menitindonesia, JAKARTA – Kepergian Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra meninggalkan jejak sejarah yang panjang di panggung seni dan politik Tanah Air. Putra bungsu dari pasangan Presiden pertama RI, Soekarno, dan Fatmawati ini bukan sekadar keturunan proklamator, melainkan sosok maestro yang mendedikasikan hidupnya untuk kebudayaan Nusantara.
Lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953, adik kandung Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri ini justru lebih dulu menancapkan taringnya di dunia kesenian ketimbang politik. Sejak usia 5 tahun, Guruh sudah menguasai tari tradisional Jawa, Sunda, hingga Bali.
Ketertarikannya pada musik membuahkan hasil sejak belia. Setelah membentuk Band Bocah dan mahir bermain piano, Guruh mendirikan grup The Beat-G di usia 12 tahun (1965), disusul The Flower Poetman pada tahun 1970.
Gebrakannya di industri musik Indonesia mencetak sejarah saat ia merilis album Guruh Gipsy (1977) bersama Keenan Nasution, Chrisye, dan Abadi Soesman. Album ini sukses mengawinkan unsur musik Barat dengan gamelan tradisional Bali. Tangan dingin Guruh juga melahirkan deretan tembang abadi, mulai dari Galih dan Ratna, Gita Cinta, Renjana, Kembalikan Bali Padaku, hingga Kala Cinta Menggoda.
Tak puas hanya mencipta lagu, Guruh mendirikan wadah seni legendaris Swara Mahardhika pada 1977, yang kemudian disusul dengan berdirinya GSP Production pada 1989. Lewat wadah ini, Guruh merangkap sebagai koreografer, komposer, hingga sutradara yang rutin menggelar Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra dari tahun 1979 hingga 1986.
Kiprahnya merambah ke layar lebar. Guruh dipercaya menjadi penata musik untuk film-film ikonis seperti Ali Topan Anak Jalanan (1977) dan Gita Cinta dari SMA (1979). Ia bahkan unjuk gigi sebagai aktor, salah satunya memerankan tokoh Sunan Muria dalam film Sembilan Wali (1985).
Totalitas Guruh di dunia seni diganjar sederet penghargaan prestisius. Ia menyabet trofi Musik Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 1978. Di kancah global, ia memborong Kawakami Award di World Popular Song Festival Tokyo, hingga dianugerahi penghargaan Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis pada 1991.
Meski lekat dengan seni, darah politik sang ayah perlahan memanggilnya. Melalui PDI Perjuangan (PDIP), Guruh sukses menembus Senayan dan menjabat sebagai anggota DPR RI selama enam periode.
Kariernya di parlemen merentang sejak 1992–1997, berlanjut tanpa henti dari 1999 hingga 2024 mewakili sejumlah daerah pemilihan di Jawa Timur. Di kursi legislatif, latar belakang senimannya tak pernah luntur. Guruh kerap vokal mengkritik minimnya fasilitas kesenian, termasuk menyoroti ketiadaan gedung pertunjukan bertaraf internasional di Indonesia.
Untuk kehidupan pribadinya, tokoh yang mendedikasikan nyaris seluruh hidupnya untuk seni dan negara ini pernah membina rumah tangga dengan perempuan asal Uzbekistan, Guseynova Sabina Padmavati, pada tahun 2002 hingga 2009.