Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyampaikan paparan ilmiah dalam bahasa Inggris pada The 7th International Seminar on Pharmaceutical Sciences and Technology (ISPST) 2026 di Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung, Rabu (21/10/2026). Dalam forum internasional tersebut, Taruna membahas penguatan sains regulasi, inovasi farmasi, dan perlindungan kesehatan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Di tengah lompatan kecerdasan buatan, pengembangan terapi mutakhir, dan potensi besar kekayaan hayati Indonesia, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengingatkan bahwa inovasi harus berjalan beriringan dengan regulasi yang kuat, kolaborasi lintas sektor, dan tanggung jawab melindungi kesehatan masyarakat.
menitindonesia, BANDUNG — Dunia farmasi bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan mulai mempercepat penemuan kandidat obat, terapi gen membuka peluang baru bagi penyakit yang selama ini sulit ditangani, sementara kekayaan hayati Indonesia menyimpan potensi besar bagi pengembangan obat dan produk kesehatan. Namun, di balik optimisme itu, ada satu pertanyaan mendasar: mampukah regulasi mengikuti laju inovasi tanpa mengorbankan keselamatan masyarakat?
Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam The 7th International Seminar on Pharmaceutical Sciences and Technology (ISPST) 2026di Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung, Rabu, 21 Oktober 2026. Mengusung tema “Advancing Pharma and Food Innovation for a Healthier and Sustainable Indonesia”, forum ini mempertemukan akademisi dan peserta dari Indonesia maupun luar negeri untuk membahas masa depan inovasi farmasi, pangan, dan kesehatan.
Kegiatan diawali dengan sambutan penyambutan dari Prof. Dr. Apt. Aliya Nur Hasanah yang mewakili Rektor Universitas Padjadjaran. Setelah itu, sorotan utama forum tertuju pada Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., yang menyampaikan paparan ilmiah dalam bahasa Inggris di hadapan peserta seminar internasional tersebut.
Bagi Taruna, kampus bukan hanya tempat bertemunya teori dan penelitian. Perguruan tinggi merupakan ruang strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia, melahirkan inovasi, dan memastikan ilmu pengetahuan menjawab persoalan nyata masyarakat.
Kehadirannya di UNPAD juga menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menyambangi perguruan tinggi. Kampus ini tercatat sebagai kunjungan ke-191 dalam rangkaian kegiatannya menyampaikan peran BPOM sekaligus memperluas pemahaman sivitas akademika mengenai hubungan antara sains, regulasi, industri, dan perlindungan kesehatan publik.
Bagi Taruna, kedekatan antara regulator dan dunia akademik bukan agenda seremonial. Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, pengetahuan harus bergerak keluar dari ruang kuliah, memasuki ruang pengambilan keputusan, dan berujung pada manfaat yang bisa dirasakan masyarakat.
Salah satu persoalan yang disoroti Taruna adalah kesenjangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan ketersediaan terapi bagi pasien. Presentasinya menyoroti lebih dari 7.000 penyakit langka yang telah teridentifikasi di dunia. Sekitar 95 persen di antaranya belum memiliki terapi yang disetujui.
Angka tersebut bukan hanya persoalan statistik medis. Di baliknya ada pasien dan keluarga yang menunggu harapan, sementara para peneliti terus berupaya menemukan pengobatan yang lebih efektif.
Perkembangan terapi gen, teknologi mRNA, bioteknologi, dan nanoteknologi membuka peluang baru dalam penanganan berbagai penyakit. Kecerdasan buatan juga memungkinkan peneliti menyaring kandidat molekul dan menganalisis data dengan lebih cepat. Namun, kecepatan penemuan tidak otomatis menghapus kebutuhan akan pengujian ilmiah, penilaian manfaat dan risiko, serta pengawasan yang ketat.
Di sinilah peran regulator menjadi penting. Inovasi perlu diberi ruang untuk berkembang, tetapi setiap produk yang digunakan masyarakat harus memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan khasiat atau manfaat sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam materi presentasinya, Taruna menegaskan kebutuhan terhadap sistem regulasi yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
“These challenges demand regulatory systems that are adaptive, science-based, and capable of protecting public health. (Tantangan-tantangan ini menuntut sistem regulasi yang adaptif, berbasis sains, dan mampu melindungi kesehatan masyarakat),” kata Taruna Ikrar dalam bahasa Inggris yang fasih.
