menitindonesia, JAKARTA – Di tengah ancaman krisis pangan global, Indonesia justru mencatatkan capaian yang berbanding terbalik dengan tren dunia.
Saat sejumlah negara produsen utama mengalami penurunan hasil panen dan cadangan beras global terus menipis, produksi beras nasional justru melonjak hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Indonesia kini menjadi salah satu titik terang dalam peta pangan dunia di tengah tekanan yang melanda banyak negara penghasil beras.
“Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak,” kata Amran, Senin (22/6/2026).
Pernyataan tersebut merujuk pada laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang memproyeksikan produksi beras dunia pada musim 2026/2027 turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton.
Penurunan itu menjadi koreksi pertama setelah dunia menikmati dua musim panen beras rekor secara berturut-turut.
Namun di tengah tren pelemahan tersebut, Indonesia justru menunjukkan kinerja sebaliknya.
FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai 38,6 juta ton setara beras giling pada musim 2026/2027. Angka itu melonjak signifikan dibanding produksi 34 juta ton pada periode 2024/2025.
Capaian tersebut mengantarkan Indonesia menjadi produsen beras terbesar keempat di dunia, berada di bawah India, China, dan Bangladesh.
“Di tengah kontraksi global, grafik produksi Indonesia justru bergerak naik,” ujar Amran.
Posisi Indonesia semakin menonjol karena sejumlah negara produsen utama justru mengalami kemunduran produksi.
FAO mencatat produksi beras Thailand turun 6,1 persen menjadi 21,8 juta ton. Amerika Serikat bahkan mengalami penurunan hingga 15,2 persen yang menjadi level terendah dalam empat tahun terakhir.
Sementara Brasil mengalami kontraksi produksi sebesar 12,9 persen dan Kamboja turun 2,8 persen.
Secara umum, hampir seluruh kawasan dunia diperkirakan mengalami penurunan hasil panen pada musim ini, kecuali sebagian wilayah di Afrika.
FAO menilai penurunan produksi global dipicu dua faktor utama, yakni ketidakpastian iklim akibat ancaman El Nino serta melemahnya keuntungan usaha tani akibat harga jual yang stagnan di tengah tingginya biaya produksi.
Selain itu, lonjakan harga energi dan pupuk dunia juga membuat banyak petani menunda masa tanam, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap menurunnya pasokan beras dunia.
FAO memperkirakan cadangan beras global pada akhir musim 2026/2027 hanya tersisa 213,8 juta ton, turun dari 219,7 juta ton pada musim sebelumnya atau terkoreksi sekitar 2,7 persen.
Tak hanya stok yang menurun, perdagangan beras dunia juga diproyeksikan menyusut 2,1 persen menjadi 59,8 juta ton karena banyak negara mulai memperketat kebijakan impor untuk menjaga ketahanan pangan domestik.
Di tengah situasi itu, Kementerian Pertanian menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya di pasar regional.
FAO memproyeksikan sejumlah negara tetangga, termasuk Filipina dan Malaysia, akan meningkatkan volume impor beras tahun ini akibat tekanan produksi dalam negeri mereka.
Filipina yang saat ini menjadi salah satu importir beras terbesar di dunia diperkirakan harus menambah pasokan dari luar negeri di tengah penurunan produksi domestik.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan peran dalam rantai pasok pangan kawasan.