Kisruh Pilrek Unhas, Prof Jamalauddin Jompa: Tudingan Money Politik di SA Itu Hoaks!

Calon Rektor Unhas yang lolos tiga besar hasil pemilihan SA. (Foto: Ist/Copy Identitas Unhas)
menitindonesia, MAKASSAR – Calon Rektor Universitas Hasanuddin yang lolos tiga besar pada pemilihan Senat Akademik Unhas beberapa waktu lalu, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M.Sc, mengklarifikasi dugaan money politik yang dilakukan cukong untuk meloloskan dirinya ke tiga besar pemilihan calon Rektor, di Baruga Pettarani, Unhas, Selasa (14/12/2021), lalu.
Guru Besar Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (Unhas) itu, mengatakan informasi yang menyebut dirinya menggunakan Cukong untuk membayar guru besar di Senat Akademik (SA) Unhas untuk meloloskannya ke tiga besar calon rektor sengaja dihembuskan pihak tertentu yang sakit hati karena tidak berhasil mendapatkan dukungan suara dari para guru besar.
“Informasi money politik ini sebenarnya sudah beredar sebelum pemilihan rektor digelar Senat Akademik, dan yang disebut-sebut akan melakukan itu salah satu calon yang terkenal punya uang. Kalau kayak saya di mana mau mendapatkan uang sebanyak itu untuk membeli suara guru besar,” kata Prof Jamaluddin Jompa, melalui keterangannya, Kamis (16/12/2021).
Yang mengherankan, kata dia, setelah pemilihan dilakukan di tingkat SA, ada oknum yang sengaja menyebarkan hoaks seolah-olah ada Cukong yang membiayai dirinya sehingga bisa lolos ke tiga besar.
Prof Jamal menambahkan, antara dirinya dengan Usman Marham–yang disebut-sebut sebagai cukong itu–sudah lama bersahabat. Sehingga, kata dia, wajar jika semua sahabatnya membantu dalam mengikuti hajatan pemilihan rektor. Bahkan, ujar Prof Jamal, dia tidak pernah meminta rekan-rekannya atau timsesnya menggunakan politik uang.
“Tidak pernah ada permintaan untuk membeli suara guru besar, dan itu tidak mungkin mau dilakukan oleh guru besar Unhas. Kalau ada sahabat membantu melobby hal itu lumrah, yang tercela kalau mempengaruhi dengan menggunakan uang,” ucapnya.
Diketahui, sebelumnya nama Prof Jamaluddin Jompa dan Prof dr Budu, SP,M(K) memang dijagokan untuk mendapatkan dukungan dari SA Unhas. Sedangkan Prof Kadir, dianggap tidak memiliki ikatan emosional dengan Anggota SA karena sudah lama brkiprah di tingkat nasional, menjadi pejabat di Kemenkes, sebagai Dirjen Pelayanan Kesehatan Masyarakat dan Kepala Badan PPSDM Kemenkes tahun 2020.
Prof Jamaluddin Jompa, hubungannya dengan guru besar di SA masih terpelihara. Bahkan nama Prof Jamal juga sering disebut-sebut akan mengisi kabinet (calon menteri) setiap ada resufle atau penyusunan kabinet.
Dalam pemilihan rektor Unhas, suara guru besar di SA Unhas yang digadang-gadang oleh Prof Abdul Kadir, justru memilih Prof Jamaluddin Jompa.
Prof Kadir, pun hanya mendapatkan tujuh suara, sedangkan Prof Jamal mendapatkan 21 suara, menempati urutan kedua setelah Prof dr Budu, Dekan Fakultas Kedokteran Unhas.
Prof Kadir tidak masuk dalam tiga besar calon rektor dan tersingkir setelah pemilihan SA digelar.
Dugaan adanya money politik mencuat, setelah mantan Kapolda Sulsel, Komjen Pol (Purn) Burhanuddin Andi membeberkan jika dirinya sempat diminta oleh Usman Marham agar membantu Prof Jamal mendapatkan dukungan suara guru besar yang berasal dari Soppeng.
Burhanuddin Andi dikenal sebagai tokoh nasional asal Soppeng yang bisa mempengaruhi Guru Besar Unhas yang berasal dari kampung halamannya. Hubungan antara Usman Marham dengan Burhanuddin Andi, juga sudah lama terjalin dan tergolong sahabat dekat.
Karena kedekatan itu, maka Usman pun menghubungi Burhanuddin Andi, berkenaan membantu melobby guru besar di SA agar memilih Prof Jamaluddin Jompa.
Terkait dengan upaya yang dilakukan Usman melobby Burhanuddin Andi itu, menurut Prof Jamal di luar sepengetahuannya. Bahkan, kata dia, yang diketahuinya justru Burhanuddin Andi memiliki kekerabatan yang dekat dengan Prof Kadir dan selama ini termasuk salah satu pihak yang mensupport Prof Kadir maju di pemilihan rektor.
“Yang mengherankan, kenapa saya dituduh menggunakan cukong, padahal Usman itu sahabat saya dan bukan kontraktor yang mengerjakan proyek di Unhas. Usman juga bukan pengusaha yang bisa disebut cukong,” ujar Prof Jamal.
Sebelumnya, dikonfirmasi kepada Prof Kadir apakah memang ada money politik di Pilrek, dia hanya mengatakan sebelum pemilihan di SA Unhas, justru dia menjadi pihak yang dicurigai mau melakukan money politik.
“Saya malah awalnya dicurigai mau melakukan money politik, padahal saya hanya memberi biaya operasional untuk tim sukses saja, tidak ada untuk membayar suara guru besar,” terangnya. (roma)