2.300 Penerbangan Terdampak Abu Anak Krakatau, Pemerintah Siapkan 6 Bandara Alternatif

Suasana di terminal keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu operasional penerbangan di sejumlah wilayah. Sejak 5 September 2026, sekitar 2.300 penerbangan dan 270.337 penumpang terdampak akibat pembatalan, penundaan, hingga pengalihan penerbangan.
Untuk menjaga konektivitas penerbangan, pemerintah menyiapkan enam bandara alternatif yang dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi operasional.
Enam bandara tersebut yakni Bandara Juanda di Jawa Timur, Bandara Adi Soemarmo di Jawa Tengah, Bandara Internasional Yogyakarta dan Bandara Adisutjipto di Daerah Istimewa Yogyakarta, Bandara Jenderal Ahmad Yani di Jawa Tengah, serta Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penggunaan bandara alternatif didorong untuk mencegah penumpukan penumpang akibat penutupan sejumlah bandara yang terdampak abu vulkanik.
“Kami mendorong agar maskapai dapat menggunakan bandara tersebut untuk menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun yang akan terbang. Ini yang kita harapkan supaya pengaturan penumpang bisa optimal,” kata Dudy saat memantau Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (7/9/2026).

BACA JUGA:
Erupsi Anak Krakatau, Penerbangan di 4 Bandara Masih Ditutup

Namun, penggunaan bandara alternatif tetap bergantung pada kondisi operasional masing-masing bandara, kesiapan fasilitas, rute penerbangan, serta keputusan maskapai.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus berkoordinasi dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, maskapai, dan instansi terkait untuk memastikan penyesuaian penerbangan dilakukan secara aman dan terkoordinasi.
7 Bandara Masih Ditutup
Hingga Senin (7/9) pagi, sejumlah bandara di Jawa dan Sumatera masih terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), penutupan sementara sejumlah bandara diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB.
Bandara yang masih ditutup sementara yakni:
  • Bandara Soekarno-Hatta, Banten
  • Bandara Radin Inten II, Lampung
  • Bandara Budiarto, Banten
  • Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta
  • Bandara Pondok Cabe, Banten
  • Bandara Muhammad Taufiq Kiemas, Lampung
  • Bandara Husein Sastranegara, Jawa Barat
Sementara Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan, yang sebelumnya sempat ditutup, sudah kembali beroperasi normal sejak pukul 09.00 WIB, Senin (7/9).
Dudy mengatakan penyesuaian operasional penerbangan dilakukan secara dinamis. Keputusan tersebut mengikuti kondisi aktual di lapangan dan perkembangan sebaran abu vulkanik.
“Penyesuaian operasional penerbangan dilakukan secara dinamis mengikuti kondisi aktual di lapangan dan perkembangan sebaran abu vulkanik,” ujar Dudy.
BMKG mencatat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Senin pagi masih terpantau pada dua lapisan ketinggian, yakni hingga 15.000 kaki dan 50.000 kaki.
Kondisi tersebut masih berpotensi mengganggu jalur penerbangan. Karena itu, operasional bandara dan rute penerbangan terus disesuaikan berdasarkan perkembangan sebaran abu serta informasi keselamatan penerbangan.
270 Ribu Penumpang Terdampak
Dampak abu vulkanik tidak hanya dirasakan pada bandara yang ditutup.
Dari total sekitar 2.300 penerbangan terdampak, sebanyak 1.397 penerbangan dengan sekitar 177.579 penumpang terdampak di bandara yang berstatus ditutup sementara.
Sementara itu, 922 penerbangan dengan sekitar 92.758 penumpang lainnya terdampak akibat penyesuaian rute penerbangan.
Kemenhub terus berkoordinasi dengan maskapai dan pengelola bandara untuk menangani dampak terhadap penumpang serta memastikan pelayanan tetap berjalan sesuai ketentuan.
Masyarakat yang hendak bepergian menggunakan pesawat juga diminta tidak langsung menuju bandara sebelum memastikan status penerbangannya kepada maskapai.
Penumpang yang terdampak penutupan bandara diminta mengikuti kebijakan maskapai terkait perubahan jadwal maupun pengalihan penerbangan.
“Kami mengapresiasi masyarakat yang telah tertib mengikuti aturan dan arahan terkait kondisi penerbangan saat ini. Dukungan dan kepatuhan masyarakat sangat membantu proses penanganan kondisi ini, khususnya dalam menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan,” kata Dudy.
Bandara Dibersihkan Sebelum Dibuka
Dudy memastikan pemerintah akan segera menyiapkan kembali operasional bandara apabila kondisi sudah dinyatakan aman.
Namun, bandara yang sempat ditutup tidak otomatis langsung melayani penerbangan begitu status penutupan dicabut. Sejumlah persiapan harus dilakukan terlebih dahulu.
“Dalam persiapannya, apabila kondisi sudah memungkinkan untuk bandara dibuka, kami akan melakukan upaya-upaya seperti pembersihan runway, taxi way, maupun apron. Hal ini supaya apabila pada waktunya situasi sudah memungkinkan, bandara siap dioperasikan,” jelasnya.
Kemenhub meminta masyarakat terus memantau perkembangan penerbangan melalui kanal informasi resmi pemerintah dan maskapai. Sebab, status operasional bandara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan abu vulkanik dan kondisi keselamatan penerbangan.