Kepala BPOM RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyampaikan pandangan Indonesia mengenai penguatan regulatory science, harmonisasi regulasi global, dan implementasi prinsip WHO 3Rs dalam pengawasan produk biologis pada Global Bio Conference (GBC) 2026 di Seoul, Republik Korea. Pada kesempatan yang sama, delegasi BPOM yang dipimpin Rita Endang, Pakar Ahli Kepala BPOM Bidang Pengawasan Farmasi, turut mengikuti berbagai forum strategis yang memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama regulatori dan inovasi biofarmasi internasional.
Di tengah perlombaan global mengembangkan vaksin, terapi gen, dan produk biologis generasi baru, BPOM tidak lagi hanya menjadi pengikut arus. Dari Seoul, Korea Selatan, Indonesia menunjukkan diri sebagai salah satu suara penting dalam percakapan masa depan regulasi biofarmasi dunia.
Laporan Rita Endang (Pakar Ahli Bidang Pengawasan Farmasi), dari Seoul Republik Korea.
menitindonesia, JAKARTA — Di saat negara-negara berlomba mempercepat inovasi biomedis, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) justru membawa pesan yang lebih besar: kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pengawasan yang kuat, etika yang terjaga, dan kepercayaan publik yang kokoh.
Pesan itu disampaikan langsung Kepala BPOM RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., secara daring, sebagai salah satu keynote speaker dalam Global Bio Conference (GBC) 2026 yang berlangsung pada 26–28 Agustus 2026 di Seoul, Republik Korea. Kehadiran Taruna Ikrar di forum internasional tersebut menandai semakin kuatnya posisi Indonesia dalam percakapan global mengenai masa depan pengawasan produk biologis, vaksin, serta inovasi biofarmasi.
Global Bio Conference merupakan salah satu forum biofarmasi paling bergengsi di dunia yang mempertemukan regulator, ilmuwan, akademisi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan kesehatan dari berbagai negara. Tahun ini, konferensi mengusung tema “The Great Leap in Bio, Accelerating Innovation” dan dihadiri lebih dari 5.000 peserta dari berbagai belahan dunia.
Konferensi dibuka oleh Pemerintah Republik Korea melalui Menteri Food and Drug Safety (MFDS), Oh Yu Kyoung, yang menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dan harmonisasi regulasi untuk mempercepat kemajuan industri biofarmasi global. Kehadiran tokoh-tokoh dunia, termasuk Dr. Jeremy Farrar, Chief Scientist WHO, semakin menegaskan posisi GBC sebagai arena strategis untuk membahas arah masa depan kesehatan dunia.
Di forum inilah Indonesia tampil percaya diri. Taruna Ikrar menegaskan bahwa perkembangan teknologi kesehatan yang berlangsung sangat cepat menuntut regulator untuk terus memperkuat regulatory science, memperluas kerja sama internasional, serta membangun harmonisasi dan regulatory reliance antarotoritas pengawas di berbagai negara.
Menurut Taruna Ikrar, pengawasan produk biologis di era modern tidak cukup hanya berorientasi pada kepatuhan administratif. Regulator harus mampu menjadi fasilitator inovasi sekaligus penjaga keselamatan masyarakat melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan bukti ilmiah.
“Indonesia bergerak menuju sistem pengawasan produk biologis yang berbasis ilmu pengetahuan, beretika, dan dipercaya secara global,” tegas Taruna Ikrar.
BPOM Dorong Revolusi 3R dan Pengawasan Vaksin Berbasis Risiko
Komitmen tersebut tidak berhenti pada tataran gagasan. Pada sesi lanjutan tanggal 27 Agustus 2026, BPOM memaparkan langkah konkret transformasi regulasi melalui presentasi bertajuk “Advancing Regulatory Frameworks for Biological Products through in vitro Lot Release Testing in Support of WHO 3Rs Guideline Implementation.”
Dalam forum tersebut, BPOM memperkenalkan berbagai inovasi kebijakan yang mendukung implementasi prinsip Replacement, Reduction, and Refinement (3Rs) sebagaimana direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Prinsip ini bertujuan mengurangi penggunaan hewan uji melalui pengembangan metode alternatif yang lebih modern, efektif, dan relevan secara ilmiah.
Taruna Ikrar menjelaskan bahwa BPOM terus mendorong penggunaan metode pengujian inovatif berbasis in vitro sebagai bagian dari transformasi sistem pengawasan produk biologis nasional. Pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperkuat aspek etika dalam proses pengujian mutu produk biologis dan vaksin.
Transformasi itu diterapkan melalui pendekatan berbasis risiko dalam proses vaccine lot release. Sistem ini mengombinasikan evaluasi dokumen, inspeksi fisik, pengujian laboratorium apabila diperlukan, serta pengambilan keputusan regulatori yang terukur dan berbasis data ilmiah.
Melalui pendekatan tersebut, setiap batch vaksin yang akan diedarkan dipastikan memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat sebelum sampai ke masyarakat. Pada saat yang sama, pengujian berulang yang tidak lagi memberikan nilai tambah ilmiah dapat diminimalkan.
Langkah transformasi BPOM juga diperkuat dengan penyusunan Guidelines on the Application of 3Rs Principles in Quality Testing of Biological Products and Vaccines, digitalisasi sertifikasi lot release melalui platform Biolegacy, eksplorasi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam evaluasi berbasis risiko, hingga penguatan prinsip etika penggunaan hewan ketika metode alternatif belum memungkinkan diterapkan.
Kehadiran Indonesia dalam GBC 2026 tidak hanya diwakili oleh Kepala BPOM. Delegasi nasional juga diperkuat oleh Pakar Ahli Kepala BPOM Bidang Pengawasan Farmasi, Direktur Standardisasi Obat NPPZA, Kepala BPPB, serta tim teknis BPOM yang mengikuti berbagai sesi strategis seperti Asia-Pacific National Control Laboratory Network Workshop dan Workshop on Animal Testing Alternatives for Biologicals.
Partisipasi aktif tersebut menjadi ruang penting untuk bertukar pengalaman mengenai validasi metode baru, penerimaan regulatori, implementasi metode pengujian alternatif, serta penguatan jejaring laboratorium pengawasan produk biologis dan vaksin di kawasan Asia-Pasifik.
Lebih jauh, keterlibatan Indonesia dalam Global Bio Conference 2026 menunjukkan bahwa diplomasi regulasi kini menjadi salah satu instrumen strategis dalam memperkuat posisi bangsa di tengah pesatnya perkembangan bioteknologi dunia.
Ketika berbagai negara berlomba mengembangkan vaksin generasi baru, terapi sel, terapi gen, dan inovasi biomedis lainnya, Indonesia melalui BPOM tidak hanya menjadi pengamat. Di bawah kepemimpinan Taruna Ikrar, Indonesia tampil sebagai mitra yang aktif berkontribusi dalam membentuk standar, pendekatan, dan arah pengawasan produk biologis global.
Dari Seoul, pesan yang dibawa BPOM sangat jelas: percepatan inovasi harus berjalan beriringan dengan penguatan regulatory science, harmonisasi internasional, transparansi, dan tanggung jawab bersama untuk melindungi kesehatan masyarakat dunia. Dengan posisi tersebut, Indonesia tidak hanya mengikuti perkembangan global, tetapi turut mengambil bagian dalam menentukan masa depan biofarmasi internasional.