Pilrek Unhas Gaduh, Prof Jamaluddin Jompa Diduga Gunakan Jasa Cukong Untuk Lolos Tiga Besar

Prof Jamaluddin Jompa saat menyerahkan berkas pada pendaftaran calon rektor Unhas bewberapa waktu lalu. (Foto: Ist)
menitindonesia, MAKASSAR – Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Hasanuddin (Unhas) yang dilakukan oleh Senat Akademik berujung kegaduhan. 82 suara Guru Besar Unhas yang menjadi anggota Senat Akademik telah memilih calon rektor Unhas, di Baruga AP Pettarani, Selasa (14/12/2021), kemarin.
Hasilnya, tiga nama kandidat dinyatakan lolos tiga besar dengan perolehan suara, masing-masing, Prof dr Budu, SP.M(K), Ph.D, memperoleh suara terbanyak dengan 29 suara (35,37%), Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M.Sc, dengan 21 suara (24,61%) dan Prof Dr Farida Patittingi, SH, M.Hum, memperoleh 11 suara (13,41%).
Ketiga nama tersebut, akan ditetapkan sebagai calon rektor dan akan diserahkan kepada Majelis Wali Amanah (MWA) untuk selanjutkan dipilih oleh Menteri Pendidikan, Kebudyaan, Riset dan Teknologi (Medikbudristek), Nadiem Makariem.
Setelah pemilihan digelar, mencuat ke publik adanya dugaan salah satu calon menggunakan cukong (sponsor) untuk mengongkosi transaski suara dengan sejumlah oknum guru besar di Senat Akademik Unhas.
Dugaan ini mencuat setelah mantan Kapolda Sulsel, Komisaris Jenderal Pol (Purn) Burhanuddin Andi, yang juga adalah tokoh asal Soppeng, mengungkapkan, sebelum pemilihan rektor, ia dihubungi oknum pengusaha dari Kabupaten Pinrang agar mau membantu melobby Anggota Senat Akademik Unhas yang berasal dari Kabupaten Soppeng, untuk memilih Prof Jamaluddin Jompa di Pilrek tersebut.
Dikonfrimasi kepada Prof Jamaluddin Jompa melalui saluran telepon WhatsApp terkait kebenaran informasi tersebut, Prof Jamal buru-buru mengakhiri percakapan telepon setelah diberitahu jika jurnalis media ini ingin melakukan cross check atas dugaan money politik itu.
“Maaf dik, nanti saya hubungi kembali, karena sekarang saya sedang meeting,” kata Prof Jamaluddin saat dikonfirmasi, Kamis (16/12/2021), pagi.
Sementara itu, dikonfirmasi bakal calon rektor, Prof Abdul Kadir yang memperoleh tujuh suara pada Pilrek tersebut,  mengakui mengetahui adanya dugaan money politik di balik Pilrek Unhas setelah membaca percakapan dari WA Group Alumni Unhas yang menyoal masalah tersebut.
“Saya tidak mengetahui persis apakah benar ada money politik atau tidak. Tetapi informasi dari Puang Bur (Burhanuddin Andi) memang dia sempat dihubungi untuk menyelesaikan enam suara guru besar, namun beliau menolaknya, silahkan konfirmasi ke beliau,” ujar Prof Abdul Kadir.
Santernya dugaan politik uang di balik Pilrek tersebut, menjadi sorotan Alumni Unhas, Mulawarman. Dia meminta agar MWA Unhas segera membentuk tim pencari fakta untuk membuktikan apakah benar ada praktik money politik.
“MWA harus bertindak cepat dan tidak boleh membiarkan informasi ini berkembang liar. Segera bentuk Tim Independen untuk membuktikan kebenaran informasi ini,” terangnya. (roma)