Pesan tersebut menempatkan regulator bukan sebagai penghambat inovasi, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem yang memastikan kemajuan teknologi dapat dipercaya dan digunakan secara bertanggung jawab.
BPOM, dalam paparannya, memperkuat tiga kapasitas utama: strong, trusted, and connected—kuat, tepercaya, dan terhubung. Kuat berarti memiliki kapasitas ilmiah dan pengawasan berbasis risiko. Tepercaya berarti mengambil keputusan secara independen, transparan, dan berdasarkan bukti. Terhubung berarti membangun kerja sama dan pertukaran informasi dengan mitra regulasi di dalam maupun luar negeri.
“Trusted means independent, transparent, and evidence-based decisions. (Tepercaya berarti mengambil keputusan secara independen, transparan, dan berdasarkan bukti),” ujar Taruna.
Prinsip tersebut semakin relevan ketika pengembangan dan distribusi produk kesehatan melintasi batas negara. Perubahan teknologi, rantai pasok global, serta munculnya ancaman kesehatan baru menuntut regulator bekerja dengan pendekatan ilmiah yang kuat sekaligus mampu berkolaborasi secara internasional.
Presentasi Taruna juga menempatkan penguatan kapasitas regulasi Indonesia dalam konteks pengakuan dan kerja sama global, termasuk status BPOM sebagai WHO Listed Authority pada 2025. Penguatan kapasitas itu menjadi modal untuk meningkatkan kepercayaan, memperluas kolaborasi, dan mendorong produk Indonesia memenuhi standar yang dibutuhkan di pasar internasional.
Selain teknologi farmasi modern, Taruna mengangkat potensi kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber pengembangan produk kesehatan. Indonesia memiliki keragaman tumbuhan yang besar, termasuk bahan alam yang selama ini digunakan dalam pengobatan tradisional.
Namun, potensi tersebut, kata dia, tidak akan berkembang optimal apabila hanya berhenti pada pengetahuan turun-temurun atau pemanfaatan bahan mentah. Diperlukan penelitian, standardisasi, pembuktian ilmiah, serta pengembangan produk yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.
Taruna mengatakan, pengembangan obat bahan alam harus mempertemukan pengetahuan tradisional dengan metode ilmiah. Tujuannya, bukan menghilangkan akar tradisi, melainkan memperkuat dasar ilmiah agar produk yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dan memperoleh kepercayaan lebih luas.
Pendekatan serupa berlaku pada industri pangan. Inovasi produk harus berjalan bersama perlindungan konsumen, peningkatan mutu, dan upaya mendorong pola konsumsi yang lebih sehat. Dengan begitu, pengembangan industri tidak hanya dinilai dari besarnya pasar, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kualitas hidup masyarakat.
Skala ekonomi sektor yang berada dalam lingkup pengawasan BPOM memperlihatkan besarnya peluang tersebut. Dalam presentasinya, Taruna menyebut potensi ekonomi sektor-sektor terkait mencapai sekitar Rp10.000 triliun. Potensi itu mencakup pangan olahan, farmasi, kosmetik, suplemen kesehatan, hingga obat bahan alam.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengawasan dan pengembangan industri bukan dua agenda yang harus dipertentangkan. Regulasi yang kredibel dapat memperkuat kepercayaan konsumen, memberi kepastian bagi pelaku usaha, dan membuka ruang pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Di dalam ekosistem yang sama, usaha mikro, kecil, dan menengah juga memerlukan pendampingan agar mampu memenuhi standar yang ditetapkan. Perlindungan konsumen dan pertumbuhan usaha dapat berjalan bersama ketika pembinaan, pengawasan, dan kepastian regulasi dirancang secara tepat.
Kolaborasi ABG dan Masa Depan Generasi Muda
Taruna Ikrar juga menjelaskan, masa depan inovasi tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Perguruan tinggi menghasilkan ilmu dan talenta; industri mengembangkan pengetahuan menjadi produk serta lapangan kerja; sementara pemerintah membangun kebijakan, menyediakan kepastian regulasi, dan menjaga kepentingan publik.
