggalangan dana. Penyaluran bantuan telah dilakukan secara bertahap untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera terpenuhi.
Gelombang pertama bantuan disalurkan pada 21 Agustus 2026 berupa kebutuhan pokok senilai Rp10 juta. Penyerahan dilakukan bersama Anggota Komisi IX DPR RI di Posko Penampungan Korban Gempa di Kecamatan Waerii, Kabupaten Manggarai. Saat itu kegiatan turut dihadiri Gubernur NTT dan Bupati Manggarai sebagai bentuk sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam membantu masyarakat terdampak.
BACA JUGA:
Pajak Kendaraan Batal Naik, Gubernur Sulsel: Kondisi Masyarakat Harus Jadi Perhatian
Memasuki gelombang kedua, BPOM Peduli Kemanusiaan kembali menyalurkan bantuan berupa barang dan dana senilai Rp500 juta yang akan didistribusikan melalui posko-posko bantuan di Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Ende. Selain itu, BPOM juga memberikan bantuan uang senilai Rp6,5 juta kepada pegawai Balai POM di Ende dan keluarga pegawai Inspektorat I yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa.
Yang menarik, BPOM tidak hanya mengirimkan bantuan lalu selesai. Lembaga ini juga menyiapkan mekanisme pengawalan agar distribusi bantuan berjalan tepat sasaran. Kepala Balai Besar POM di Kupang, Kepala Balai POM di Ende, serta Kepala Loka POM di Kabupaten Manggarai Barat ditugaskan untuk mengoordinasikan sekaligus mengawasi proses penyaluran di lapangan.
Langkah tersebut menunjukkan pendekatan yang terukur dan bertanggung jawab, memastikan setiap bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Taruna Ikrar menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan akan terus digulirkan. Setelah tahap kedua ini, BPOM Peduli Kemanusiaan akan melanjutkan penyaluran pada gelombang berikutnya untuk menjangkau kelompok masyarakat lain yang masih membutuhkan dukungan.
Di tengah besarnya tantangan yang dihadapi NTT, gerakan kemanusiaan ini menjadi pesan bahwa solidaritas bangsa masih hidup dan bekerja. Ketika bencana merenggut banyak hal, kepedulian menjadi energi yang membantu masyarakat bangkit kembali. Dan melalui BPOM Peduli Kemanusiaan, Taruna Ikrar menunjukkan bahwa lembaga negara tidak hanya hadir sebagai regulator, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar bangsa yang ikut merasakan duka rakyatnya.













