Seorang warga di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Maros, Sulawesi Selatan Menjunjung baskom berisi air dari sumur tadah hujan melewati sawah kering yang retak karena kemarau. (foto: menitindonesia)
menitindonesia, MAROS – Musim kemarau mulai membawa dampak serius di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Sedikitnya enam kecamatan dilanda krisis air bersih. Di wilayah pesisir Kecamatan Bontoa, warga bahkan terpaksa menggunakan air keruh dari sumur tadah hujan yang kini mulai mengering untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sudah lebih dari tiga bulan warga Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, kesulitan mendapatkan air bersih. Sumber air yang tersedia hanyalah sumur tadah hujan dengan kondisi air keruh dan mulai menyusut akibat kemarau yang berkepanjangan.
Meski kualitas airnya buruk dan terasa agak asin, warga tidak memiliki pilihan lain. Air tersebut hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak, mereka harus membeli air dari penjual keliling seharga Rp2.500 per jeriken.
“Agak asin karena kan dekat empang. Tapi mau apalagi, dari pada kita beli,” kata seorang Warga, Hasnah, Jumat (24/07/2026).
Perjuangan mendapatkan air pun tidak mudah. Warga harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer menuju sumur sambil membawa gerobak, ember, maupun jeriken. Aktivitas itu dilakukan hingga tiga kali setiap hari demi memenuhi kebutuhan air keluarga.
“Iye setiap hari ini begini selama kemarau. Saya tiga kali sehari pulang pergi ke sumur dari rumah pakai gerobak ini jalan kaki lebih satu kilo meter,” lanjutnya.
Untuk memenuhi kebutuhan air minum dan air untuk masak, Hasnah dan warga lainnya, pun terpaksa harus merogoh kocek hingga Rp500 ribu perbulan. Pasalnya, air hujan yang mereka tampung sebelumnya sudah lama habis.
“Paling sedikit itu Rp500 ribu perbulan. Kalau banyak juga orang di rumah pasti makin banyak juga pakai air. Sudah lama air hujan yang kita tampung habis,” ungkapnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Maros mencatat sedikitnya enam kecamatan terdampak kekeringan. Wilayah pesisir Kecamatan Bontoa menjadi daerah yang mengalami kondisi paling parah.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan pemerintah daerah bersama BPBD telah rutin menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah terdampak.
“Kami sudah menyalurkan bantuan air bersih ke enam kecamatan yang terdampak, di antaranya Bontoa, Marusu, dan Maros Baru. Wilayah-wilayah ini menjadi daerah yang paling terdampak kekeringan,” paparnya.
Selain untuk kebutuhan harian warga, Chaidir juga mengaku telah menyalurkan bantuan pompanisasi air ke lahan pertanian warga melalui dinas Pertanian. Hal ini dilakukan untuk mencegah gagal panen petani karena dampak kekeringan.
“Begitupun untuk lahan pertanian, kita sudah lakukan pompanisasi ke areal sawah yang terdampak agar tidak gagal panen,” terangnya.
Meski bantuan air bersih terus disalurkan, warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan solusi jangka pendek. Mereka meminta adanya langkah permanen agar krisis air bersih yang selalu berulang setiap musim kemarau dapat segera teratasi, setelah puluhan tahun menjadi persoalan yang belum terselesaikan.