Kolaborasi itu dikenal sebagai ABG: Academia, Business, and Government. Gagasan ini menjadi salah satu pesan penting bagi mahasiswa yang mengikuti seminar. Pendidikan tinggi perlu membuka hubungan yang lebih nyata dengan kebutuhan industri dan arah pembangunan nasional. Penelitian harus memiliki peluang untuk dikembangkan, sementara mahasiswa perlu memperoleh gambaran bahwa pengetahuan yang mereka pelajari dapat menjadi jalan menuju profesi, inovasi, dan kesempatan kerja.
Kolaborasi tersebut, ujar Taruna, dapat memperluas ruang bagi penelitian bersama, pengembangan produk, inkubasi inovasi, dan penguatan talenta. Kampus tidak kehilangan fungsi akademiknya ketika bekerja sama dengan industri. Sebaliknya, hubungan yang dikelola secara sehat dapat membuat ilmu pengetahuan semakin dekat dengan persoalan masyarakat.
Dalam kerangka pembangunan nasional, pendekatan ABG juga relevan dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta daya saing ekonomi. Tantangannya adalah menerjemahkan agenda besar itu menjadi kesempatan konkret bagi mahasiswa dan peneliti.
Taruna turut menyoroti pentingnya kepemimpinan ilmiah, pola pikir bertumbuh, integritas, etika, dan kemampuan beradaptasi. Perkembangan kecerdasan buatan tidak membuat peran dosen dan perguruan tinggi kehilangan arti. Justru, kata Taruna, kampus perlu semakin kuat dalam membimbing mahasiswa untuk berpikir kritis, menilai informasi, memahami konteks, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Di tengah banjir informasi digital, kemampuan mengakses pengetahuan tidak lagi cukup. Yang menentukan adalah kemampuan menguji kebenaran, membangun penalaran, dan mengubah pengetahuan menjadi solusi.
Taruna menempatkan agenda tersebut dalam cita-cita Indonesia menjadi negara yang lebih maju, termasuk ambisi pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 dan visi Indonesia Emas 2045. Target itu membutuhkan kerja panjang, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan dan riset hingga penciptaan ekosistem inovasi yang memberi ruang bagi talenta untuk tumbuh.
Menutup paparannya, Taruna mengingatkan bahwa impian besar tidak akan terwujud hanya melalui optimisme. Dibutuhkan kapasitas untuk membayangkan masa depan, ketekunan untuk menempuh proses, dan keyakinan untuk terus bergerak ketika menghadapi hambatan.
“To make great dreams come true, we need to have a great capacity to dream and persistence and faith in achieving the dream. (Untuk mewujudkan impian besar, kita membutuhkan kemampuan besar untuk bermimpi, serta ketekunan dan keyakinan untuk mencapai impian itu),” ujar Taruna Ikrar.
Kutipan tersebut merangkum pesan yang melampaui ruang seminar: kemajuan tidak lahir dari gagasan besar semata, tetapi dari kemampuan mengubah gagasan menjadi kerja nyata.
Bagi mahasiswa, pesan itu berarti berani membangun cita-cita sekaligus menyiapkan kompetensi. Bagi kampus, berarti memperkuat riset dan melahirkan talenta yang sanggup menjawab tantangan zaman. Bagi pemerintah dan regulator, berarti membangun kebijakan yang memberi ruang bagi inovasi tanpa kehilangan tanggung jawab melindungi masyarakat.
Begitulah. Akhirnya, masa depan farmasi dan pangan Indonesia tak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dikuasai, tetapi juga oleh seberapa kuat kolaborasi yang dibangun dan seberapa besar manfaat yang dihasilkan bagi manusia.
“Ultimately, aligning regulatory science with global demands enables Indonesian FDA to protect public health, accelerate responsible innovation, and support sustainable national economic growth. (Pada akhirnya, menyelaraskan ilmu regulasi dengan tuntutan global memungkinkan BPOM melindungi kesehatan masyarakat, mempercepat inovasi yang bertanggung jawab, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan),” Pungkas Taruna.
Itulah pekerjaan besar yang menanti: memastikan sains terus berlari, regulasi tetap tangguh, dan hasil inovasi benar-benar sampai kepada masyarakat. (AE).