69.190 Personel Dikerahkan Padamkan Karhutla, 639 Hektare Lahan Masih Terbakar

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni saat berkunjung ke lokasi kebakaran Hutan di Kalimantan Tengah. (ist)
menitindonesia, JAKARTA — Pemerintah mengerahkan 69.190 personel gabungan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas. Meski 440,59 hektare lahan berhasil dipadamkan pada Senin (12/10/2026), sebanyak 639,27 hektare lainnya masih terbakar dan membutuhkan penanganan lanjutan.
Berdasarkan data penanganan karhutla, masih terdeteksi 230 titik panas (hotspot) level tinggi dan 166 titik kebakaran (firespot) di enam provinsi tersebut.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan penanganan karhutla menjadi prioritas pemerintah. Ia meminta jajarannya segera memenuhi kebutuhan personel maupun peralatan untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah kebakaran kembali meluas.
“Kalau ada kebutuhan, kalau ada keperluan, apa yang kamu butuh, sampaikan, ya. Ini prioritas sangat utama bagi kita. Kita harus segera atasi ini. Dan kita harus mencegah ke depan,” kata Prabowo dalam rapat terbatas penanganan karhutla, dikutip Rabu (14/10).
Enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

BACA JUGA:
Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara Hasanuddin, Ribuan Penumpang Gagal Berangkat

Rinciannya, sebanyak 14.458 personel dikerahkan di Kalimantan Barat, 13.699 personel di Kalimantan Tengah, 7.927 personel di Kalimantan Selatan, 12.285 personel di Sumatera Selatan, 14.837 personel di Riau, dan 5.984 personel di Jambi.
Satgas Darat melakukan pemeriksaan langsung atau ground check terhadap titik panas dan titik kebakaran untuk memastikan lokasi yang membutuhkan penanganan segera.
Sementara itu, Satgas Udara mengerahkan 16 pesawat Casa untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca (OMC), serta 34 helikopter untuk pemadaman melalui metode water bombing atau pengeboman air dari udara.
Patroli udara dilakukan di Kalimantan Selatan dan Riau. Adapun operasi water bombing berlangsung di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Jambi.
Operasi modifikasi cuaca juga dilaksanakan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi untuk membantu meningkatkan kelembapan serta mendukung upaya pengendalian karhutla.
Selain mengerahkan puluhan ribu personel dan armada udara, pemerintah menyiapkan strategi untuk memutus jalur pergerakan api menggunakan alat berat. Langkah ini dilakukan agar kebakaran tidak terus menjalar ke area lain.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni mengatakan, pemadaman tidak hanya dilakukan dengan mengejar kobaran api, tetapi juga dengan memutus bagian utama pergerakan api atau kepala api.
“Sekarang kita coba memutus kepala apinya. Kepala apinya yang kita putus dengan kecepatan, menggunakan alat berat supaya menghindari mudarat yang lebih besar lagi. Ini akan tambah nanti ada mungkin 4-5 ekskavator lagi untuk menyekat apinya,” ujar Raja Juli, dikutip Rabu (14/10/2026).
Pemerintah juga merencanakan pembangunan sekitar 30 sumur bor di lokasi rawan kebakaran. Sumur tersebut direncanakan berjarak sekitar 50 meter di sepanjang kepala api untuk memastikan ketersediaan air bagi petugas pemadam.
Menurut Raja Juli, upaya pengendalian karhutla turut dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca. Penyemaian garam ke awan potensial dilakukan untuk membantu meningkatkan kelembapan di wilayah yang membutuhkan penanganan.
“Apakah itu dari kabupaten yang ada karhutla atau tidak, tetap kita semai (garam ke awan potensial) untuk melakukan pelembapan,” tuturnya.
Meski demikian, pemadaman melalui udara masih bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang. Helikopter water bombing baru dapat beroperasi ketika kondisi di lapangan memungkinkan.
“Kita akan terus berusaha ketika nanti ada celah untuk waterbombing turun. Kita turun, jadi tidak kurang-kurang,” tegas Raja Juli.
Penanganan karhutla melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, serta Manggala Agni Kementerian Kehutanan. Petugas gabungan terus berupaya memadamkan api di tengah berbagai kendala di lapangan.
Raja Juli juga menyampaikan empati kepada masyarakat yang terdampak asap karhutla selama tiga bulan terakhir. Ia mengatakan pemerintah pusat dan daerah terus berupaya menangani kebakaran serta terbuka terhadap kritik dan evaluasi masyarakat.
“Kami sangat berempati dan oleh karena itu sekaligus ini memotivasi kami untuk bekerja dengan lebih sungguh-sungguh,” katanya.
Ia menegaskan, kritik dan masukan masyarakat menjadi dorongan bagi pemerintah untuk meningkatkan upaya penanganan karhutla.
“Kritik itu adalah vitamin, obat untuk memotivasi kami untuk bekerja lebih keras,” pungkasnya.