Gelar Reses, Legislator Makassar Andi Suhada Sappaile Soroti Pengolahan Sampah

Anggota DPRD Makassar, Andi Suhada Sappaile, saat menggelar Reses. (ist)
menitindonesia, MAKASSAR — Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar di Kota Makassar. Penumpukan sampah rumah tangga hingga kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa yang semakin mengkhawatirkan membuat pemerintah didesak bergerak cepat mencari solusi jangka panjang.
Anggota DPRD Makassar, Andi Suhada Sappaile, menilai penanganan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi volume sampah yang terus meningkat setiap hari.
“Harus ada pemilahan sejak dari rumah. Sampah organik itu mudah terurai, sementara anorganik bisa didaur ulang dan punya nilai ekonomis. Kalau ini berjalan, beban sampah bisa jauh berkurang,” ujar Suhada, Selasa (19/5/2026).
Ia mengatakan, kebiasaan mencampur seluruh jenis sampah menjadi salah satu penyebab penanganan sampah di Makassar tidak maksimal. Padahal, pemilahan sejak dari rumah dinilai mampu mengurangi beban TPA sekaligus menekan dampak lingkungan lain seperti banjir akibat saluran tersumbat sampah.
“Makanya pemilahan sampah itu penting. Jangan semua sampah dicampur lalu dibuang begitu saja. Kalau dari rumah sudah dipilah, penanganannya jauh lebih mudah,” katanya.

BACA JUGA:
Reses di Manggala, Legislator Makassar Dibanjiri Keluhan Bau Sampah hingga Drainase

Di sisi lain, Suhada juga mendorong percepatan realisasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang direncanakan di kawasan TPA Tamangapa, Kecamatan Manggala.
Menurutnya, sistem pengelolaan sampah model open dumping yang selama ini diterapkan sudah tidak relevan jika pemerintah ingin menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Sekarang arah pemerintah adalah bagaimana sampah ini diolah menjadi energi listrik. Jadi bukan lagi hanya ditumpuk begitu saja, tapi diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” jelasnya.
Politisi tersebut juga menyoroti kondisi kawasan Antang yang disebut semakin memprihatinkan akibat tingginya timbunan sampah. Ia menilai proyek PSEL harus menjadi prioritas agar dampak lingkungan terhadap masyarakat sekitar dapat segera ditekan.
“Kondisi di Antang sekarang sangat memprihatinkan. Sampah sudah seperti gunung. Kalau program sampah jadi listrik ini berjalan, tentu manfaatnya besar bagi kota ini,” tegasnya.
Senada dengan itu, Aidir Perdana Putra mengatakan penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari perubahan pola pengelolaan di tingkat masyarakat.
Menurutnya, sampah anorganik memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik, sementara sampah organik dapat diolah secara mandiri oleh warga menjadi kompos atau bahan lain yang bermanfaat.
“Kalau masyarakat mulai memilah, sampah anorganik bisa punya nilai jual, sementara organik bisa dikelola sendiri. Jadi persoalan sampah tidak semuanya harus berakhir di TPA,” ujarnya.